Al-‘Ijliyyah: Perempuan Pembuat Astrolab pada Abad ke-10


Wartanusantara.id - 
Jauh sebelum dunia mengenal GPS dan navigasi satelit, manusia telah memanfaatkan posisi Matahari dan bintang untuk menentukan waktu serta memahami posisi di permukaan Bumi. Salah satu instrumen penting dalam sejarah astronomi adalah astrolab, alat yang digunakan untuk membantu berbagai perhitungan berdasarkan posisi benda langit.

Menariknya, sebuah catatan sejarah dari abad ke-10 menyebut seorang perempuan yang dikenal sebagai al-‘Ijliyyah, pembuat astrolab yang dikaitkan dengan lingkungan istana Sayf al-Dawla di Aleppo, Suriah.

Namanya dibahas dalam Kitab al-Fihrist, karya Ibn al-Nadim yang disusun sekitar akhir abad ke-10. Catatan ini menjadi salah satu bukti bahwa perempuan turut hadir dalam sejarah pembuatan instrumen ilmiah pada masa peradaban Islam. Namun, informasi tentang kehidupan dan pencapaiannya masih sangat terbatas.

Dalam kajian Shazia Jagot, “Mariam al-Ijli al-Asturlabi: An Extract from Fihrist al-Nadim”, yang diterbitkan dalam Women in the History of Science: A Sourcebook oleh UCL Press pada 2023, kisah tokoh ini ditelaah melalui sumber klasik tersebut. Baca kajian lengkapnya di JSTOR.

Astrolab: Instrumen Penting dalam Sejarah Astronomi

Astrolab merupakan instrumen astronomi yang memungkinkan penggunanya melakukan berbagai perhitungan berdasarkan posisi benda langit. Bergantung pada desainnya, alat ini dapat membantu menentukan waktu, mengenali posisi bintang, dan memperkirakan garis lintang geografis.

Astrolab memiliki akar sejarah sejak zaman Yunani kuno. Pada masa peradaban Islam abad pertengahan, instrumen ini dikembangkan dan digunakan dalam kegiatan astronomi. Pembuatan serta penggunaannya membutuhkan pengetahuan geometris, keterampilan teknis, dan pemahaman tentang gerak benda langit.

David Pingree menjelaskan sejarah dan fungsi astrolab dalam artikel “Asṭorlāb” di Encyclopaedia Iranica. Koleksi History of Science Museum, University of Oxford juga mendokumentasikan perkembangan instrumen tersebut.

Meskipun kadang disebut sebagai “komputer analog abad pertengahan”, astrolab bukan GPS dalam pengertian modern. GPS menentukan posisi menggunakan sinyal satelit, sedangkan astrolab bekerja melalui pengamatan benda langit dan perhitungan astronomi.

Siapa Al-‘Ijliyyah?

Menurut terjemahan Bayard Dodge atas al-Fihrist, al-‘Ijliyyah disebut sebagai putri al-‘Ijlī al-Aṣṭurlābī, seorang pembuat astrolab. Catatan tersebut juga menghubungkannya dengan Biṭulus, yang namanya ditransliterasikan dengan beberapa variasi dalam literatur modern, serta dengan Sayf al-Dawla, penguasa Aleppo pada abad ke-10.

Rujukan klasik ini penting karena memberikan gambaran bahwa keterampilan pembuatan instrumen astronomi tidak hanya dimiliki laki-laki. Seorang perempuan juga tercatat dalam tradisi teknis tersebut.

Namun, sumber sejarah yang tersedia tidak memberikan biografi lengkap mengenai tanggal lahir, pendidikan, perjalanan hidup, maupun rincian karya-karyanya. Tidak ada dasar yang cukup untuk menyatakan bahwa ia menciptakan jenis astrolab baru, melampaui kemampuan ayah atau gurunya, atau memimpin lembaga teknik di istana.

Nama “Mariam” atau “Maryam” yang sering digunakan dalam tulisan modern perlu dipahami secara hati-hati. Catatan awal lebih dikenal melalui nama al-‘Ijliyyah; nama pribadi tersebut tidak dapat dipastikan secara independen dari bukti sejarah yang tersedia.

