Oleh Fatiya Muthmainnah
Bulan ini mau nabung, tapi kayaknya butuh healing dulu
Kalimat seperti ini mungkin terdengar sederhana, tetapi cukup menggambarkan dilema yang sering dihadapi generasi muda. Setelah menjalani rutinitas kuliah, pekerjaan, tugas, organisasi, dan berbagai aktivitas lainnya, keinginan untuk memberikan penghargaan kepada diri sendiri tentu menjadi hal yang wajar. Nongkrong bersama teman, jalan-jalan, menikmati makanan favorit, atau sekadar menghabiskan waktu untuk melakukan hal yang disukai sering dianggap sebagai cara untuk melepas penat.
Namun, persoalannya mulai muncul ketika healing menjadi alasan untuk terus mengeluarkan uang tanpa mempertimbangkan kondisi keuangan. Uang yang awalnya ingin disisihkan untuk tabungan akhirnya digunakan untuk berbagai keinginan. Ketika akhir bulan tiba, muncul pertanyaan yang cukup familiar: “Uangku habis ke mana?”
Di sinilah generasi muda menghadapi sebuah dilema: menikmati kehidupan saat ini atau mulai mempersiapkan kehidupan di masa depan?
Sebenarnya, menabung dan healing bukanlah dua hal yang harus dipilih salah satunya. Keduanya dapat berjalan beriringan apabila dilakukan dengan kesadaran dan perencanaan yang baik. Persoalannya bukan tentang boleh atau tidaknya menikmati hidup, melainkan bagaimana seseorang mampu mengatur keuangannya agar kesenangan hari ini tidak menjadi beban di kemudian hari.
Healing dan Gaya Hidup Generasi Muda
Istilah healing telah menjadi bagian dari percakapan sehari-hari, terutama di kalangan anak muda. Maknanya pun semakin luas. Jika sebelumnya healing mungkin lebih sering dikaitkan dengan pemulihan dari kondisi tertentu, kini istilah tersebut sering digunakan untuk menggambarkan aktivitas yang dilakukan seseorang untuk mengurangi kejenuhan dan mencari kesenangan.
Perubahan ini tidak sepenuhnya buruk. Di tengah kehidupan yang serba cepat, memiliki waktu untuk beristirahat dan melakukan aktivitas yang menyenangkan memang penting. Generasi muda juga perlu memiliki ruang untuk menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kehidupan pribadi.
Namun, healing perlahan dapat bergeser dari kebutuhan untuk beristirahat menjadi bagian dari gaya hidup. Aktivitas yang seharusnya dilakukan sesuai kebutuhan justru dapat berubah menjadi sesuatu yang harus dilakukan secara rutin agar merasa tidak tertinggal.
Akibatnya, ukuran “menikmati hidup” terkadang mulai dikaitkan dengan seberapa sering seseorang bepergian, tempat yang dikunjungi, barang yang dimiliki, atau pengalaman yang dapat dibagikan kepada orang lain. Padahal, menikmati hidup tidak selalu harus identik dengan pengeluaran yang besar.
Ketika Media Sosial Membentuk Standar Kehidupan
Perkembangan media sosial turut memperkuat perubahan tersebut. Platform seperti Instagram, TikTok, dan berbagai media sosial lainnya memungkinkan seseorang melihat kehidupan orang lain hampir setiap saat.
Kita dapat melihat orang berlibur ke tempat tertentu, mencoba restoran baru, membeli barang terbaru, menghadiri konser, atau menjalani berbagai aktivitas menarik. Konten-konten tersebut secara tidak langsung dapat membentuk gambaran mengenai seperti apa kehidupan yang dianggap menyenangkan. Masalahnya, media sosial hanya menunjukkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Kita melihat hasil akhirnya, tetapi tidak mengetahui bagaimana kondisi keuangan di baliknya.
Ketika seseorang terus-menerus melihat gaya hidup tertentu, keinginan untuk mengikutinya dapat muncul secara perlahan. Sesuatu yang sebelumnya tidak dianggap penting bisa berubah menjadi sesuatu yang terasa harus dimiliki. Hal tersebut menunjukkan bahwa keputusan keuangan tidak selalu dipengaruhi oleh kebutuhan yang nyata. Lingkungan sosial, tren, dan informasi yang dikonsumsi setiap hari juga dapat memengaruhi cara seseorang menggunakan uang.
Karena itu, kemampuan mengelola keuangan pada era digital bukan hanya tentang menghitung pemasukan dan pengeluaran. Kita juga perlu memiliki kemampuan untuk mengendalikan keinginan di tengah banyaknya dorongan konsumsi.
