Salah satu sahabat Nabi bernama Khabbab ibnul Arit mengalami
memar dan babak belur sekujur tubuhnya menemui Rosulullah yang sedang berteduh
di Ka’bah. Lalu ia berkata, “Wahai Rosulullah, apakah anda tidak memohonkan
pertolongan kepada Allah bagi kami?” Beliau menjawab, “di antara orang-orang sebelum kamu dahulu
ada yang disiksa dengan ditanam hidup-hidup, ada yang dibelah kepalanya menjadi
dua, dan ada pula yang disisir rambutnya dengan sisir besi hingga kulit kepalanya
terkelupas. Akan tetapi, siksaan-siksaan itu tidak menggoyahkan tekad mereka
untuk mempertahankan agama. Demi Allah, Allah akan mengakhiri persoalan itu
sehingga orang berani berjalan dari Shan’a ke Hadhramaut tanpa rasa takut
kepada siapa pun juga selain Allah dan hanya takut kambingnya disergap
serigala. Akan tetapi, kalian tampak terburu-buru.”[1]
Berbagai siksaan, penderitaan, dan kesulitan yang dialami oleh Nabi dan para sahabatnya
merupakan sunnah Ilahiyah. Para Nabi
dan pengikutnya terdahulu mengalami berbagai penderitaan ketika menegakkan
agama Allah. Ini merupakan taklif bagi
manusia di dunia ini. Taklif ialah
beban yang harus ditanggung, maksudnya ada proses dan resiko ketika seseorang
dibebani untuk melaksanakan perintah dakwah dan berjihad menegakkan kalimat
Allah.
Menurut Muhammad Said Ramadhan al-Buthy, taklif merupakan konsekuensi terpenting
dari ‘ubudiyah[2] ke
Allah. Tidak ada arti ‘ubudiyah kepada
Allah jika tanpa taklif. ‘Ubudiyah mengharuskan adanya taklif, sementara taklif menuntut adanya kesiapan menanggung beban dan perlawanan
terhadap hawa nafsu dan syahwat. Karena
itu, kewajiban hamba Allah di dunia ini ada dua, yaitu;
1.
Berpegang teguh pada Islam dan membangun
masyarakat Islam yang benar
2.
Menempuh segala kesulitan dan menghadapi segala resiko dengan mengorbankan nyawa dan
harta demi mewujudkan kewajiban tersebut.
Selain merupakan beban yang harus ditanggung oleh Nabi dan
umatnya (sampai hari ini), berbagai cobaan untuk memperjelas siapa yang
benar-benar tulus untuk memperjuangkan agama Allah, dan mana orang-orang yang
berdusta (munafik, fasik). Karena Surga itu diperuntukkan bagi orang-orang yang
benar-benar beriman, bukan untuk orang-orang yang berpura-pura apalagi
berdusta. Benarlah firman Allah Swt.;
“Alif Laam Mim. Apakah manusia itu
mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedang
mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang
sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar, dan
sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” Al-Qur’an Surat Al-Ankabut (29) : 1-3
“ Apakah kamu mengira bahwa kamu
akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di
antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.” Al-Imran (3) : 142.
”..... Demi Allah, Allah akan mengakhiri persoalan itu sehingga orang berani
berjalan dari Shan’a ke Hadhramaut tanpa rasa takut kepada siapa pun juga
selain Allah dan hanya takut kambingnya disergap serigala. Akan tetapi, kalian
tampak terburu-buru.” Hadist riwayat Bukhori.
Terkait dengan perkataan Nabi Saw. di atas, ini merupakan
janji bahwasanya Allah akan memenangkan hamba-hamba-Nya yang berjuang
menegakkan agama-Nya. Mewujudkan janji tersebut harus disertai dengan sikap
sabar, bukan dengan terburu-buru. Artinya harus ada perencanaan yang matang
dalam tahapan-tahapan dakwah. Oleh karena itu para sejarawan muslim dan para
ulama membagi dua periode dakwah Nabi ini, pertama
Dakwah periode Mekkah, dan kedua Dakwah
periode Madinah. Agar menjadi pelajaran yang penting bagi umatnya dalam memperjuangkan
agama Allah.
Di lain waktu, Rosulullah selalu mengabarkan berita gembira
bahwa Allah akan menaklukkan negeri Persia dan Romawi kepada para sahabatnya.
Walaupun dua imperium raksasa tersebut baru ditaklukkan setelah Rosulullah
wafat. Artinya Rosulullah adalah seorang
visioner ulung, beliau menetapkan tujuan akhir dan selalu menekankan pentingnya
kesabaran. Kesabaran adalah nafas perjuangan, dan kesabaran merupakan jalan
menuju kemenangan. Benar sekali firman Allah Swt. dalam kitab-Nya, QS. Al-Anfal (8) : 65-66, bahwa 20
orang yang bersabar akan mengalahkan 200
musuh, 100 orang yang sabar akan mengalahkan 1000 musuh, atau 1000 orang yang bersabar
akan mengalahkan 2000 musuh dan seterusnya. Pertolongan Allah itu sangat dekat,
dan Allah selalu bersama orang-orang yang sabar.
Selesai di kaki gunung Gede Pangrango.
