ANKARA, Wartanusantara.id – Kabar mengejutkan datang dari kancah diplomasi global. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi mengundang Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, untuk menjadi Anggota Pendiri (Founding Member) dalam inisiatif terbarunya yang ambisius: Dewan Perdamaian (Board of Peace).
Langkah ini dianggap sebagai "game changer" dalam upaya penyelesaian konflik di Gaza yang tak kunjung usai. Undangan tersebut disampaikan langsung melalui surat resmi yang dikirimkan Trump pada Jumat, 16 Januari 2026.
Apa Itu Dewan Perdamaian? Inisiatif ini bukan sekadar forum diskusi biasa. Dewan Perdamaian dibentuk sebagai bagian dari "Rencana Komprehensif Mengakhiri Konflik Gaza" yang diusung oleh Trump. Tujuannya sangat spesifik dan berat:
- Menjamin keamanan di wilayah Gaza pasca-konflik.
- Memimpin rekonstruksi besar-besaran di jalur Gaza yang luluh lantak.
- Menjadi badan pengawas internasional baru yang didukung oleh Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803.
Kenapa Erdogan? Dipilihnya Erdogan sebagai salah satu "Founding Member" bukan tanpa alasan. Turki dinilai memiliki posisi strategis dan pengaruh kuat di kawasan Timur Tengah. Direktur Komunikasi Kepresidenan Turki, Burhanettin Duran, mengonfirmasi undangan ini dan menyebutnya sebagai pengakuan atas peran vital Turki dalam stabilitas regional.
"Presiden Trump, dalam kapasitasnya sebagai Ketua Pendiri Dewan Perdamaian, mengirim surat mengundang Presiden kami, Bapak Recep Tayyip Erdogan, untuk menjadi anggota pendiri," ujar Duran dalam pernyataannya.
Siapa Lagi yang Diajak? Ternyata Erdogan tidak sendirian. Trump sepertinya sedang membentuk "The Avengers" versi diplomasi. Beberapa pemimpin dunia lain yang dikabarkan juga menerima undangan elit ini antara lain:
- Javier Milei (Presiden Argentina)
- Abdel Fattah el-Sisi (Presiden Mesir)
- Mark Carney (Perdana Menteri Kanada)
Selain para kepala negara, sebuah "Dewan Eksekutif" juga dibentuk untuk mendukung operasional harian, yang diisi oleh nama-nama beken seperti mantan PM Inggris Tony Blair dan menantu Trump, Jared Kushner. Bahkan, Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, juga masuk dalam jajaran eksekutif ini.
Reaksi Dunia Langkah Trump ini menuai pro dan kontra. Israel dikabarkan "meradang" karena merasa susunan dewan ini tidak dikonsultasikan terlebih dahulu dengan mereka. Namun bagi banyak pihak, pelibatan negara-negara kunci seperti Turki dan Mesir dianggap sebagai langkah realistis jika dunia benar-benar ingin melihat Gaza bangkit kembali.
Apakah "Dewan Perdamaian" ini akan sukses atau hanya jadi macan kertas? Kita tunggu tanggal mainnya!
Sumber: Anadolu Agency (AA), Berbagai Sumber Internasional.