September Hitam dan Ingatan tentang Keadilan


Oleh Amarudin Akbar
Mahasiswa IAI SEBI

Wartanusantara.id - September Hitam bukan sekadar penanda waktu. Bagi sebagian masyarakat, September menjadi momentum untuk kembali mengingat berbagai peristiwa yang meninggalkan luka, pertanyaan, dan tuntutan keadilan bagi korban serta keluarga korban.

Ingat terhadap pelanggaran HAM memiliki arti penting dalam kehidupan demokrasi. Negara tidak hanya dituntut untuk mengingat peristiwa yang telah terjadi, tetapi juga memastikan adanya proses penyelesaian yang transparan dan berkeadilan.

Dalam momentum tersebut, BEM seluruh Indonesia menyuarakan lima tuntutan. Pertama, menuntaskan dan mengungkap seluruh kasus pelanggaran HAM secara transparan dan berkeadilan. Kedua, menghentikan praktik impunitas terhadap pelanggaran HAM.

Ketiga, aparat atau pejabat yang terbukti melakukan pelanggaran HAM harus mengambil tindakan sesuai ketentuan hukum. Keempat, segala bentuk intimidasi, kriminalisasi, kekerasan, dan pembungkaman terhadap masyarakat, mahasiswa, jurnalis, serta aktivis yang menyampaikan kritik harus dihentikan.

Kelima, reformasi institusi penegak hukum dan aparat keamanan secara menyeluruh perlu dilakukan untuk memperkuat akuntabilitas dan perlindungan hak warga negara.

Tuntutan tersebut menunjukkan bahwa persoalan HAM tidak berhenti pada isu masa lalu. Ia juga membahas bagaimana negara menjalankan kewenangannya pada hari ini dan bagaimana ruang demokrasi dijaga untuk generasi berikutnya.

Keadilan bagi korban bukan hanya tentang penghukuman terhadap pihak yang terbukti bersalah. Keadilan juga mencakup menyembunyikan kebenaran, kepastian hukum, penghormatan terhadap martabat korban, serta upaya untuk memastikan peristiwa serupa tidak terulang.

Oleh karena itu, suara masyarakat sipil, mahasiswa, jurnalis, dan aktivis menjadi bagian dari dinamika demokrasi. Kritik dapat menjadi mekanisme kontrol terhadap kekuasaan dan harus ditempatkan dalam kerangka kebebasan berpendapat serta tanggung jawab hukum

September Hitam pada akhirnya mengajak masyarakat untuk tidak melupakan. Sebab ketika suatu bangsa berhenti mengingat korban, risiko pengulangan kesalahan yang sama akan selalu menjadi persoalan yang perlu diwaspadai.

0/Post a Comment/Comments