Oleh M. Raihan Fahlefi
IAI SEBI
Wartanusantara.id - Sebagai seorang Muslim, kita tentu sudah tidak asing lagi dengan istilah rukun iman. Rukun iman merupakan salah satu dasar penting dalam ajaran Islam yang harus diketahui dan diyakini oleh setiap Muslim. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita hanya mengetahui rukun iman sebagai sesuatu yang harus dihafalkan tanpa benar-benar memahami makna yang ada di dalamnya.
Iman sebenarnya memiliki peran yang sangat besar dalam kehidupan manusia. Iman tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia kepada Allah SWT, tetapi juga memengaruhi bagaimana seseorang bersikap kepada orang lain, bagaimana menghadapi masalah, serta bagaimana menjalani kehidupan. Orang yang memiliki iman akan mempunyai keyakinan bahwa setiap hal yang terjadi dalam hidupnya tidak terlepas dari kehendak Allah SWT.
Rukun iman sendiri terdiri dari enam hal, yaitu iman kepada Allah SWT, iman kepada malaikat Allah, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada rasul-rasul Allah, iman kepada hari akhir, dan iman kepada qada dan qadar. Keenam hal tersebut merupakan satu kesatuan yang menjadi dasar kepercayaan seorang Muslim.
Memahami rukun iman menjadi penting karena keimanan tidak seharusnya hanya berada di dalam hati. Keimanan juga perlu terlihat melalui perilaku dan perbuatan sehari-hari. Seseorang yang mengaku beriman kepada Allah, misalnya, tentu akan berusaha menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Begitu juga dengan keimanan kepada hari akhir yang seharusnya membuat seseorang lebih berhati-hati dalam melakukan sesuatu karena semua perbuatannya akan dipertanggungjawabkan.
Pengertian iman dan Rukun iman
Secara sederhana, iman dapat diartikan sebagai kepercayaan atau keyakinan. Dalam Islam, iman berarti meyakini dengan sepenuh hati segala sesuatu yang wajib diyakini berdasarkan ajaran Allah SWT dan Rasulullah SAW.
Iman bukan hanya sekadar mengatakan bahwa kita percaya kepada Allah. Iman juga harus dibuktikan melalui sikap dan perbuatan. Misalnya, ketika seseorang benar-benar percaya bahwa Allah selalu melihat dan mengetahui apa yang dilakukan manusia, maka ia akan berusaha untuk tidak melakukan perbuatan buruk meskipun tidak ada orang lain yang melihatnya.
Sedangkan rukun iman adalah dasar-dasar keimanan yang harus diyakini oleh setiap Muslim. Rukun iman berjumlah enam. Hal ini dijelaskan dalam hadis Jibril ketika Malaikat Jibril bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai iman. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa iman adalah beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta qada dan qadar.
Dari sini dapat dipahami bahwa iman bukan hanya tentang percaya kepada Allah, tetapi juga percaya kepada hal-hal yang telah dijelaskan dalam ajaran Islam.
1. Iman kepada Allah
Iman kepada Allah merupakan rukun iman yang pertama dan menjadi dasar dari seluruh keimanan. Seorang Muslim harus percaya bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Tuhan yang wajib disembah. Allah adalah pencipta seluruh alam dan segala sesuatu yang ada di dalamnya.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ikhlas bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, tempat bergantung seluruh makhluk, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.
Percaya kepada Allah tidak cukup hanya dengan mengucapkan bahwa kita beriman. Keimanan tersebut harus dibuktikan melalui ibadah dan ketaatan. Salat, puasa, membaca Al-Qur'an, berdoa, bersedekah, membantu orang lain, dan melakukan berbagai kebaikan merupakan contoh bagaimana iman kepada Allah dapat diwujudkan.
Iman kepada Allah juga membuat seseorang menyadari bahwa hidup ini memiliki tujuan. Manusia tidak hidup hanya untuk mencari harta, mengejar kesenangan, atau mendapatkan pengakuan dari orang lain. Ada tujuan yang lebih besar, yaitu beribadah kepada Allah dan mendapatkan ridha-Nya.
Dalam kehidupan sehari-hari, iman kepada Allah juga dapat menjadi sumber ketenangan. Ketika mendapatkan masalah, seseorang dapat berdoa dan memohon pertolongan kepada Allah. Ketika mendapatkan keberhasilan, ia tidak menjadi sombong karena menyadari bahwa semua yang dimiliki merupakan pemberian Allah.
Oleh karena itu, semakin kuat seseorang mengenal dan meyakini Allah, seharusnya semakin baik pula hubungannya dengan Allah dan semakin baik perilakunya kepada sesama.
