Perang Jawa (The Java War) yang berlangsung tahun 1825-1830 bukanlah pemberontakan biasa. Ini adalah perang suci (Sabil) yang membuat Belanda kehilangan 15.000 tentara dan menguras kas negara hingga 20 Juta Gulden (nilai yang fantastis saat itu).
Saking bangkrutnya, pasca perang ini Belanda terpaksa menerapkan Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang kejam demi menambal kerugian negara.
Bagaimana cara Diponegoro melakukannya? Berikut bedah strateginya.
1. Pemicu: Patok di Atas Makam Leluhur
Perang ini tidak meletus tiba-tiba. Ketegangan memuncak ketika Belanda (Patih Danurejo IV) memasang patok jalan yang melintasi makam leluhur Diponegoro di Tegalrejo tanpa izin.
Bagi Diponegoro, ini bukan soal tanah, tapi soal harga diri dan agama. Ia mencabut patok-patok itu dan menggantinya dengan tombak. Genderang perang pun ditabuh.
2. Strategi Gerilya (Hit and Run)
Diponegoro sadar, jika perang terbuka (head-to-head) di tanah lapang, pasukannya akan kalah oleh meriam Belanda. Maka, ia menerapkan taktik:
- Mobilisasi Alam: Menggunakan hutan, gua (Gua Selarong), dan pegunungan sebagai benteng.
- Serangan Kilat: Menyerang konvoi logistik Belanda secara tiba-tiba, lalu menghilang ke dalam hutan sebelum bantuan musuh datang.
- Rust en Orde (Kacaukan Formasi): Taktik ini membuat pasukan Belanda frustrasi, lelah, dan kena mental karena melawan "hantu".
3. Koalisi Lintas Golongan (Ulama & Kyai)
Kekuatan Diponegoro bukan hanya pada pedang, tapi pada sorban. Ia menyatukan dua kekuatan besar di Jawa: Kaum Bangsawan (Keraton) dan Kaum Santri (Pesantren). Tokoh seperti Kyai Mojo (penasihat spiritual) dan Sentot Ali Basah Prawirodirjo (panglima muda jenius) membuat moral pasukan Diponegoro sangat tinggi karena meyakini ini adalah Jihad Fi Sabilillah.
4. Taktik Licik Belanda: Benteng Stelsel & Pengkhianatan
Kewalahan melawan gerilya, Jenderal De Kock akhirnya menerapkan strategi Benteng Stelsel (membangun ratusan benteng kecil untuk mempersempit ruang gerak Diponegoro).
Namun, itu pun belum cukup. Belanda akhirnya menggunakan cara paling kotor: Pengkhianatan. Pada 28 Maret 1830, Diponegoro diundang untuk berunding di Magelang dengan janji gencatan senjata. Namun, beliau justru ditangkap saat perundingan berlangsung.
Sebuah tindakan yang oleh masyarakat Eropa sendiri saat itu dianggap memalukan dan tidak ksatria.
Kesimpulan
Meskipun Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Makassar hingga wafat, Perang Jawa telah membuktikan satu hal: Bahwa semangat izzah (harga diri) Islam dan taktik cerdas mampu mengguncang kekuatan imperialis terbesar sekalipun.
Beliau kalah secara militer, tapi menang secara moral dan sejarah.
Baca Juga Artikel Sejarah Islam Lainnya: 👉 [Teori Masuknya Islam: Gujarat atau Mekkah?] 👉 [Runtuhnya Baghdad: Tragedi Sungai Tinta]
Daftar Pustaka (Referensi)
Carey, Peter. (2014). Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855. (Buku babon/wajib tentang Diponegoro karya sejarawan Inggris).
Sagimun M.D. (1986). Pangeran Diponegoro: Pahlawan Nasional. Jakarta: Bina Aksara.
Yudhi, Saleh. (2018). Jejak-Jejak Perang Jawa. Yogyakarta: Saujana.