Dengan demikian, kisah al-‘Ijliyyah sebaiknya dipahami sebagai catatan singkat mengenai seorang perempuan pembuat instrumen astronomi, bukan biografi lengkap yang seluruh detailnya telah terkonfirmasi.

Perempuan dalam Sejarah Ilmu Pengetahuan

Kisah al-‘Ijliyyah membuka kesempatan untuk melihat sejarah ilmu pengetahuan dari sudut yang sering kurang mendapat perhatian.

Perkembangan sains tidak hanya ditentukan oleh penemu teori atau penulis buku. Ada pula pembuat instrumen, pengrajin, pengamat langit, dan pekerja teknis yang membantu menerapkan pengetahuan ilmiah dalam kehidupan nyata.

Astrolab menjadi salah satu contoh hubungan antara pengetahuan matematika dan keterampilan praktis. Keberadaan al-‘Ijliyyah dalam catatan sejarah menunjukkan bahwa seorang perempuan dapat dikenal melalui pekerjaan teknis tersebut, meskipun informasi tentang kontribusinya secara terperinci tidak bertahan hingga sekarang.

Kita tidak perlu menambahkan kisah heroik yang belum terbukti untuk memahami arti pentingnya.

Justru keterbatasan sumber mengingatkan kita bahwa banyak orang yang berperan dalam perkembangan ilmu pengetahuan mungkin hanya meninggalkan sedikit jejak dokumenter.

Pelajaran dari Al-‘Ijliyyah

Al-‘Ijliyyah mengingatkan kita bahwa sejarah sains lebih luas daripada daftar penemu terkenal. Di balik perkembangan astronomi terdapat orang-orang yang membuat instrumen, memelihara keterampilan teknis, dan membantu menerapkan pengetahuan.

Kisahnya juga mengajarkan pentingnya membaca sejarah secara kritis. Kita perlu membedakan apa yang benar-benar tercatat, apa yang merupakan interpretasi sejarawan, dan apa yang hanya berkembang dalam cerita populer.

Al-‘Ijliyyah bukan pencipta GPS abad pertengahan. Ia adalah perempuan pembuat astrolab yang keberadaannya tercatat dalam sumber sejarah abad ke-10. Fakta yang terbatas ini tetap berharga karena menunjukkan bahwa perempuan turut hadir dalam sejarah tradisi teknis dan astronomi.

Kadang-kadang, cara terbaik menghormati tokoh masa lalu bukanlah membesar-besarkan pencapaiannya, melainkan menyampaikan apa yang benar-benar kita ketahui tentang dirinya.

Baca Juga Sejarah Epik Lainnya di Warta Nusantara: 

👉 [Shajar al-Durr: Ratu Intelijen Mesir Penakluk Raja Prancis] 

👉 [Sultan Baibars: Mantan Budak yang Menghancurkan Mitos Mongol] 

👉 [Sultan Agung & Ciliwung: Fakta Sejarah vs Legenda Senjata Biologis]

Sumber Rujukan

  1. Ibn al-Nadim. Kitab al-Fihrist. Disusun sekitar akhir abad ke-10. Sumber klasik mengenai tokoh dan tradisi keilmuan pada masanya.

  2. Dodge, Bayard, ed. dan terj. The Fihrist of al-Nadīm: A Tenth-Century Survey of Muslim Culture. New York: Columbia University Press, 1970. Terjemahan bahasa Inggris yang digunakan sebagai salah satu rujukan untuk catatan tentang al-‘Ijliyyah.

  3. Jagot, Shazia. “Mariam al-Ijli al-Asturlabi (c. tenth century CE): An Extract from Fihrist al-Nadim (Index).” Dalam Women in the History of Science: A Sourcebook, UCL Press, 2023, hlm. 61–65. Baca melalui JSTOR.

  4. Pingree, David. “Asṭorlāb.” Encyclopaedia Iranica, 1987. Referensi mengenai sejarah dan fungsi astrolab. Baca artikelnya.

  5. History of Science Museum, University of Oxford. The Astrolabe: An Online Resource. Dokumentasi mengenai instrumen dan sejarah astrolab. Kunjungi situs museum.

0/Post a Comment/Comments