Ditulis Oleh Novia Lestari
Mahasiswa IAI SEBI
Wartanusantara.id - Perkembangan teknologi digital telah mengubah banyak hal dalam kehidupan masyarakat, termasuk cara seseorang berbelanja dan mengelola keuangan. Bagi Generasi Z atau Gen Z, media sosial bukan hanya menjadi tempat untuk berkomunikasi dan mencari hiburan, tetapi juga menjadi ruang untuk menemukan produk, mengikuti tren, hingga melakukan transaksi. TikTok, Instagram, YouTube, dan berbagai platform digital lainnya secara tidak langsung telah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi sehari-hari.Salah satu hal yang menarik adalah bagaimana algoritma media sosial dapat memengaruhi keputusan seseorang dalam melakukan konsumsi. Ketika seseorang sering melihat konten tentang skincare, fashion, makanan, gadget, atau gaya hidup tertentu, platform akan terus menampilkan konten yang serupa. Akibatnya, produk yang awalnya tidak dibutuhkan dapat terlihat menarik dan akhirnya mendorong seseorang untuk melakukan pembelian.
Fenomena tersebut menjadi semakin relevan bagi Gen Z karena kelompok ini tumbuh dalam lingkungan yang sangat dekat dengan teknologi digital. Keputusan konsumsi tidak lagi hanya dipengaruhi oleh kebutuhan, tetapi juga oleh tren, influencer, ulasan pengguna, konten viral, dan rekomendasi algoritma.
Algoritma dan Perubahan Perilaku Konsumsi
Algoritma media sosial bekerja dengan mempelajari aktivitas penggunanya, seperti konten yang ditonton, disukai, dibagikan, maupun produk yang dicari. Data tersebut kemudian digunakan untuk menampilkan konten yang dianggap sesuai dengan minat pengguna.
Dari sisi ekonomi, kondisi ini dapat memberikan keuntungan bagi konsumen karena mereka lebih mudah menemukan produk yang sesuai dengan kebutuhannya. Namun, di sisi lain, personalisasi konten juga dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya pembelian impulsif.
Misalnya, seorang mahasiswa awalnya hanya membuka TikTok untuk mencari hiburan. Kemudian muncul video mengenai sebuah produk yang sedang viral. Setelah melihat beberapa video dengan produk yang sama, muncul pula ulasan dari kreator lain dan tautan pembelian. Produk tersebut akhirnya terlihat semakin menarik meskipun sebelumnya tidak masuk dalam daftar kebutuhan.
Situasi seperti ini menunjukkan bahwa batas antara hiburan, informasi, dan aktivitas konsumsi semakin tipis. Seseorang dapat berpindah dari menonton konten ke melakukan transaksi hanya dalam beberapa menit.
FOMO dan Budaya Konsumsi Gen Z
Selain algoritma, perilaku konsumsi Gen Z juga dapat dipengaruhi oleh fenomena Fear of Missing Out atau FOMO. FOMO merupakan kondisi ketika seseorang merasa takut tertinggal dari tren atau pengalaman yang sedang dilakukan orang lain.
Media sosial membuat fenomena tersebut semakin mudah terjadi. Ketika banyak orang menunjukkan produk yang sama, menggunakan outfit tertentu, mencoba makanan viral, atau mengikuti tren tertentu, seseorang dapat merasa perlu mengikuti tren tersebut agar tidak merasa tertinggal.
Dalam konteks ekonomi, FOMO dapat mendorong seseorang membeli barang bukan karena kebutuhan utama, tetapi karena adanya dorongan sosial. Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan tersebut dapat memengaruhi kondisi keuangan, terutama bagi mahasiswa atau anak muda yang masih memiliki pendapatan terbatas.
Dampak terhadap Perilaku Finansial
Perubahan perilaku konsumsi akibat media sosial memiliki dua sisi. Di satu sisi, media sosial memberikan peluang ekonomi yang besar. Konsumen dapat menemukan produk dengan lebih mudah, membandingkan harga, membaca ulasan, dan mendapatkan informasi sebelum membeli.
Di sisi lain, kemudahan tersebut dapat membuat konsumsi menjadi lebih spontan. Fitur seperti live shopping, flash sale, voucher, gratis ongkir, dan rekomendasi produk dapat menciptakan dorongan untuk segera membeli.
Masalahnya bukan terletak pada penggunaan media sosial atau aktivitas belanja itu sendiri, tetapi pada kemampuan seseorang dalam membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Jika keputusan membeli lebih banyak didasarkan pada tren daripada kemampuan finansial, maka pengelolaan keuangan dapat menjadi terganggu.
Pentingnya Literasi Keuangan
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa literasi keuangan menjadi semakin penting bagi Gen Z. Literasi keuangan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menabung, tetapi juga kemampuan memahami prioritas, mengatur pengeluaran, mempertimbangkan risiko, dan mengambil keputusan finansial secara rasional.
Gen Z perlu menyadari bahwa algoritma media sosial dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna. Semakin lama seseorang berinteraksi dengan suatu jenis konten, semakin besar kemungkinan ia mendapatkan konten serupa. Oleh karena itu, pengguna perlu memiliki kontrol terhadap keputusan konsumsinya sendiri. Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah membuat anggaran pengeluaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, memberikan jeda sebelum membeli barang yang tidak direncanakan, serta tidak menjadikan tren media sosial sebagai ukuran kebutuhan.
Kesimpulan
Media sosial telah membawa perubahan besar terhadap perilaku konsumsi Gen Z di Indonesia. Algoritma yang mempersonalisasi konten membuat konsumen semakin mudah menemukan produk, tetapi pada saat yang sama dapat mendorong munculnya keinginan untuk membeli secara impulsif.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perkembangan ekonomi digital perlu diikuti dengan peningkatan kesadaran finansial. Gen Z bukan hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi juga menjadi salah satu kelompok konsumen penting dalam ekonomi digital. Karena itu, kemampuan untuk mengendalikan keputusan konsumsi menjadi penting agar kemudahan teknologi dapat dimanfaatkan tanpa mengorbankan kondisi keuangan pribadi.
