Monday, March 23, 2020

23 Maret 1960 : Wafatnya Bediüzzaman Said Nursi, seorang ulama karismatik Turki

Novel API TAUHID karya Habiburrahman El-Shirazy telah mengenalkan secara luas sosok ulama karismatik Turki di Indonesia, yaitu Bediüzzaman Said Nursi.


Tentang Bediüzzaman Said Nursi, yuk simak tulisan dari Yusuf Maulana di bawah ini;

Hoja Said

23 Maret 1960, 60 tahun lalu. Bediüzzaman Said Nursi, ulama karismatik Turki, wafat. Meninggalkan banyak legasi bagi perjuangan umat Islam. "Risale-i Nur", renungan Qurani Said Nursi hanya salah satunya. Quran yang diamalkan Sang Keajaiban Zaman amat banyak lagi. Bagaimana ia menghadapi Mustafa Kemal dan Committee of Union and Progress' (CUP) yang ingin mensekulerkan negerinya.
Kendati di harapannya senjata dan penjara diperlihatkan, malahan ancaman mati ditebarkan rezim Kemalis, Bediüzzaman bergeming. Ia terus lantangkan gema perlawanan. Apatah lagi ia sadar para politikus "modern" negerinya yang semula berkomitmen menegakkan syariat Islam, ternyata bertindak sebaliknya.
Dalam pembatasan akses di ruang tahanan, Said Nursi tetap produktif berkarya. Baik amal nyata tindakan ataupun berwujud tulisan. Cerita bagaimana terlahir karya magnum opus "Risale-i Nur", sungguh mengagumkan dan mengharukan. Dalam keterbatasan media menulis, Said Nursi manfaatkan yang ada buat menuangkan renungan dan gagasan-gagasannya usai menyelami kandungan Quran.
Meski menolak penggunaan senjata dalam melawan rezim Kemalis, Said Nursi selalu dihadang untuk menyampaikan pesan-pesan Islam. Musababnya: rezim sadar betapa sekularisme racikan Sang Mustafa berdarah Yahudi Dönmeh itu takkan eksis selagi ada dakwah Said Nursi lewat Gerakan Nurculuk.
Demikianlah, sepanjang dekade 1930-1940, Said Nursi akrab dengan penjara. Justru dalam bui itu pula ia saksikan Kemal meregang nyawa lebih dulu pada 1938. Matinya Kemal tak berarti kebencian rezim sekuler pada Said Nursi terhenti. Sampai kemudian muncul nama Adnan Menderes naik ke tampuk kekuasaan Republik Turki mengalahkan partai Kemalis, CHP. Resminya pada 22 Mei 1950. Menderes juga yang nantinya membebaskan Said Nursi, baik dari bui hingga aktifitas dakwah.
Naiknya Menderes, bahkan berkuasa hingga dua periode selama 10 tahun, menjadi masa kelam pendukung Kemalis. Tak ayal, Menderes dianggap ancaman amat sangat besar atas konstitusi negara Turki: sekularisme. Dua bulan selepas Said Nursi wafat, pada 27 Mei 1960, pemerintahan Menderes dikudeta Cemal Gürsel dengan tuduhan mengubah konstitusi negara. Alasan lain: korupsi dan melanggar HAM akibat penindasan pada demonstran. Dengan tuduhan yang memang sudah diskenariokan, bagaimanapun Menderes harus "lenyap". Pada 17 November 1961 bersama dua menterinya, Menderes digantung rezim hasil kudeta. Tak puas sampai di situ, makam Bediüzzaman Said Nursi pun dibongkar. Jenazah sang Hoja diambil lalu dibuang di tempat yang hingga kini sekadar dugaan. Said Nursi dan Akan Menderes seolah satu paket di benak rezim Kemalis: tak boleh mengubah arus sejarah bagi generasi esok.
Tapi rezim lupa betapa legasi berwujud tulisan dan ingatan serta amalan almarhum tak bakal lekang. Pada Said Nursi semisal, karyanya yang kelak dibukukan, menjadi bacaan peningkat kesadaran anak muda Islam di alaf baru. Hadirnya abad baru ke-14 Hijriyah, nama Said Nursi tak bisa dilesapkan begitu saja di Turki. Maka, sangat tepat kalau ada yang berhujah andaikata tak ada sosok seperti Said Nursi, takkan ada kisah epik jihad politik-sosial Necmettin Erbakan, Recep Tayyip Erdoğan, dan Fethullah Gülen. Dari sini kita mafhum bahwa kepahlawanan itu bukan untuk dikultuskan, melainkan dikulturkan legasi juangnya agar tersambung dalam mata rantai keilmuan dengan generasi berikutnya.
Salah satu amal Qurani yang dipraktikkan Said Nursi adalah komitmennya untuk mendukung sesiapa saja dari anasir umat yang ingin menegakkan agama Allah. Said Nursi semasa dengan Hasan al-Banna di Mesir. Dan Said Nursi paham bagaimana pesona berikut keunggulan Ikhwanul Muslimun secara objektif. Nama Ikhwan bergema hingga ke Turki karena sejatinya hadirnya Ikhwan juga masih terkait respons atas runtuhnya kekhilafahan Utsmaniyah oleh Mustafa Kemal.
Serupa dengan Abul A’la al-Maududi di Pakistan, Nursi pun menyambut gerakan Ikhwan sebagai saudara perjuangan tanpa harus ada perleburan ataupun penggabungan organisasi mereka. Ikhwan tetap Ikhwan, Nurculuk tetap Nurculuk. Tapi keduanya ikhwah, bersaudara erat.Sebuah Nursi pernah berkirim surat kepada al-Banna. Sebuah surat yang konon jadi ingatan penting pengikut Nursi di kemudian hari soal ukhuwah islamiyyah.
“Kami adalah Ikhwan kalian di Turki!” sebut Nursi dalam salah satu kalimatnya kepada al-Bana.
Dalam konferensi keislaman, slogan senada didengungkan jamaah Nurculuk kala bertemu para aktivis Ikhwan, seperti “Kita bersaudara”, “Kita satu”, “kita sama”.
Pada sosok seperti Hoja Said Nursi, yang lahiriah tak pernah serukan kekerasan, malah musuh-musuh Islam begitu sengit membenci. Padahal, Said Nursi tak punya kuasa apa pun selain iman dan Quran di dada. Hal yang kelak ditakuti juga rezim Mesir pada sahabat Said Nursi: Hasan al-Banna, yang mendahuluinya pada 12 Februari 1949 berjumpa Allah dalam Naungan-Nya, insyaa-Allah. []
Foto-foto: komunitas pencinta Bediüzzaman Said Nurs

Sumber : FB




Artikel Terkait