Hayati Mahmudah
Mahasiswa IAI SEBI
Wartanusantara.id - Sekarang hampir semua usaha berjualan lewat media sosial. Mulai dari Instagram, TikTok, sampai WhatsApp Story. Persaingan yang ketat bikin banyak penjual berlomba-lomba menarik perhatian, kadang dengan cara yang kurang pas: foto produk yang diedit berlebihan, testimoni yang dibuat sendiri, atau klaim "stok tinggal 2" padahal gudang masih penuh.
Dalam pemasaran syariah, hal-hal seperti ini bermasalah. Islam mengenal larangan tadlis, yaitu menyembunyikan cacat atau menyampaikan informasi yang tidak sesuai kenyataan. Ada juga najasy, yakni memancing minat pembeli dengan cara pura-pura menawar atau membuat kesan palsu supaya harga atau permintaan terlihat tinggi. Kedua praktik ini jelas merugikan konsumen, meskipun dari sisi penjualan kelihatannya efektif.
Lalu, apakah pemasaran syariah berarti harus kaku dan tidak boleh kreatif? Tentu tidak. Prinsipnya justru bisa jadi pegangan yang kuat. Empat sifat Rasulullah yang sering dijadikan rujukan, yaitu shiddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), fathanah (cerdas), dan tabligh (komunikatif), bisa diterapkan langsung dalam strategi konten. Jujur dalam menggambarkan produk, amanah dalam menepati janji pengiriman dan kualitas, cerdas dalam membaca kebutuhan pasar, dan komunikatif dalam menjelaskan manfaat produk dengan bahasa yang mudah dipahami.
Contoh sederhananya, penjual abaya online bisa menampilkan foto warna asli kain tanpa filter berlebihan, menjelaskan bahan dan ukuran dengan detail, serta membalas pertanyaan pembeli dengan sopan. Cara ini mungkin terlihat biasa saja, tapi justru membangun kepercayaan jangka panjang. Pelanggan yang puas biasanya kembali lagi dan merekomendasikan ke orang lain tanpa diminta.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah konten promosinya. Hindari konten yang mengeksploitasi aurat atau menggunakan bahasa yang menyesatkan hanya demi viral. Kreativitas tetap bisa dikembangkan lewat storytelling, edukasi produk, atau behind the scene proses pembuatan.
Kesimpulannya, pemasaran syariah bukan penghalang untuk berkembang. Ia justru memberi arah supaya bisnis tumbuh dengan cara yang benar. Keuntungan yang didapat dari kejujuran memang kadang terasa lebih lambat, tapi hasilnya lebih tahan lama, baik secara bisnis maupun nilai keberkahannya.
