Bukan Cuma Viral, Ini Strategi Brand untuk Menaklukkan Gen Z di Era Digital


Ditulis oleh Haniyah Maulida
Mahasiswa IAI SEBI

Wartanusantara.id - Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, menarik perhatian Generasi Z bukan perkara mudah. Setiap hari, mereka berhadapan dengan ribuan konten yang bersaing untuk mendapatkan satu hal: perhatian. Kondisi ini membuat brand tidak bisa lagi hanya mengandalkan iklan konvensional jika ingin dekat dengan konsumen muda.

Generasi Z yang tumbuh bersama internet memiliki kebiasaan yang berbeda dalam mencari informasi dan mempertimbangkan pembelian. Mereka dapat menemukan produk melalui TikTok, Instagram, YouTube, hingga marketplace, kemudian membandingkan harga dan mencari ulasan sebelum akhirnya memutuskan untuk membeli.

Google dalam laporan Think with Google 2025 menyebutkan bahwa Gen Z di Indonesia menggunakan YouTube bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga untuk mencari informasi mengenai produk. Sebanyak 95% Gen Z Indonesia yang disurvei mengatakan informasi yang mereka temukan di YouTube membuat mereka merasa lebih yakin terhadap pembelian yang dilakukan.

Dari Konten ke Keranjang Belanja


Perubahan perilaku konsumen tersebut turut mendorong perkembangan video commerce di Indonesia. Berdasarkan laporan e-Conomy SEA 2025 dari Google, Temasek, dan Bain & Company, transaksi video commerce di Indonesia meningkat 90% secara tahunan hingga mencapai 2,6 miliar transaksi. Jumlah penjual dan toko daring yang menggunakan kanal tersebut juga meningkat 75% menjadi sekitar 800 ribu.

Angka tersebut menunjukkan bahwa konten digital tidak lagi hanya berfungsi sebagai media hiburan. Konten kini dapat menjadi bagian dari perjalanan konsumen sejak tahap mengenal produk, mencari informasi, hingga melakukan pembelian.

Bagi Gen Z, proses tersebut bahkan dapat terjadi hanya dalam beberapa menit. Sebuah video yang muncul di feed dapat membuat seseorang tertarik pada produk, kemudian dilanjutkan dengan membaca komentar, melihat ulasan kreator, dan akhirnya mengunjungi toko online.

Bukan Sekadar Mengikuti Tren

Salah satu strategi yang banyak digunakan brand adalah memanfaatkan tren di media sosial. Namun, menjadi viral seharusnya bukan menjadi tujuan akhir.

Menurut saya, kesalahan yang masih sering dilakukan brand adalah terlalu fokus mengejar views dan likes. Padahal, konten yang viral belum tentu membuat orang percaya terhadap sebuah produk atau melakukan pembelian.

Gen Z cenderung memiliki banyak pilihan dan akses informasi. Ketika melihat sebuah produk menarik, mereka dapat langsung mencari pendapat pengguna lain sebelum mengambil keputusan. Karena itu, menurut saya, brand perlu memikirkan apa yang terjadi setelah sebuah konten berhasil mendapatkan perhatian.

Konten yang bagus bukan hanya membuat orang berhenti scroll, tetapi juga mampu membuat mereka tertarik, percaya, dan akhirnya mau mengenal brand lebih jauh.

Kreator Jadi Jembatan antara Brand dan Gen Z


Selain konten buatan brand, peran content creator juga semakin penting dalam strategi digital marketing. Kreator dapat menjadi penghubung antara perusahaan dengan audiens karena komunikasi yang dibangun biasanya terasa lebih personal.

Google mencatat bahwa kolaborasi dengan kreator yang sesuai dengan karakter audiens dapat membantu brand membangun hubungan yang lebih bermakna dengan Gen Z. Salah satu contohnya adalah kampanye tiket.com bersama kreator YouTube yang berhasil menjangkau lebih dari 2 juta pengguna Gen Z dalam 11 hari dan memperoleh tingkat engagement 13%.

Hal ini menunjukkan bahwa pemilihan kreator tidak seharusnya hanya didasarkan pada jumlah pengikut. Kesesuaian antara karakter kreator, audiens, dan produk juga menjadi faktor penting.

Menurut saya, Gen Z lebih mudah menerima promosi ketika konten tersebut terasa seperti rekomendasi yang relevan daripada iklan yang terlalu memaksa. Inilah alasan mengapa keaslian menjadi salah satu aspek penting dalam digital marketing saat ini.

AI dan Data Mulai Mengubah Cara Brand Bekerja


Perkembangan digital marketing juga semakin berkaitan dengan penggunaan data dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Teknologi dapat membantu perusahaan memahami perilaku konsumen, membuat variasi konten, hingga mengevaluasi performa kampanye.

Namun, teknologi bukan berarti menggantikan kreativitas manusia. Data dapat menunjukkan apa yang dilakukan konsumen, tetapi brand tetap perlu memahami alasan di balik perilaku tersebut.

Menurut saya, justru kombinasi antara data dan kreativitas yang akan menjadi kekuatan utama digital marketing ke depan. Data membantu brand mengambil keputusan dengan lebih tepat, sementara kreativitas membuat pesan tersebut terasa relevan dan manusiawi.
Pada akhirnya, memenangkan perhatian Gen Z bukan hanya tentang siapa yang paling sering muncul di timeline. Brand juga perlu memiliki nilai, karakter, dan komunikasi yang konsisten.


Gen Z bukan sekadar target pasar yang dapat didekati dengan tren sesaat. Mereka adalah konsumen yang memiliki banyak pilihan dan dapat dengan cepat berpindah ketika merasa sebuah brand tidak lagi relevan.

Karena itu, menurut saya, digital marketing yang efektif bukan tentang bagaimana brand membuat satu konten menjadi viral, melainkan bagaimana perhatian tersebut diubah menjadi hubungan jangka panjang dengan konsumen.

Di era ketika konten dapat dibuat dalam hitungan detik dan tren dapat berubah dalam hitungan jam, brand yang mampu memahami audiens, menggunakan data dengan tepat, serta tetap autentik justru memiliki peluang lebih besar untuk bertahan. Bagi Gen Z, viral mungkin bisa menarik perhatian, tetapi kepercayaanlah yang membuat mereka bertahan.

0/Post a Comment/Comments