Friday, March 10, 2017

Benarkah Raden Patah Pelaku Kudeta Kekuasaan Ayahnya (Raja Majapahit)?

Beberapa tahun yang lalu saya pernah membaca tulisan di sebuah blog wordpress, tentang keruntuhan Kerajaan Majapahit. Tulisan tersebut meyakinkan bahwasanya Raden Patah yang merupakan anak raja Majapahit dari istri beretnis China sebagai pelaku kudeta atas hancurnya kerajaan Majapahit. Akhir-akhir ini saya menemukan fakta yang baru saya ketahui, ternyata tulisan tersebut salah fatal. Selain berpegangan pada buku SKI kelas 9, saya pun mengambil referensi dari buku Sejarah Indonesia Modern karya M.C. Ricklefs, dan Api Sejarah jilid pertama karya Ahmad Mansur Suryanegara.

Raden Patah merupakan anak  Prabu Brawijaya V (Kertabumi, raja Majapahit) dari istrinya yang beretnis Cina. Ibunya Raden Patah diceraikan oleh Prabu Brawijaya V ketika Raden Patah masih dalam kandungan, ia dihadiahkan kepada Aria Damar, adipati Palembang. Raden Patah lahir dan dibesarkan di Palembang. Kemudian hari Raden Patah diangkat oleh ayahnya menjadi Pangeran Adipati Bintara (Demak). Di situlah ia membangun pesantren dan Masjid Agung Demak atas bantuan para wali yang lain. Yang menjadi pertanyaan, apakah benar Raden Patah atau Panembanan Fatah pelaku kudeta atas kekuasaan sang ayah? Saya akan menguraikannya di bawah ini.

Sebenarnya kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Prabu Brawijaya V (Kertabumi) dihancurkan oleh serangan Raja Girindrawardhana dari kerajaan Hindu asal Kediri. Ini merupakan balas dendam atas serangan Widjaja (Pembangun Kerajaan Majapahit) terhadap Kerajaan Hindu Kediri dengan menggunakan tentara Kubilai Khan. Tentara Kubilai Khan tujuan awalnya untuk menyerang Raja Kartanegara yang telah menghina utusan Raja Kubilai Khan. Karena ketidaktahuan bahwasanya Raja Kartanegara sudah tidak berkuasa lagi, tentara Kubilal Khan dimanfaatkan oleh Widjaja untuk menyerang Kerajaan Hindu Kediri yang dipimpin oleh raja Djajakatwang, 1292 M.[1]

Sementara M.C. Ricklefs dalam bukunya menyebutkan bahwasanya kerajaan Majapahit ditaklukkan oleh negara lain yang belum menganut agama Islam. Pusat kerajaan Hindu-Budha dipindahkan ke Kediri. Apakah kerajaan tersebut berada di bawah nama Majapahit, belum ada kejelasan menurutnya.
 
Dalam kesempatan ini, para wali mengangkat Raden Patah sebagai penerus keturunan Prabu Brawijaya V di Bintara Demak. Kelak namanya menjadi Kerajaan Islam Demak. Begitulah proses berdirinya kerajaan Islam Demak. Jadi tidak benar jika Raden Patah pelaku kudeta atas kerajaan ayahnya, Prabu Brawijaya V. Wallahu ‘alam.

Selesai di kaki gunung Gede Pangrango.






[1] Lihat buku Api Sejarah karya Ahmad Mansur Suryanegara hlm. 119-120

Artikel Terkait