2. Iman Kepada Malaikat Allah
Rukun iman yang kedua adalah iman kepada malaikat Allah. Malaikat merupakan makhluk Allah yang diciptakan dari cahaya. Malaikat selalu menjalankan perintah Allah dan tidak pernah durhaka kepada-Nya.
Dalam ajaran Islam terdapat beberapa malaikat yang wajib diketahui beserta tugasnya. Malaikat Jibril bertugas menyampaikan wahyu kepada para nabi dan rasul. Malaikat Mikail bertugas mengatur berbagai urusan yang berkaitan dengan rezeki atas perintah Allah. Malaikat Israfil bertugas meniup sangkakala. Ada juga malaikat yang bertugas mencatat amal manusia.
Keimanan kepada malaikat mengajarkan kita bahwa ada banyak hal yang tidak dapat dilihat oleh mata tetapi tetap harus kita yakini. Tidak semua yang ada di dunia ini dapat dilihat atau dirasakan secara langsung.
Selain itu, iman kepada malaikat dapat membuat kita lebih berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Kita mungkin bisa menyembunyikan perbuatan dari manusia, tetapi tidak ada satu pun perbuatan yang tersembunyi dari Allah SWT.
Misalnya, ketika seseorang ingin berbohong tetapi tidak ada orang yang mengetahuinya, ia seharusnya tetap memilih untuk berkata jujur. Hal tersebut karena ia menyadari bahwa setiap perbuatannya akan dicatat dan diketahui oleh Allah.
Dari sini kita dapat melihat bahwa iman kepada malaikat sebenarnya memiliki pengaruh terhadap sikap dan perilaku manusia. Keimanan tersebut dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kesadaran untuk selalu melakukan kebaikan.
3. Iman kepada kitab-kitab Allah
Rukun iman yang ketiga adalah iman kepada kitab-kitab Allah. Allah SWT menurunkan kitab kepada para rasul sebagai petunjuk bagi manusia. Kitab-kitab tersebut memberikan ajaran mengenai keimanan, ibadah, akhlak, dan bagaimana manusia menjalani kehidupannya.
Ada beberapa kitab Allah yang wajib diketahui, yaitu Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa AS, Zabur kepada Nabi Daud AS, Injil kepada Nabi Isa AS, dan Al-Qur'an kepada Nabi Muhammad SAW.
Sebagai umat Nabi Muhammad SAW, kita menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman utama dalam kehidupan. Al-Qur'an tidak hanya membahas tentang ibadah, tetapi juga mengajarkan bagaimana manusia bersikap kepada orang tua, tetangga, teman, masyarakat, bahkan terhadap lingkungan.
Allah SWT menyebut Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Oleh karena itu, beriman kepada Al-Qur'an seharusnya tidak hanya dilakukan dengan menyimpan atau membaca Al-Qur'an, tetapi juga dengan berusaha memahami dan mengamalkan isinya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menghadapi berbagai pilihan. Ada sesuatu yang terlihat baik tetapi sebenarnya tidak baik, dan ada sesuatu yang mungkin sulit dilakukan tetapi sebenarnya membawa kebaikan. Dalam keadaan seperti ini, ajaran Al-Qur'an dapat menjadi pedoman agar kita tidak mudah mengikuti keinginan sendiri.
Mempelajari Al-Qur'an juga dapat membantu seseorang memahami tujuan hidup dan membedakan antara sesuatu yang benar dan salah.
4. Iman kepada Rasul-rasul Allah
Rukun iman yang keempat adalah iman kepada rasul-rasul Allah. Rasul merupakan manusia pilihan Allah yang mendapatkan wahyu dan memiliki tugas untuk menyampaikan ajaran Allah kepada umat manusia.
Allah mengutus para rasul kepada umat manusia agar manusia mendapatkan petunjuk. Para rasul mengajarkan tentang tauhid, ibadah, akhlak, dan berbagai kebaikan.
Sebagai seorang Muslim, kita wajib meyakini seluruh rasul yang diutus oleh Allah. Kita tidak boleh hanya percaya kepada Nabi Muhammad SAW dan mengingkari nabi lainnya. Semua nabi dan rasul merupakan utusan Allah.
Nabi Muhammad SAW merupakan nabi dan rasul terakhir. Beliau menjadi teladan bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan. Banyak sekali sifat Rasulullah yang dapat kita contoh, seperti jujur, amanah, sabar, rendah hati, penyayang, dan berani dalam membela kebenaran.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 21 bahwa pada diri Rasulullah terdapat contoh yang baik bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.