FOMO dan Perilaku Konsumtif
Salah satu fenomena yang berkaitan erat dengan kondisi tersebut adalah FOMO atau Fear of Missing Out. Secara sederhana, FOMO merupakan rasa takut tertinggal dari sesuatu yang sedang dilakukan atau dinikmati orang lain. Dalam konteks keuangan, FOMO dapat mendorong seseorang melakukan pembelian atau pengeluaran bukan karena benar-benar membutuhkan sesuatu, tetapi karena tidak ingin merasa berbeda atau tertinggal.
Fenomena ini semakin mudah terjadi karena tren dapat menyebar dengan sangat cepat melalui media sosial. Barang yang sedang populer hari ini bisa menjadi sesuatu yang dianggap wajib dimiliki oleh banyak orang dalam waktu singkat.
Jika tidak disadari, kondisi tersebut dapat mendorong perilaku konsumtif. Seseorang menjadi lebih mudah membeli sesuatu secara spontan dan kurang mempertimbangkan manfaat jangka panjangnya.
Perilaku konsumtif bukan berarti seseorang sama sekali tidak boleh membeli barang yang diinginkan. Permasalahannya terletak pada ketidakmampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan serta kurangnya pertimbangan sebelum mengeluarkan uang. Karena itu, salah satu kebiasaan sederhana yang perlu dibangun adalah memberikan jeda sebelum melakukan pembelian. Tidak semua sesuatu yang menarik harus langsung dimiliki, dan tidak semua tren harus diikuti.
Mengapa Menabung Sering Kalah dengan Keinginan?
Menabung sering kali kalah menarik dibandingkan menghabiskan uang untuk kesenangan saat ini.
Ketika uang digunakan untuk makan di restoran, membeli barang, atau pergi berlibur, manfaatnya dapat dirasakan secara langsung. Sebaliknya, manfaat menabung baru akan terasa di masa mendatang. Inilah salah satu alasan mengapa seseorang dapat lebih mudah tergoda menggunakan uang daripada menyimpannya.
Padahal, menabung bukan hanya tentang mengumpulkan uang. Menabung merupakan bentuk persiapan untuk menghadapi kebutuhan yang belum terjadi. Kehidupan penuh dengan ketidakpastian. Kebutuhan mendadak dapat muncul kapan saja. Selain itu, generasi muda juga memiliki berbagai tujuan finansial yang perlu dipersiapkan, seperti pendidikan, membeli kendaraan, membangun usaha, melanjutkan studi, atau mempersiapkan kehidupan setelah memasuki dunia kerja.
Tanpa kebiasaan menyisihkan uang, seseorang akan lebih mudah mengalami kesulitan ketika membutuhkan dana dalam jumlah tertentu. Oleh karena itu, menabung sebaiknya tidak dipandang sebagai aktivitas yang mengurangi kesenangan, tetapi sebagai cara untuk memberikan rasa aman terhadap kondisi finansial di masa depan.
Pentingnya Literasi Keuangan bagi Generasi Muda
Kemampuan mengelola keuangan erat kaitannya dengan literasi keuangan. Seseorang yang memiliki literasi keuangan tidak hanya mengetahui cara menyimpan uang, tetapi juga memahami bagaimana membuat keputusan keuangan secara bijak.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Badan Pusat Statistik dalam Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 mencatat bahwa indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 66,46 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 80,51 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa penggunaan produk dan layanan keuangan perlu diimbangi dengan pemahaman yang memadai mengenai cara mengelolanya.
Bagi generasi muda, literasi keuangan menjadi semakin penting karena mereka hidup dalam lingkungan yang menawarkan banyak kemudahan untuk melakukan transaksi. Pembayaran digital, belanja daring, layanan paylater, dan berbagai produk keuangan membuat seseorang dapat mengeluarkan uang hanya dalam beberapa klik.
Kemudahan tersebut tentu memiliki manfaat. Namun, kemudahan tanpa pengendalian dapat membuat pengeluaran menjadi lebih sulit disadari. Karena itu, memiliki pengetahuan dasar mengenai keuangan menjadi salah satu bekal penting sebelum seseorang benar-benar memasuki dunia finansial yang lebih kompleks.
Menabung sebagai Bentuk Persiapan Masa Depan
Menabung tidak harus dimulai dengan jumlah yang besar. Hal yang lebih penting adalah konsistensi.
Bagi mahasiswa atau anak muda yang belum memiliki pendapatan tetap, menyisihkan sebagian uang yang dimiliki secara rutin dapat menjadi langkah awal. Tujuannya bukan untuk membuat seseorang berhenti menikmati hidup, tetapi membangun kebiasaan bahwa tidak seluruh uang yang diterima harus segera dihabiskan.
Menabung juga akan terasa lebih mudah apabila memiliki tujuan yang jelas. Seseorang akan lebih termotivasi menyisihkan uang jika mengetahui untuk apa uang tersebut digunakan.
Tujuan tersebut dapat berupa dana darurat, pendidikan, perjalanan, modal usaha, investasi, atau kebutuhan lain di masa depan. Dengan memiliki tujuan, menabung tidak lagi terasa seperti sekadar menahan diri untuk tidak menggunakan uang. Menabung menjadi bagian dari usaha untuk mencapai sesuatu yang dianggap penting.
