Oleh Yumna Zhafirah
Kalau Sekarang Sudah Ada AI, Nanti Akuntan Kerja Apa?
Pertanyaan seperti ini mungkin pernah muncul di antara mahasiswa akuntansi.
Apalagi sekarang teknologi berkembang begitu cepat. Pekerjaan yang dulu harus dilakukan secara manual, perlahan mulai bisa dibantu oleh sistem dan artificial intelligence atau AI.
Mulai dari mengolah data, mencatat transaksi, melakukan rekonsiliasi, sampai membantu membuat laporan keuangan. Semuanya bisa dilakukan dengan lebih cepat.
Lalu, apakah akuntan akan tergantikan?
Belum tentu.
Menurut saya, teknologi bukan datang untuk menggantikan akuntan, tetapi untuk mengubah cara akuntan bekerja.
Pekerjaan yang sifatnya berulang memang bisa semakin banyak dikerjakan oleh teknologi. Memasukkan data, mengelompokkan transaksi, mencari pola dalam data, atau melakukan pemeriksaan awal dapat dilakukan dengan bantuan sistem.
Tetapi akuntansi tidak hanya soal memasukkan angka dan membuat laporan.
Ada hal yang membutuhkan manusia: pertimbangan, analisis, tanggung jawab, dan etika.
Teknologi mungkin bisa menemukan angka yang tidak sesuai. Tetapi akuntan tetap perlu mencari tahu kenapa hal itu terjadi.
Teknologi bisa menunjukkan adanya transaksi yang mencurigakan. Tetapi manusia tetap perlu mempertimbangkan konteksnya.
Teknologi juga bisa menghasilkan sebuah laporan, tetapi akuntan yang harus memahami apa arti laporan tersebut dan bagaimana informasi itu digunakan untuk mengambil keputusan.
Di sinilah peran akuntan bisa berubah.
Akuntan tidak lagi hanya menjadi “orang yang mengurus angka”.
Akuntan justru perlu semakin memahami bagaimana angka tersebut bisa menjelaskan kondisi sebuah organisasi atau perusahaan.
Misalnya, ketika sebuah perusahaan mengalami penurunan keuntungan, tugas akuntan bukan hanya menunjukkan bahwa laba turun.
Akuntan perlu membantu menjawab pertanyaan berikutnya.
Mengapa laba turun?
Apakah karena biaya meningkat? Apakah penjualan menurun? Apakah ada masalah dalam pengelolaan keuangan? Atau ada faktor lain yang perlu diperhatikan?
Di titik seperti inilah kemampuan analisis menjadi penting.
AI dapat membantu mengolah informasi dalam jumlah besar. Namun keputusan tetap membutuhkan manusia yang memahami kondisi, tujuan, risiko, dan konsekuensi dari keputusan tersebut.
Karena itu, mahasiswa akuntansi mungkin perlu mulai mengubah cara pandang terhadap teknologi.
Tidak perlu melihat AI sebagai sesuatu yang harus dilawan.
Justru kita perlu belajar menggunakannya.
Mahasiswa akuntansi yang mampu menggunakan AI untuk mempercepat pekerjaan tentu akan memiliki keunggulan dibandingkan mereka yang sama sekali tidak mau beradaptasi.
Tetapi ada satu hal yang juga perlu diperhatikan.
Jangan sampai kemampuan menggunakan teknologi justru membuat kita kehilangan kemampuan berpikir.
AI bisa membantu mencari informasi, mengolah data, membuat analisis awal, bahkan membantu menyusun laporan.
Namun hasil dari teknologi tetap harus diperiksa.
Karena teknologi juga bisa menghasilkan kesalahan.
Akuntan tetap membutuhkan kemampuan untuk memeriksa, mempertanyakan, dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tersedia.
Bagi calon akuntan syariah, tantangannya bahkan lebih menarik.
Kita tidak hanya dituntut memahami akuntansi, tetapi juga memahami nilai seperti amanah, kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab.
Dalam konteks ini, perkembangan teknologi justru membuat nilai-nilai tersebut semakin penting.
Teknologi bisa membantu pekerjaan menjadi lebih cepat.
Tetapi teknologi tidak memiliki tanggung jawab moral seperti manusia.
Sebuah sistem mungkin dapat menghitung transaksi dengan sangat cepat. Tetapi keputusan tentang apakah sebuah transaksi sesuai dengan prinsip yang seharusnya tetap membutuhkan manusia yang memiliki pengetahuan dan integritas.
Karena itu, menjadi akuntan di masa depan mungkin tidak cukup hanya dengan menguasai debit dan kredit.
Kita juga perlu memahami teknologi.
Perlu memahami data.
Perlu mampu melakukan analisis.
Dan yang tidak kalah penting, tetap memiliki integritas.
Dunia kerja juga kemungkinan akan semakin membutuhkan akuntan yang mampu menjadi penghubung antara data, teknologi, dan keputusan bisnis.
Akuntan tidak hanya menyampaikan angka, tetapi juga membantu orang lain memahami apa yang ada di balik angka tersebut.
Mungkin pekerjaan akuntan di masa depan akan terlihat berbeda dengan pekerjaan akuntan hari ini.
Sebagian pekerjaan rutin bisa semakin sedikit dilakukan secara manual.
Sebaliknya, pekerjaan yang membutuhkan analisis, komunikasi, pengawasan, pengambilan keputusan, dan pertimbangan profesional bisa menjadi semakin penting.
Karena itu, mahasiswa akuntansi tidak perlu takut dengan perkembangan AI.
Justru sekarang adalah waktu yang tepat untuk mulai belajar.
Belajar akuntansi.
Belajar teknologi.
Belajar menggunakan AI.
Tetapi pada saat yang sama, tetap belajar berpikir kritis dan mempertanggungjawabkan setiap keputusan.
Jangan sampai teknologi semakin maju, sementara kita masih sibuk mempertahankan cara kerja yang lama.
Akuntan masa depan mungkin bukan akuntan yang bekerja tanpa teknologi, tetapi akuntan yang tahu kapan harus menggunakan teknologi dan kapan harus menggunakan pertimbangannya sendiri.
Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat.
Yang menentukan apakah alat itu menjadi ancaman atau kesempatan adalah orang yang menggunakannya.
Jadi, mungkin pertanyaannya bukan lagi:
“Apakah teknologi akan menggantikan akuntan?”
Tetapi:
“Sudah siapkah kita menjadi akuntan yang mampu bekerja bersama teknologi?”