Dalam kehidupan sekarang, meneladani Rasulullah sangat penting. Misalnya, ketika berkomunikasi dengan orang lain kita harus berusaha berkata jujur dan tidak menyakiti. Ketika mendapatkan masalah, kita belajar untuk bersabar. Ketika mendapatkan keberhasilan, kita tidak boleh menjadi sombong.
Dengan demikian, iman kepada rasul tidak hanya berarti percaya bahwa para rasul benar-benar diutus oleh Allah. Kita juga perlu berusaha mengikuti ajaran dan akhlak yang telah mereka contohkan.
5. Iman kepada hari akhir
Rukun iman yang kelima adalah iman kepada hari akhir. Hari akhir merupakan kehidupan setelah kehidupan dunia berakhir. Dalam Islam, kematian bukanlah akhir dari segala sesuatu. Setelah meninggal dunia, manusia akan memasuki kehidupan berikutnya dan pada waktunya akan dibangkitkan untuk mempertanggungjawabkan amalnya.
Allah SWT berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 185 bahwa setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia tidak akan berlangsung selamanya.
Manusia terkadang terlalu sibuk mengejar kehidupan dunia. Mengejar pendidikan, pekerjaan, harta, jabatan, dan berbagai keinginan merupakan hal yang wajar. Namun, semuanya tidak boleh membuat kita lupa bahwa suatu saat kehidupan dunia akan berakhir.
Iman kepada hari akhir membuat seseorang lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupan. Ia akan berpikir sebelum melakukan sesuatu karena sadar bahwa setiap perbuatan akan mendapatkan balasan.
Sebagai contoh, seseorang mungkin mendapatkan keuntungan jika melakukan kecurangan. Namun, orang yang beriman kepada hari akhir akan mempertimbangkan bahwa keuntungan tersebut tidak sebanding dengan dosa yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Iman kepada hari akhir juga dapat membuat seseorang lebih sabar ketika mendapatkan ujian. Ketika mengalami kesulitan, ia percaya bahwa kehidupan dunia hanya sementara dan Allah menyediakan kehidupan yang kekal bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh.
6. Iman kepada qadha dan qadar
Rukun iman yang keenam adalah iman kepada qada dan qadar. Secara sederhana, qada dan qadar berkaitan dengan ketetapan Allah SWT terhadap segala sesuatu yang terjadi di alam semesta.
Manusia tidak mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi pada masa depan. Kita hanya dapat merencanakan dan berusaha, sedangkan hasil akhirnya berada dalam kehendak Allah.
Namun, beriman kepada qada dan qadar bukan berarti kita boleh bermalas-malasan. Justru Islam mengajarkan manusia untuk tetap berusaha. Setelah berusaha, kita menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Contohnya, seorang mahasiswa yang ingin mendapatkan nilai bagus harus belajar. Ia tidak bisa hanya berdoa tanpa melakukan usaha. Begitu juga seseorang yang ingin mendapatkan pekerjaan harus berusaha mencari pekerjaan dan meningkatkan kemampuannya.
Jika setelah berusaha hasilnya belum sesuai harapan, seorang Muslim harus belajar menerima dan mengevaluasi dirinya. Mungkin ada kekurangan dalam usaha yang dilakukan, atau mungkin Allah memiliki rencana lain yang belum kita pahami.
Iman kepada qada dan qadar mengajarkan kita untuk tidak terlalu sombong ketika berhasil dan tidak terlalu larut dalam kesedihan ketika gagal. Keberhasilan harus disyukuri, sedangkan kegagalan harus dijadikan pelajaran.
Hubungan rukun iman dengan kehidupan sehari-hari
Jika diperhatikan, keenam rukun iman sebenarnya memiliki hubungan yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Rukun iman bukan hanya materi yang dipelajari di sekolah, pesantren, atau dalam kajian agama. Nilai-nilainya dapat diterapkan dalam berbagai keadaan.
Iman kepada Allah membuat kita memiliki tempat untuk bergantung. Iman kepada malaikat membuat kita sadar bahwa setiap perbuatan dicatat. Iman kepada kitab Allah memberikan pedoman dalam kehidupan. Iman kepada rasul memberikan contoh bagaimana menjalani kehidupan. Iman kepada hari akhir mengingatkan kita tentang pertanggungjawaban, sedangkan iman kepada qada dan qadar mengajarkan kita untuk berusaha dan bertawakal.
Jika keenam hal tersebut benar-benar diterapkan, maka keimanan akan memengaruhi karakter seseorang.
