JAKARTA, Wartanusantara.id – Impian Indonesia untuk memiliki kapal induk (aircraft carrier) pertama dalam sejarah kini bukan lagi sekadar angan-angan. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, kebutuhan akan pangkalan udara terapung untuk menjaga kedaulatan laut NKRI kini mulai terwujud lewat langkah strategis Kementerian Pertahanan.
Militer Indonesia bersiap menyambut era baru dengan mengakuisisi kapal induk eks-Angkatan Laut Italia, ITS Giuseppe Garibaldi, yang diproyeksikan berduet dengan drone tempur canggih asal Turki, Bayraktar TB3.
Lantas, sejauh mana persiapan "duet maut" ini dan apa dampaknya bagi pertahanan maritim kita?
1. Kapal Induk Garibaldi: Pangkalan Terapung Penjaga Nusantara
Kementerian Pertahanan telah menyatakan bahwa Indonesia akan mendapatkan kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi secara hibah dari Pemerintah Italia. Saat ini, proses negosiasi dan kelengkapan administrasi untuk retrofit (penyesuaian spesifikasi) sedang dimatangkan dengan pihak galangan kapal Fincantieri.
Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali telah mengonfirmasi bahwa kapal induk pertama milik Indonesia ini ditargetkan tiba sebelum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) TNI pada 5 Oktober 2026 mendatang.
Kehadiran kapal induk sepanjang 180,2 meter ini adalah game changer bagi doktrin pertahanan laut kita. Dengan fasilitas yang memadai dan daya jelajah yang tinggi, kapal ini dinilai sangat ideal untuk mendukung operasi militer maupun misi kemanusiaan di batas-batas terluar nusantara.
2. Bayraktar TB3: "Cakar Tajam" Buatan Turki
Sebuah kapal induk tentu membutuhkan alutsista udara untuk menjadi "cakar"-nya. Indonesia mengambil langkah taktis dengan tidak memaksakan penggunaan jet tempur konvensional, melainkan menyiapkan Garibaldi sebagai pangkalan terapung untuk armada drone tempur canggih.
Di sinilah peran raksasa teknologi pertahanan Turki, Baykar, masuk. Indonesia telah menyepakati pengadaan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) jenis Bayraktar TB3. Menariknya, drone ini memang merupakan salah satu varian intai tempur andalan Baykar.
Lebih membanggakannya lagi, perusahaan pertahanan lokal Indonesia, Republikorp, telah menandatangani kesepakatan resmi dengan Baykar. Kerja sama ini memungkinkan pendirian perusahaan patungan (Joint Venture Company) di Indonesia yang akan berfokus pada manufaktur dan perakitan drone Bayraktar TB3 secara lokal. Langkah ini memastikan kemandirian teknologi pertahanan kita melalui transfer teknologi yang nyata.
3. Tameng Baja Kedaulatan Laut NKRI
Kombinasi ITS Giuseppe Garibaldi dan Bayraktar TB3 memberikan efek gentar (deterrence effect) yang luar biasa. Jika ada kapal asing yang mencoba mengganggu kedaulatan di ZEE Indonesia, armada kapal induk kita bisa menerbangkan drone dari tengah laut untuk melakukan pengawasan atau tindakan tegas tanpa harus menunggu bantuan dari pangkalan darat yang jauh.
Menjaga laut seluas Nusantara butuh inovasi dan keberanian strategis. Tahun 2026 ini akan dicatat dengan tinta emas sebagai momen di mana TNI AL bersiap menyambut tameng baja baru yang akan memastikan kedaulatan maritim Indonesia tetap tak tertandingi. Jalesveva Jayamahe!
Sumber Artikel:
Diolah dari Kompas, BeritaSatu, MetroTV, Breaking Defense, dan rilis resmi Republikorp (2025-2026).
