Mengapa Asuransi Syariah Butuh Sistem Akuntansi yang Kuat?


Ditulis oleh Saphira Nazwa Putri 

Mahasiswa IAI SEBI 

Wartanusantara.id - Perkembangan industri keuangan syariah di Indonesia menunjukkan tren yang semakin positif. Salah satu sektor yang ikut tumbuh adalah asuransi syariah (takaful). Kehadiran asuransi syariah menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin mendapatkan perlindungan finansial tanpa melanggar prinsip-prinsip Islam. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, ada satu aspek penting yang sering luput dari perhatian publik, yaitu sistem akuntansi.

Padahal, justru dari sistem akuntansi inilah kepercayaan masyarakat terhadap asuransi syariah dibangun. Tanpa sistem akuntansi yang kuat, transparan, dan akuntabel, konsep tolong-menolong yang menjadi ruh asuransi syariah bisa kehilangan maknanya.

Asuransi Syariah Bukan Sekadar “Asuransi Tanpa Riba”

Masih banyak masyarakat yang memahami asuransi syariah hanya sebagai “asuransi yang bebas riba”. Padahal, konsep asuransi syariah jauh lebih luas dari itu. Dalam asuransi syariah, peserta saling menolong melalui dana tabarru’, yaitu dana kebajikan yang dikumpulkan untuk membantu peserta lain yang terkena musibah.

Perusahaan asuransi syariah bukanlah pemilik dana tersebut, melainkan pengelola (operator) yang diberi amanah untuk mengelola dana peserta secara profesional dan sesuai prinsip syariah. Di sinilah peran akuntansi menjadi sangat krusial: memastikan bahwa pengelolaan dana dilakukan secara benar, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Mengapa Sistem Akuntansi Menjadi Sangat Penting?

Setidaknya ada beberapa alasan mengapa asuransi syariah sangat membutuhkan sistem akuntansi yang kuat.

1. Menjaga Amanah dan Kepercayaan Peserta

Dana yang dikelola oleh asuransi syariah bukan sepenuhnya milik perusahaan, melainkan milik para peserta. Tanpa pencatatan yang jelas dan sistem pelaporan yang rapi, sangat sulit memastikan bahwa dana tersebut benar-benar digunakan sesuai tujuan awalnya.

Sistem akuntansi yang baik membantu menunjukkan:

  • Berapa dana yang terkumpul,
  • Digunakan untuk apa saja,
  • Berapa surplus atau defisit dana tabarru’,
  • Bagaimana pembagian hasil pengelolaan dilakukan.

Transparansi inilah yang menjadi kunci kepercayaan masyarakat.

2. Membedakan Dana Peserta dan Dana Perusahaan

Salah satu ciri khas asuransi syariah adalah pemisahan dana antara:

  • Dana peserta (tabarru’),
  • Dana perusahaan (ujrah atau fee pengelolaan).

Tanpa sistem akuntansi yang kuat, pemisahan ini bisa menjadi kabur dan rawan menimbulkan masalah, baik dari sisi syariah maupun tata kelola. Akuntansi memastikan bahwa masing-masing dana dicatat secara terpisah, dikelola secara profesional, dan dilaporkan secara jelas.

3. Mewujudkan Prinsip Keadilan

Prinsip keadilan adalah salah satu fondasi utama dalam ekonomi Islam. Dalam konteks asuransi syariah, keadilan berarti:

  • Tidak ada pihak yang dirugikan,
  • Hak dan kewajiban peserta serta pengelola tercatat dengan jelas,
  • Surplus underwriting dibagikan sesuai ketentuan.

Semua itu hanya bisa dilakukan jika sistem akuntansinya tertata dengan baik dan konsisten.

Akuntansi sebagai Alat Kontrol dan Pengawasan

Sistem akuntansi bukan hanya alat pencatat, tetapi juga alat kontrol. Dengan laporan keuangan yang baik:

  • Manajemen dapat mengevaluasi kinerja perusahaan,
  • Dewan Pengawas Syariah dapat memastikan kepatuhan terhadap prinsip syariah,
  • Regulator dan masyarakat dapat menilai kesehatan perusahaan asuransi syariah.

Tanpa laporan keuangan yang jelas dan dapat dipercaya, sulit membedakan apakah suatu perusahaan benar-benar dikelola secara profesional atau hanya sekadar memakai label “syariah”.

Tantangan di Lapangan

Meskipun penting, penerapan akuntansi asuransi syariah masih menghadapi sejumlah tantangan, di antaranya:

  • Keterbatasan SDM yang benar-benar memahami akuntansi syariah,
  • Kompleksitas transaksi yang berbeda dengan asuransi konvensional,
  • Kurangnya literasi masyarakat tentang bagaimana dana mereka dikelola.

Tantangan ini harus dijawab dengan peningkatan kualitas pendidikan, pelatihan, dan penguatan sistem internal perusahaan asuransi syariah.

Peran Teknologi dalam Memperkuat Akuntansi Asuransi Syariah

Di era digital, teknologi bisa menjadi solusi untuk memperkuat sistem akuntansi. Penggunaan sistem informasi akuntansi yang terintegrasi dapat:

  • Mempercepat proses pencatatan,
  • Mengurangi risiko kesalahan manusia,
  • Meningkatkan akurasi dan transparansi laporan keuangan.

Dengan sistem digital yang baik, pengelolaan dana peserta bisa dipantau secara lebih rapi, tertib, dan akuntabel.

Dampak Jangka Panjang bagi Industri Asuransi Syariah

Jika sistem akuntansi asuransi syariah terus diperkuat, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh perusahaan, tetapi juga oleh:

  • Masyarakat, karena kepercayaan akan meningkat,
  • Industri keuangan syariah, karena reputasinya semakin baik,
  • Perekonomian nasional, karena sektor keuangan yang sehat akan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan.

Sebaliknya, jika aspek ini diabaikan, maka potensi krisis kepercayaan akan selalu mengintai.

Penutup

Asuransi syariah bukan hanya soal mengganti bunga dengan istilah lain atau menghapus unsur riba. Lebih dari itu, asuransi syariah adalah tentang amanah, keadilan, dan transparansi. Semua nilai itu hanya bisa dijaga dengan satu fondasi penting: sistem akuntansi yang kuat.

Tanpa akuntansi yang baik, asuransi syariah berisiko kehilangan ruhnya. Namun, dengan sistem yang profesional dan transparan, asuransi syariah bisa benar-benar menjadi solusi perlindungan keuangan yang adil, aman, dan penuh keberkahan bagi masyarakat.

 

0/Post a Comment/Comments