Menciptakan Keseimbangan antara Menabung dan Healing
Lalu bagaimana cara menemukan keseimbangan?
Kuncinya adalah membuat batas yang realistis. Mengatur keuangan tidak harus berarti menghilangkan seluruh pengeluaran untuk hiburan. Sebaliknya, pengeluaran untuk hiburan dapat dimasukkan sebagai salah satu bagian dari anggaran.
Dengan cara tersebut, seseorang tetap dapat menikmati hidup tanpa mengorbankan kebutuhan utama dan tabungan.
Selain itu, penting untuk memahami kondisi keuangan diri sendiri. Jangan sampai seseorang mengikuti gaya hidup orang lain tanpa mengetahui apakah kondisi keuangannya memungkinkan.
Apa yang cocok bagi orang lain belum tentu cocok bagi kita.
Setiap orang memiliki pendapatan, kebutuhan, tanggungan, dan tujuan finansial yang berbeda. Karena itu, ukuran keberhasilan finansial tidak seharusnya didasarkan pada kemampuan mengikuti gaya hidup orang lain.
Justru, kemampuan mengatakan “saya belum membutuhkan itu” dapat menjadi salah satu bentuk kedewasaan dalam mengelola keuangan.
Healing Tidak Harus Menguras Dompet
Menikmati hidup juga tidak selalu membutuhkan biaya yang besar. Terkadang, healing dapat dilakukan melalui aktivitas sederhana yang tidak memerlukan banyak pengeluaran.
Beristirahat dengan cukup, menghabiskan waktu bersama keluarga, melakukan hobi, berolahraga, membaca, berjalan-jalan, atau mengambil waktu sejenak dari rutinitas dapat menjadi bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Hal ini penting untuk dipahami agar healing tidak selalu diasosiasikan dengan konsumsi.
Ketika healing selalu dikaitkan dengan pengeluaran, seseorang dapat tanpa sadar membangun pola bahwa setiap kali merasa lelah atau stres, solusi yang harus dilakukan adalah membeli atau mengeluarkan uang. Padahal, yang dibutuhkan terkadang bukan sesuatu yang baru, melainkan waktu untuk berhenti sejenak.
Belajar Mengelola Uang Sejak Sekarang
Generasi muda tidak perlu menunggu memiliki penghasilan besar untuk mulai belajar mengatur keuangan. Justru, kebiasaan yang dibangun sejak memiliki sedikit uang dapat menjadi dasar ketika nantinya memiliki penghasilan yang lebih besar.
Hal sederhana seperti mencatat pengeluaran, membuat anggaran, menentukan tujuan menabung, membatasi pembelian impulsif, dan mengevaluasi penggunaan uang setiap bulan sudah dapat menjadi langkah awal.
Yang tidak kalah penting adalah belajar memahami diri sendiri. Setiap orang memiliki pemicu pengeluaran yang berbeda. Ada yang mudah tergoda oleh diskon, ada yang terpengaruh tren media sosial, dan ada pula yang cenderung mengeluarkan uang ketika sedang merasa stres. Dengan mengenali kebiasaan tersebut, seseorang dapat mulai membuat batas yang lebih sehat dalam menggunakan uang.
Menikmati Hari Ini Tanpa Mengorbankan Hari Esok
Pada akhirnya, menabung dan healing bukanlah dua pilihan yang harus saling mengalahkan.
Generasi muda tetap berhak menikmati masa muda, bersenang-senang, mencoba berbagai pengalaman, dan memberikan penghargaan kepada diri sendiri. Namun, semua itu perlu dilakukan dengan kesadaran terhadap kemampuan finansial.
Jangan sampai keinginan untuk menikmati hari ini membuat kita mengorbankan kebutuhan di masa depan. Sebaliknya, jangan pula terlalu fokus mengejar masa depan sampai lupa memberikan ruang untuk menikmati kehidupan saat ini.
Keseimbangan menjadi kuncinya.
Menabung mengajarkan kita untuk memikirkan masa depan, sedangkan healing mengingatkan kita bahwa hidup juga perlu dinikmati. Keduanya dapat berjalan bersama selama kita mampu menentukan prioritas.
Mungkin sudah waktunya mengubah pola pikir dari “menabung atau healing?” menjadi “bagaimana saya bisa menabung sambil tetap menikmati hidup?”
Sebab, kondisi finansial yang sehat bukan berarti kita tidak pernah mengeluarkan uang untuk kesenangan. Kondisi finansial yang sehat adalah ketika kita mengetahui kapan harus menikmati uang, kapan harus menahannya, dan untuk apa uang tersebut digunakan.
Healing boleh, menikmati hidup tentu boleh. Tetapi masa depan juga jangan sampai dilupakan.