Misalnya, ketika berada di lingkungan kampus, seorang mahasiswa yang memiliki iman akan berusaha menghindari kecurangan dalam mengerjakan tugas atau ujian. Ketika bekerja, ia berusaha jujur dan bertanggung jawab. Ketika berada di lingkungan masyarakat, ia berusaha menjaga hubungan baik dengan orang lain.
Dengan kata lain, iman seharusnya tidak hanya terlihat ketika seseorang sedang berada di masjid. Iman juga harus terlihat ketika seseorang berada di rumah, kampus, tempat kerja, organisasi, maupun ketika sedang sendirian.
Pentingnya menjaga keimanan
Keimanan seseorang perlu terus dijaga. Kehidupan manusia selalu mengalami perubahan. Ada masa ketika seseorang merasa sangat dekat dengan Allah, tetapi ada juga masa ketika semangat beribadah menurun.
Kesibukan, pergaulan, masalah kehidupan, penggunaan media sosial, dan berbagai hal lainnya dapat memengaruhi kondisi keimanan seseorang. Karena itu, seorang Muslim harus berusaha untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah.
Menjaga iman dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah menjaga ibadah wajib, terutama salat. Selain itu, kita juga dapat membaca dan mempelajari Al-Qur'an, memperbanyak doa dan zikir, menghadiri kajian, belajar ilmu agama, serta memilih lingkungan pergaulan yang baik.
Hal yang tidak kalah penting adalah mengevaluasi diri. Kita perlu bertanya kepada diri sendiri apakah selama ini kehidupan yang kita jalani sudah sesuai dengan nilai-nilai Islam atau belum.
Menjaga iman memang bukan sesuatu yang mudah. Namun, selama seseorang terus berusaha untuk mendekat kepada Allah, belajar memperbaiki diri, dan tidak berhenti memohon pertolongan-Nya, maka akan selalu ada kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Tantangan keimanan di zaman sekarang
Di zaman modern seperti sekarang, manusia memiliki banyak kemudahan. Teknologi membuat informasi dapat diperoleh dengan cepat dan komunikasi menjadi semakin mudah. Namun, kemajuan tersebut juga membawa tantangan tersendiri bagi keimanan.
Media sosial misalnya, sering membuat seseorang membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain. Melihat orang lain memiliki harta, pekerjaan, prestasi, atau gaya hidup tertentu terkadang membuat seseorang merasa kurang bersyukur.
Selain itu, banyaknya informasi di internet membuat kita harus lebih berhati-hati. Tidak semua informasi yang beredar benar dan tidak semua hal yang sedang populer sesuai dengan ajaran Islam.
Dalam kondisi seperti ini, iman menjadi sangat penting. Seorang Muslim harus mampu menggunakan teknologi dengan bijak dan tidak membiarkan teknologi mengendalikan kehidupannya.
Teknologi sebenarnya dapat digunakan untuk meningkatkan keimanan. Kita dapat membaca Al-Qur'an melalui aplikasi, mendengarkan kajian, mempelajari sejarah Islam, dan mendapatkan berbagai ilmu yang bermanfaat. Yang terpenting adalah bagaimana kita menggunakannya.
Kesimpulan
Rukun iman merupakan dasar penting dalam kehidupan seorang Muslim. Rukun iman terdiri dari enam perkara, yaitu iman kepada Allah SWT, iman kepada malaikat-malaikat Allah, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada rasul-rasul Allah, iman kepada hari akhir, dan iman kepada qada dan qadar.
Keenam rukun iman tersebut tidak seharusnya hanya dihafalkan. Lebih dari itu, kita perlu memahami maknanya dan berusaha menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Iman kepada Allah mengajarkan kita untuk selalu bergantung kepada-Nya. Iman kepada malaikat membuat kita lebih berhati-hati dalam berbuat. Iman kepada kitab Allah memberikan pedoman dalam menjalani kehidupan. Iman kepada rasul memberikan teladan yang baik. Iman kepada hari akhir mengingatkan bahwa semua perbuatan akan dipertanggungjawabkan, sedangkan iman kepada qada dan qadar mengajarkan kita untuk selalu berusaha, berdoa, sabar, dan bertawakal.
Pada akhirnya, iman bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita hafal, tetapi juga tentang seberapa besar keyakinan tersebut memengaruhi kehidupan kita. Iman yang baik seharusnya membuat seseorang menjadi lebih dekat kepada Allah dan lebih baik dalam memperlakukan sesama manusia.
Karena itu, memahami rukun iman merupakan langkah awal untuk membangun kehidupan seorang Muslim yang memiliki keyakinan kuat dan akhlak yang baik. Semoga kita tidak hanya mampu menghafal keenam rukun iman, tetapi juga mampu memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
