JAKARTA, Wartanusantara.id – Di tengah kecamuk perang terbuka bersandikan Operation Epic Fury, militer Amerika Serikat baru saja menelan kerugian yang sangat masif. Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) dilaporkan sukses membobol sistem pertahanan udara AS di Arab Saudi dan menghancurkan salah satu aset udara paling berharga milik Pentagon: Pesawat E-3 Sentry AWACS.
Serangan rudal balistik dan rentetan drone kamikaze Iran tersebut menghantam Pangkalan Udara Pangeran Sultan (Prince Sultan Air Base) di Arab Saudi pada 27 Maret 2026.
1. Kerugian Miliaran Dolar dalam Semalam
Berdasarkan laporan Air & Space Forces Magazine dan konfirmasi citra satelit terbaru, serangan brutal Iran tidak hanya melukai belasan tentara AS, tetapi juga menghancurkan sebuah pesawat peringatan dini dan komando udara E-3G Sentry AWACS. Selain itu, beberapa pesawat pengisi bahan bakar (air refuelling) KC-135 Stratotanker yang sedang parkir di apron juga ikut rusak berat akibat ledakan.
Kerugian hancurnya E-3 Sentry ini bukan main-main. Satu unit pesawat dengan radar putar raksasa di atas lambungnya ini ditaksir bernilai hingga 500 juta dolar AS (sekitar Rp7,5 Triliun)!
2. Kenapa E-3 Sentry Sangat Vital?
Pesawat E-3 Sentry sering dijuluki "Eye in the Sky" (Mata di Langit) atau "Mata Dewa". Pesawat ini bukan pesawat tempur yang membawa bom, melainkan sebuah pusat komando militer terbang (Airborne Warning and Control System).
Dengan radar canggihnya, E-3 AWACS mampu memindai seluruh ruang udara, melacak pergerakan jet tempur musuh, mendeteksi peluncuran rudal dari jarak ratusan kilometer, dan secara langsung memandu jet tempur siluman AS (seperti F-35 dan F-22) maupun jet Israel untuk menyerang target di daratan Iran secara presisi.
3. Dampak Fatal bagi Kekuatan Udara AS-Israel
Lumpuhnya pesawat komando ini menjadi pukulan telak dan mengubah peta kekuatan di udara. Pakar pertahanan udara menilai kehilangan E-3 AWACS akan berdampak sangat fatal bagi koalisi AS-Israel, di antaranya:
- Timbulnya Titik Buta (Blind Spot): Tanpa AWACS, kesadaran situasional (situational awareness) armada jet tempur AS dan Israel akan menurun drastis. Mereka kini rentan terhadap serangan udara kejutan dari jet tempur atau sistem pertahanan udara jarak jauh Iran.
- Operasi Udara Jadi Kacau: Pengaturan ribuan sorti penerbangan jet tempur di langit Timur Tengah yang padat berpotensi kacau. Koordinasi penargetan fasilitas nuklir dan militer Iran menjadi jauh lebih lambat dan tidak efisien.
- Kelelahan Armada: Jumlah pesawat E-3 Sentry milik AS saat ini sangat terbatas dan sudah cukup tua. Hilangnya satu unit andalan akan memaksa pesawat AWACS yang tersisa untuk terbang non-stop, yang berisiko mempercepat keausan mesin dan melelahkan para kru.
Kesimpulan
Serangan jitu Iran ke Pangkalan Pangeran Sultan membuktikan bahwa payung udara pangkalan militer AS di Timur Tengah tidak sepenuhnya kebal. Kehancuran "Mata dan Otak" operasi udara AS ini memberi sinyal kuat: Iran tidak hanya bertahan, tetapi secara cerdas menargetkan titik kelemahan paling krusial dari operasi gabungan AS-Israel.
Berapa lama Amerika bisa mempertahankan supremasi udaranya jika pesawat komandonya terus diburu? Kita tunggu perkembangan selanjutnya!
Sumber Referensi: Diolah dari Air & Space Forces Magazine, The Wall Street Journal, dan iNews (Maret 2026).
