JAKARTA, Wartanusantara.id – Meledaknya perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini bukan sekadar berita luar negeri yang jauh dari keseharian kita. Efek dominonya sudah mulai menghantam urat nadi perekonomian di Asia Tenggara, dan kelompok pekerja lepas seperti pengemudi ojek online (ojol) menjadi korban pertama yang paling menderita.
Sebuah potret memilukan datang dari negara tetangga, Vietnam. Akibat terganggunya pasokan minyak mentah global karena blokade Selat Hormuz oleh Iran, harga bahan bakar di Vietnam melonjak tak terkendali. Lantas, apakah ini menjadi "alarm bahaya" bagi nasib ojol di Indonesia?
1. Jeritan Ojol Vietnam: Separuh Gaji Hangus Dibakar Bensin
Kondisi para pahlawan jalanan di Vietnam saat ini bisa dibilang seperti "hidup segan mati tak mau". Berdasarkan laporan terbaru, lonjakan harga bahan bakar membuat biaya operasional mereka membengkak parah. Harga solar di Vietnam naik lebih dari dua kali lipat, sementara bensin meroket hampir 30 persen.
Seorang pengemudi ojol di Kota Ho Chi Minh mengaku bahwa setengah dari hasil keringatnya kini hanya habis untuk diisikan ke tangki motor. Bayangkan saja, dari hasil narik 7-8 jam sehari yang menghasilkan 240.000 Dong (sekitar Rp150.000), sebanyak 120.000 Dong (Rp75.000) harus disetor ke pom bensin.
"Saya tidak bisa bertahan hidup dengan jumlah uang ini di kota," keluhnya. Situasi mencekik ini membuat banyak driver di Vietnam memilih gantung helm sementara karena pendapatan tak lagi sebanding dengan lelah dan risiko di jalan. Tak hanya itu, warga kelas bawah bahkan mulai kembali menggunakan kayu bakar untuk memasak demi berhemat.
2. Bagaimana Nasib Ojol Nusantara Jika BBM Bersubsidi Dinaikkan?
Jeritan dari Vietnam ini seolah menjadi cermin yang menakutkan bagi jutaan mitra ojol di Indonesia. Seperti kita tahu, Indonesia juga sangat bergantung pada impor minyak mentah global. Jika harga minyak dunia terus meroket akibat perang dan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), bukan tidak mungkin pemerintah pada akhirnya terpaksa menaikkan harga BBM bersubsidi (Pertalite dan Solar).
Jika skenario buruk itu terjadi, dampaknya bagi ojol Tanah Air bisa jauh lebih mengerikan dibandingkan Vietnam. Mengapa?
- Pertama, Tarif yang Sudah Minim: Saat ini saja, banyak asosiasi pengemudi ojol di Indonesia yang merasa tarif per kilometer masih terlalu rendah ditambah potongan aplikasi yang dirasa mencekik. Jika BBM bersubsidi naik tanpa diikuti kenaikan tarif aplikasi yang signifikan, pendapatan bersih (take home pay) mereka akan langsung terjun bebas.
- Kedua, Efek Domino Harga Sembako: Kenaikan BBM di Indonesia selalu identik dengan meroketnya harga kebutuhan pokok. Ojol tidak hanya harus membayar bensin lebih mahal, tetapi juga harus membeli beras, lauk, dan susu anak dengan harga selangit.
- Ketiga, Ancaman Hilangnya Penumpang: Jika aplikator memutuskan menaikkan tarif layanan demi mengimbangi harga BBM, daya beli konsumen (penumpang) otomatis akan menurun. Masyarakat akan lebih memilih berhemat, beralih ke kendaraan pribadi, atau menggunakan transportasi umum konvensional, yang ujung-ujungnya membuat ojol sepi orderan.
Kesimpulan
Nestapa yang menimpa pengemudi ojol di Vietnam adalah peringatan keras (early warning) bagi pemerintah Indonesia. Di tengah ancaman krisis energi global, menjaga stabilitas harga BBM bersubsidi adalah benteng terakhir untuk melindungi daya beli masyarakat bawah. Jika benteng ini jebol, jeritan yang sama—atau bahkan lebih keras—akan segera terdengar di jalanan ibu kota kita.
Sumber Referensi: Diolah dari RMOL.id (6 April 2026) dan analisis ekonomi Redaksi.
