Thursday, March 9, 2017

Mush’ab bin Umair, Duta Dakwah ke Madinah

Sebelum masuk Islam, Mush’ab seorang remaja yang parlente. Ia tampan, berpakaian rapi dan mewah, wangi harumnya semerbak, gadis mana yang tidak terpikat dengan dirinya? Ia memang menjadi bintang pujaan para gadis kota Mekkah. Semenjak mengenal Islam, ia rela hidup dengan sederhana, bahkan lebih dari itu. Selain berpakaian usang dan kasar, ia makan sehari dan beberapa hari kelaparan. Walaupun begitu, ia seorang sahabat Rosulullah yang mulia. Bagaimana bisa Mush’ab yang miskin dan melarat menjadi sahabat Nabi yang mulia? Simaklah alur kisahnya di bawah ini.

Ketika kaum Musyrikin Quraisy masih saja melakukan permusuhan terhadap Rosulullah Saw., beliau mulai berdakwah ke luar kabilah Quraisy. Setiap musim haji, beliau menggunakan kesempatan ini untuk berdakwah kepada setiap kabilah yang berhaji ke Baitullah. Walaupun gagal, setiap jamaah haji yang kembali pulang ke kampung halamannya membicarakan ajaran yang di bawa oleh Rosulullah. Pada musim haji tahun berikutnya tahun sebelas kenabian, beliau tetap berdakwah setiap kabilah yang sedang berhaji. Di sebuah tempat bernama Aqobah, beliau bertemu dengan sekelompok orang bani Khazraj dari Yastrib. Terjadilah dialog antara beliau dengan mereka, akhirnya mereka bersedia menganut agama Islam dan berjanji kembali tahun berikutnya.

Pada musim haji tahun kedua belas kenabian, datanglah 12 orang dari Madinah menemui Rosulullah Saw. di Aqobah. Mereka berbaiat kepada beliau untuk tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak, dan sebagainya. Peristiwa ini dikenal dengan Baiat Aqobah pertama. Setelah selesai pembaiatan, beliau mengutus Mush’ab bin Umair berangkat ke Yastrib (kemudian hari berganti menjadi Madinah) bersama mereka untuk mengajarkan bacaan al-Qur’an dan seluk beluk hukum agama Islam.

Di Yastrib (Madinah) tinggal di rumah As’ad bin Zurarah. Didampingi oleh As’ad, Mush’ab bin Umair berdakwah ke setiap kabilah, setiap rumah, dan setiap pertemuan kelompok. Suatu hari ketika ia berdakwah di hadapan sekelompok orang, ada seorang yang bernama Usaid bin Hudhair kepala suku dari kabilah Abdul Asyhal menodong Mush’ab dengan senjatanya. Dia resah dengan kegiatan dakwah Mush’ab kepada anak buahnya. Usaid berdiri, dan berkata kepada Mush’ab dan As’ad, “Apa tujuan kalian datang ke kampung kami ini, apakah kalian hendak membodohi rakyat kami? Tinggalkanlah tempat ini dengan segera, kalau tidak nyawa kalian akan melayang.”

Dengan ketenangan dan kecerdasannya, Mush’ab berkata, “Kenapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu? Andaikan anda menyukainya nanti, anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan menghentikan yang tidak anda sukai.”

Usaid berpikir juga ini cukup adil, akhirnya ia duduk mendengarkan dakwah yang disampaikan Mush’ab. Begitu mendengarnya, Usaid hatinya terbuka dan ingin menganut agama Islam. Belum selesai juga Mush’ab menyampaikan dakwahnya, Usaid berseru kepada sahabatnya, “Alangkah indah dan benar ucapannya. Apa yang harus kulakukan untuk menganut agama ini?” Mush’ab menyuruhnya untuk segera bersuci dan mengucapkan dua kalimat Syahadat. Kemudian Usaid pergi untuk mandi membersihkan diri, setelah itu dia kembali kepada Mush’ab untuk mengucapkan dua kalimat Syahadat. Semenjak Usaid masuk Islam, penduduk Yastrib (Madinah) banyak yang berbondong-bondong masuk Islam. Itulah kenapa Rosulullah memilih Mush’ab sebagai duta dakwah ke Madinah, karena kecerdasan dan tutur kata yang baik untuk mengislamkan pendudukan Madinah.

Pada musim haji tahun 13 kenabian, Mush’ab bersama 70 lelaki dan 2 wanita dari Madinah kembali ke Mekkah untuk menemui Nabi. Mereka berbaiat kepada Rosulullah Saw. untuk senantiasa membela Allah dan Rosul-Nya. Peristiwa ini dikenal dengan Baiat Aqobah II. Ketika hijrah ke Madinah, penduduknya kebanyakan sudah menganut agama Islam. Mereka menyambut Rosul bersama kaum Muhajirin Mekkah dengan suka cita.

Pada perang Uhud yang terjadi pada tahun ke 3 H, Mush’ab dipercayai oleh Rosulullah Saw. untuk memegang panji perang. Secara jumlah, pasukan musyrikin Quraisy lebih banyak daripada pasukan Islam. Namun Mush’ab seperti singa yang tidak kenal takut dengan siapa pun. Pasukan Islam berhasil memukul mundur pasukan musuh, dan hampir saja meraih kemenangan. Namun tanpa diduga pasukan pemanah Islam melanggar perintah Nabi, dan turun dari bukit berebut harta rampasan perang. Pasukan kuda yang dipimpin oleh Khalid bin Walid (masih musyrik) melihat kesempatan ini, ia berputar ke arah bukit itu dan menyerang pasukan Islam dari belakang. Situasi berbalik, pasukan Islam terjepit, porak poranda. Mush’ab menyadari situasi darurat ini, ia mengamuk bagaikan singa untuk melindungi Rosulullah. Sebelah tangannya memegang bendera perang, sebelah tangannya lagi memegang pedang untuk menebas musuh-musuhnya. Ia tetap bertahan untuk melindungi Rosulullah, datanglah pasukan berkuda, Ibnu Qumaiah namanya, menebas tangannya hingga putus. Mush’ab terus berteriak, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rosul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rosul.” Ia ambil bendera perang dengan tangan kirinya, musuh pun menebas tangannya hingga putus. Mush’ab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraihnya ke dada sambil berteriak, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rosul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rosul.” Lalu pasukan berkuda itu menyerang ketiga kalinya dengan tombak sampai patah. Akhirnya Mush’ab gugur, dan bendera perangnya jatuh.

 Menurut Muhammad Said Ramadhan al-Buthy, ketika Mush’ab bin Umair syahid, kain kafannya pun tidak cukup untuk mengafaninya. Melihat jasad Mush’ab bin Umair, Rosulullah menangis karena mengenang kemegahan dan kemewahan Mush’ab pada awal kehidupannya. Rosulullah kemudian bersabda;

“Tutuplah kain itu di atas kepalanya dan tutuplah kedua kakinya dengan pelepah.”



Selesai di kaki gunung Gede Pangrango
referensi utama,1. 60 karakteristik sahabat Nabi karya Khalid Moh. Khalid, 2. Sirah Nabawiyah karya Muhammad Said Ramadhan al-Buhty.

Artikel Terkait