Oleh Anugrah Cahaya Pertiwi
Mahasiswa IAI SEBI
Wartanusantara.id - Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda awal September 2026 menjadi pengingat nyata betapa rentannya roda ekonomi terhadap bencana alam yang datang tiba-tiba. Dalam hitungan hari, delapan bandara ditutup, ribuan penerbangan ditunda atau dibatalkan, dan aktivitas di sektor pariwisata, logistik, ritel, hingga jasa perkotaan ikut terguncang. Bagi pelaku usaha, peristiwa semacam ini bukan sekadar berita di media, melainkan ancaman langsung terhadap arus kas, rantai pasok, dan kelangsungan operasional.
Namun bencana alam seperti hujan abu vulkanik tidak selalu harus berujung pada kerugian besar. Dengan strategi yang tepat, bisnis dapat meminimalkan dampak, bahkan menemukan peluang di tengah krisis. Berikut sejumlah strategi yang dapat diterapkan pelaku usaha, baik skala kecil maupun besar.
1. Petakan Risiko Sejak Dini
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memahami seberapa besar eksposur bisnis terhadap gangguan abu vulkanik. Perusahaan di sektor penerbangan, pariwisata, logistik, dan konstruksi jelas paling rentan karena bergantung pada mobilitas dan infrastruktur udara. Namun sektor lain seperti manufaktur yang mengandalkan pengiriman bahan baku via kargo udara, atau bisnis yang bergantung pada kunjungan pelanggan langsung, juga perlu mewaspadai efek berantai.
Pemetaan risiko ini sebaiknya mencakup tiga hal: seberapa besar dependensi terhadap transportasi udara, seberapa jauh lokasi usaha dari kawasan terdampak, dan berapa lama bisnis mampu bertahan tanpa pemasukan normal (buffer arus kas).
2. Diversifikasi Rantai Pasok dan Jalur Distribusi
Ketergantungan pada satu jalur distribusi atau satu bandara sebagai titik keluar-masuk barang terbukti menjadi titik lemah saat bandara-bandara utama seperti Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, dan Radin Inten II ditutup bersamaan. Pelaku usaha perlu menyiapkan jalur alternatif, baik melalui pelabuhan laut, moda darat, maupun gudang cadangan di wilayah yang tidak terdampak. Bagi bisnis yang mengandalkan pemasok tunggal, kini saatnya mempertimbangkan pemasok kedua (backup supplier) di wilayah geografis berbeda agar operasional tidak berhenti total saat satu jalur terganggu.
3. Jaga Likuiditas dan Siapkan Dana Darurat
Gangguan akibat abu vulkanik biasanya berlangsung singkat, dari beberapa hari hingga dua pekan, namun cukup untuk menekan arus kas bisnis yang tidak memiliki bantalan keuangan. Memiliki dana darurat operasional setara satu hingga tiga bulan biaya tetap akan sangat membantu bisnis melewati masa gangguan tanpa harus mengambil utang mendadak dengan bunga tinggi.
Pelaku usaha juga perlu mengecek ulang polis asuransi yang dimiliki. Beberapa produk asuransi umum, termasuk polis properti dan business interruption, dapat mencakup risiko kerusakan akibat abu vulkanik maupun kerugian akibat terhentinya operasional. Berkomunikasi lebih awal dengan perusahaan asuransi akan mempercepat proses klaim jika dibutuhkan.
4. Manfaatkan Teknologi untuk Operasional Jarak Jauh
Saat kualitas udara memburuk dan mobilitas fisik dibatasi, kemampuan untuk tetap beroperasi secara jarak jauh menjadi penentu kelangsungan bisnis. Sistem kerja fleksibel, platform kolaborasi digital, serta layanan pelanggan berbasis daring dapat membantu perusahaan tetap melayani pelanggan tanpa mengorbankan keselamatan karyawan. Bisnis ritel dan kuliner, misalnya, dapat mengalihkan sebagian transaksi ke layanan pesan-antar atau penjualan daring saat kunjungan langsung ke toko menurun akibat kekhawatiran masyarakat terhadap paparan abu.
5. Lindungi Karyawan dan Aset Fisik
Abu vulkanik membawa risiko kesehatan pernapasan dan dapat merusak peralatan, terutama mesin dengan komponen elektronik atau mekanis presisi. Perusahaan perlu menyediakan alat pelindung diri seperti masker bagi karyawan yang tetap bekerja di lapangan, serta melakukan langkah pencegahan pada aset seperti menutup ventilasi, membersihkan filter udara secara berkala, dan menunda aktivitas outdoor yang tidak mendesak. Kebijakan kerja dari rumah bagi fungsi yang memungkinkan juga dapat mengurangi risiko kesehatan sekaligus menjaga produktivitas tim.
6. Komunikasikan Kondisi Secara Transparan
Ketidakpastian adalah salah satu sumber kepanikan terbesar saat bencana terjadi, baik bagi karyawan, pelanggan, maupun mitra bisnis. Perusahaan sebaiknya aktif memberikan informasi terkini mengenai status operasional, estimasi waktu pemulihan layanan, dan langkah-langkah yang sedang diambil. Transparansi semacam ini membantu menjaga kepercayaan pelanggan sekaligus mencegah rumor yang dapat memperburuk situasi.
7. Cermati Peluang di Tengah Krisis
Menariknya, tidak semua sektor usaha dirugikan oleh gangguan abu vulkanik. Bisnis ritel kebutuhan pokok dan apotek, misalnya, justru mencatat lonjakan permintaan masker dan obat-obatan saat masyarakat mulai waspada terhadap paparan abu. Fenomena ini menunjukkan bahwa fleksibilitas dalam membaca perubahan kebutuhan pasar dapat mengubah krisis menjadi peluang jangka pendek, asalkan dilakukan secara etis dan tidak memanfaatkan kepanikan secara berlebihan.
8. Evaluasi dan Perbarui Rencana Kontinjensi Bisnis
Setelah kondisi mereda, langkah penting yang sering terlewat adalah evaluasi menyeluruh. Perusahaan perlu mendokumentasikan apa yang berjalan baik dan apa yang perlu diperbaiki dalam rencana kesinambungan bisnis (business continuity plan). Wilayah rawan bencana geologis seperti Indonesia, yang memiliki banyak gunung berapi aktif, sudah semestinya menjadikan mitigasi bencana sebagai bagian permanen dari strategi bisnis, bukan sekadar respons reaktif saat kejadian berlangsung.
Penutup
Erupsi Anak Krakatau menjadi pengingat bahwa guncangan alam dapat datang kapan saja dan berdampak lintas sektor, mulai dari penerbangan hingga usaha kecil menengah di daerah terdampak. Bisnis yang mampu bertahan bukanlah yang paling besar, melainkan yang paling siap: memiliki rencana kontinjensi yang jelas, arus kas yang sehat, rantai pasok yang fleksibel, serta kemampuan beradaptasi dengan cepat. Dengan kesiapan semacam ini, gangguan akibat bencana alam dapat dilalui tanpa harus mengorbankan kelangsungan usaha dalam jangka panjang.
