Oleh Alia Rahmah
Mahasiswa IAI SEBI
Wartanusantara.id - Coba ingat-ingat, kapan terakhir kali kamu bayar pakai uang tunai? Buat sebagian besar anak muda Indonesia sekarang, jawabannya mungkin "lupa". Dari beli es teh di warung kaki lima sampai belanja di mall, satu kode kotak-kotak hitam putih bernama QRIS sudah jadi bagian dari rutinitas harian. Tapi seberapa besar sebenarnya perubahan ini, dan kenapa QRIS bisa secepat itu merasuk ke seluruh lapisan masyarakat?
QRIS, dari Ide Sederhana Jadi Kebiasaan Nasional
QRIS atau Quick Response Code Indonesian Standard adalah standar kode QR pembayaran yang dikembangkan Bank Indonesia agar semua aplikasi pembayaran mulai dari mobile banking, dompet digital, sampai aplikasi e-commerce bisa "ngobrol" dengan satu kode QR yang sama. Jadi, penjual cukup pasang satu stiker QR, dan pembeli bisa scan pakai aplikasi apa saja, tanpa perlu pusing app-nya cocok atau tidak.
Konsep sederhana ini ternyata jadi kunci suksesnya. Dulu, pedagang kecil sering keberatan pasang banyak QR code dari berbagai penyedia. Sekarang, satu kode cukup untuk semua.
Pertumbuhan QRIS memang di luar ekspektasi banyak orang. Berdasarkan catatan Bank Indonesia, hingga Juli 2026, volume transaksi QRIS secara kumulatif sudah menembus 15 miliar transaksi, dengan jumlah pengguna yang mencapai 67 juta orang di seluruh Indonesia.
Yang lebih menarik, pertumbuhan ini bukan cuma soal jumlah pengguna, tapi juga soal seberapa sering QRIS dipakai. Data semester pertama 2026 menunjukkan nilai transaksi QRIS mencapai Rp 600,69 triliun, tumbuh 89,52 persen dibanding tahun sebelumnya. Bahkan di awal tahun, laju pertumbuhannya sempat jauh lebih tinggi lagi pada kuartal pertama 2026, transaksi QRIS tumbuh hingga 111,94 persen secara tahunan.
Dari sisi jangkauan, ekosistem QRIS juga makin luas. Jaringan merchant atau pedagang yang menerima QRIS sudah mencapai 45 juta unit usaha, sebuah angka yang bahkan lebih besar dari total penduduk beberapa negara tetangga. Yang menarik, sebagian besar dari merchant ini adalah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah yang sebelumnya kesulitan menerima pembayaran nontunai. Artinya, QRIS bukan cuma soal kemudahan konsumen, tapi juga soal membuka akses ekonomi digital bagi pedagang kecil yang selama ini "tertinggal" dari sistem keuangan formal.
Ekosistem yang Semakin Besar
Di balik satu kode QR yang kita scan setiap hari, ternyata ada ekosistem raksasa yang menopangnya. Layanan QRIS saat ini didukung oleh 96 bank, 60 lembaga nonbank, dan empat lembaga switching yang memproses jutaan transaksi setiap harinya. Kolaborasi lintas lembaga inilah yang membuat QRIS bisa diandalkan, baik di warung kecil di pelosok desa maupun gerai ritel besar di kota.
Bank Indonesia sendiri menargetkan pertumbuhan yang lebih ambisius lagi untuk akhir 2026, yaitu 70 juta pengguna dan 47 juta merchant. Dengan tren pertumbuhan yang ada sekarang, target ini tampaknya bukan sekadar angan-angan.
Bukan Cuma Urusan Dalam Negeri
Menariknya, QRIS kini tidak lagi terbatas di dalam negeri. Bank Indonesia sudah mengembangkan skema QRIS lintas batas atau cross border, dan saat ini Indonesia telah memiliki konektivitas pembayaran QRIS dengan enam negara, yaitu Singapura, Malaysia, Thailand, Jepang, Korea Selatan, dan China. Artinya, kalau kamu liburan ke Bangkok atau Singapura, bisa jadi kamu tetap bisa bayar pakai aplikasi QRIS favorit tanpa perlu tukar uang tunai dalam jumlah besar.
Bahkan, nilai transaksi dari wisatawan asing yang menggunakan QRIS di Indonesia (inbound) hingga Juli 2026 sudah mencapai Rp5,9 triliun atau setara US$326,3 juta, dengan volume transaksi 19,76 juta kali. Ke depan, ada juga rencana kerja sama dengan Arab Saudi agar jemaah umrah dan haji dari Indonesia bisa bertransaksi memakai QRIS tanpa perlu menukar uang tunai dalam jumlah besar.
Kenapa Perubahan Ini Begitu Cepat?
Ada beberapa faktor yang bikin QRIS berkembang secepat ini:
- Kemudahan yang nyata. Tidak perlu bawa uang pas, tidak perlu pusing cari kembalian, dan transaksi selesai dalam hitungan detik.
- Dorongan dari sisi merchant. Bagi pedagang, terutama UMKM, QRIS membuka akses ke pelanggan yang terbiasa cashless tanpa perlu investasi mesin EDC yang mahal.
- Perubahan kebiasaan pasca pandemi. Kebiasaan transaksi nontunai yang mulai terbentuk sejak pandemi terus berlanjut dan makin mengakar di masyarakat.
- Dukungan regulasi yang konsisten. Bank Indonesia secara aktif mendorong perluasan interoperabilitas dan fitur baru seperti QRIS Tap serta QRIS Cross Border.
Apa Artinya Untuk Kita?
Untuk mahasiswa dan generasi muda, tren ini bukan cuma soal gaya hidup cashless yang praktis. Ini juga cerminan dari transformasi ekonomi digital Indonesia secara keseluruhan bagaimana teknologi sederhana bisa menjembatani warung kaki lima dan mall besar dalam satu sistem pembayaran yang sama. Di sisi lain, kemudahan ini juga perlu diimbangi dengan kesadaran mengelola keuangan pribadi, karena transaksi yang makin instan kadang bikin kita lupa berapa banyak sebenarnya yang sudah kita keluarkan.
Dari warung hingga mall, dari desa hingga kota, bahkan kini melintasi batas negara, QRIS sudah membuktikan bahwa perubahan besar kadang justru dimulai dari hal sesederhana selembar kode QR di meja kasir.
