Wisuda Sarjana Ke-XVII STAI Sayid Sabiq Indramayu: Mengokohkan Peran Lulusan dalam Kontribusi Sosial di Era Digital


Indramayu, Wartanusantara.id - 
Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sayid Sabiq Indramayu menyelenggarakan Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana Ke-XVII Tahun Akademik 2025/2026 pada Sabtu (17/01/2026) bertempat di Ballroom Hotel Swiss-Belinn Indramayu. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi kampus untuk menegaskan peran pendidikan tinggi Islam dalam merespons dinamika era digital dan kebutuhan masyarakat.

Pada wisuda tahun ini, STAI Sayid Sabiq Indramayu meluluskan 62 sarjana dari dua program studi, yakni Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Perbankan Syariah (PSy).

Ketua STAI Sayid Sabiq Indramayu, Dr. H. Didin Kurniadin, M.Pd., M.Si., dalam sambutannya menyampaikan bahwa gelar sarjana bukan sekadar pengakuan akademik, tetapi juga mandat intelektual dan moral untuk berkontribusi nyata bagi masyarakat.

“Setiap lulusan harus mampu memberikan dampak positif bagi kemajuan bangsa. Kompetensi akademik harus dibarengi dengan kontribusi sosial yang terukur,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa pada era disrupsi digital, lulusan perguruan tinggi dituntut untuk memiliki integritas karakter, serta menguasai soft skills strategis seperti kemampuan komunikasi, kolaborasi, dan adaptabilitas dalam menghadapi perubahan yang sangat cepat.

Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Hj. Aan Khasanah, M.Ed. (Wakil Koordinator II KOPERTAIS Jawa Barat) mengutip pandangan sejarawan global Yuval Noah Harari yang menegaskan bahwa perubahan historis tidak mengenal ruang dan waktu, sehingga kemampuan adaptasi menjadi faktor penentu eksistensi.

Prof. Aan juga mengutip pandangan pakar psikologi Carol Dweck yang memperkenalkan konsep growth mindset, yaitu pola pikir untuk terus belajar dan mengembangkan diri.

“Mindset inilah yang seharusnya dimiliki lulusan STAI Sayid Sabiq Indramayu agar tetap relevan di tengah percepatan teknologi,” tuturnya.

Lebih lanjut, Prof. Aan menyoroti fenomena global terkait automasi dan AI/IoT yang telah menggantikan sebagian pekerjaan manusia, sekaligus membuka peluang baru berbasis digital. Karena itu, lulusan perguruan tinggi dinilai perlu melakukan upskilling dan reskilling agar mampu bersaing di pasar kerja era baru.

Ia juga mengomentari menurunnya minat studi pada jenjang perguruan tinggi yang dipengaruhi oleh realitas bahwa banyak pekerjaan digital masa kini yang tidak lagi mensyaratkan kualifikasi gelar sarjana, melainkan kualifikasi kompetensi teknis.

Dalam konteks lembaga pendidikan, Prof. Aan mengutip pemikiran Peter Senge, pengembang konsep learning organization, bahwa lembaga yang berkelanjutan adalah lembaga yang mampu terus belajar, bertransformasi, dan keluar dari zona nyaman. Pesan ini menguatkan pentingnya STAI Sayid Sabiq Indramayu untuk senantiasa melakukan inovasi kelembagaan sesuai tuntutan zaman.

Pada prosesi wisuda, Rokhmat Firdaus, S.Pd., dari Program Studi Pendidikan Agama Islam ditetapkan sebagai lulusan terbaik. Selain meraih predikat cum laude, ia aktif dalam berbagai organisasi tingkat kampus maupun daerah, serta memiliki rekam jejak kegiatan sosial pendidikan dan prestasi dalam kompetisi sastra.

STAI Sayid Sabiq Indramayu juga memberikan Anugerah Bakti Insani kepada almarhumah Dra. Hj. Nelly Maryani, M.Si., almarhumah Lilis Suryani, S.Pd., M.Si., dan Suhendro, S.Psi., M.Si., atas dedikasi, keteladanan, dan kontribusi mereka dalam merintis dan mengembangkan STAI Sayid Sabiq Indramayu.

0/Post a Comment/Comments