Ibrah Berbagai Cobaan (14)


Salah satu sahabat Nabi bernama Khabbab ibnul Arit mengalami memar dan babak belur sekujur tubuhnya menemui Rosulullah yang sedang berteduh di Ka’bah. Lalu ia berkata, “Wahai Rosulullah, apakah anda tidak memohonkan pertolongan kepada Allah bagi kami?” Beliau menjawab,  “di antara orang-orang sebelum kamu dahulu ada yang disiksa dengan ditanam hidup-hidup, ada yang dibelah kepalanya menjadi dua, dan ada pula yang disisir rambutnya dengan sisir besi hingga kulit kepalanya terkelupas. Akan tetapi, siksaan-siksaan itu tidak menggoyahkan tekad mereka untuk mempertahankan agama. Demi Allah, Allah akan mengakhiri persoalan itu sehingga orang berani berjalan dari Shan’a ke Hadhramaut tanpa rasa takut kepada siapa pun juga selain Allah dan hanya takut kambingnya disergap serigala. Akan tetapi, kalian tampak terburu-buru.”[1]

Berbagai siksaan, penderitaan, dan kesulitan  yang dialami oleh Nabi dan para sahabatnya merupakan sunnah Ilahiyah. Para Nabi dan pengikutnya terdahulu mengalami berbagai penderitaan ketika menegakkan agama Allah. Ini merupakan taklif bagi manusia di dunia ini. Taklif ialah beban yang harus ditanggung, maksudnya ada proses dan resiko ketika seseorang dibebani untuk melaksanakan perintah dakwah dan berjihad menegakkan kalimat Allah.

Menurut Muhammad Said Ramadhan al-Buthy, taklif merupakan konsekuensi terpenting dari ‘ubudiyah[2] ke Allah. Tidak ada arti ‘ubudiyah kepada Allah jika tanpa taklif. ‘Ubudiyah mengharuskan adanya taklif, sementara taklif menuntut adanya kesiapan menanggung beban dan perlawanan terhadap hawa nafsu dan syahwat.  Karena itu, kewajiban hamba Allah di dunia ini ada dua, yaitu;

1.       Berpegang teguh pada Islam dan membangun masyarakat Islam yang benar
2.       Menempuh segala kesulitan dan menghadapi  segala resiko dengan mengorbankan nyawa dan harta demi mewujudkan kewajiban tersebut.

Selain merupakan beban yang harus ditanggung oleh Nabi dan umatnya (sampai hari ini), berbagai cobaan untuk memperjelas siapa yang benar-benar tulus untuk memperjuangkan agama Allah, dan mana orang-orang yang berdusta (munafik, fasik). Karena Surga itu diperuntukkan bagi orang-orang yang benar-benar beriman, bukan untuk orang-orang yang berpura-pura apalagi berdusta. Benarlah firman Allah Swt.;

Alif Laam Mim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar, dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” Al-Qur’an Surat Al-Ankabut (29) : 1-3

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.” Al-Imran (3) : 142.

”..... Demi Allah, Allah akan mengakhiri persoalan itu sehingga orang berani berjalan dari Shan’a ke Hadhramaut tanpa rasa takut kepada siapa pun juga selain Allah dan hanya takut kambingnya disergap serigala. Akan tetapi, kalian tampak terburu-buru.” Hadist riwayat Bukhori.

Terkait dengan perkataan Nabi Saw. di atas, ini merupakan janji bahwasanya Allah akan memenangkan hamba-hamba-Nya yang berjuang menegakkan agama-Nya. Mewujudkan janji tersebut harus disertai dengan sikap sabar, bukan dengan terburu-buru. Artinya harus ada perencanaan yang matang dalam tahapan-tahapan dakwah. Oleh karena itu para sejarawan muslim dan para ulama membagi dua periode dakwah Nabi ini, pertama Dakwah periode Mekkah, dan kedua Dakwah periode Madinah. Agar menjadi pelajaran yang penting bagi umatnya dalam memperjuangkan agama Allah.

Di lain waktu, Rosulullah selalu mengabarkan berita gembira bahwa Allah akan menaklukkan negeri Persia dan Romawi kepada para sahabatnya. Walaupun dua imperium raksasa tersebut baru ditaklukkan setelah Rosulullah wafat.  Artinya Rosulullah adalah seorang visioner ulung, beliau menetapkan tujuan akhir dan selalu menekankan pentingnya kesabaran. Kesabaran adalah nafas perjuangan, dan kesabaran merupakan jalan menuju kemenangan. Benar sekali firman Allah Swt. dalam kitab-Nya, QS. Al-Anfal (8) : 65-66, bahwa 20 orang yang bersabar akan mengalahkan  200 musuh, 100 orang yang sabar akan mengalahkan 1000 musuh, atau 1000 orang yang bersabar akan mengalahkan 2000 musuh dan seterusnya. Pertolongan Allah itu sangat dekat, dan Allah selalu bersama orang-orang yang sabar.
Selesai di kaki gunung Gede Pangrango.





[1] Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam Sirah Nabawiyahnya karya Muhammad Said Ramadhan al-Buthy.
[2]Menurut Fetehullah Gulen, "ubudiyah" yang berarti: Selalu memiliki kesadaran sebagai hamba dari Allah s.w.t.

0/Post a Comment/Comments