Karena Muis, Buton Utara menggema di Istana...

[wartanusantara.idSelain Apriyani Rahayu, ada satu lagi generasi emas Sulawesi Tenggara yang diberi penghargaan langsung oleh Bapak Presiden.


Dia adalah Muis...

Nama lengkapnya Laode Abdul Muis Samadin



Sama dengan Apriyani, Muis juga mencipta sejarah. Ia adalah orang pertama di Sulawesi yang meraih penghargaan ADHIMAKAYASA, gelar yang baru di berikan kepada 55 orang putera terbaik bangsa sejak AKABRI UDARA berdiri. 


*


"Dari mana?", Tanya pak presiden pagi itu.


"Siap, dari Buton Utara Provinsi Sulawesi Tenggara", jawab Muis tegas.


Begitulah Muis, pemuda ini tidak pernah lupa darimana dia berasal. Padahal pagi itu, bisa saja dia menyebut nama daerah lain yang lebih familiar daripada Buton Utara. Bukankah itu lebih mudah diingat? 


Sebelum ia dipanggil ke istana, Muis sudah melalui serangkaian acara penghargaan dari Gubernur AAU. Dihadapan mereka dan dihadapan wartawan, Ia dengan bangga menceritakan masa kecilnya yang tumbuh di pesisir laut Lasora.


Ayahnya, Alm Drs. Samadin bin La Ode Biru adalah seorang pensiunan PNS yang banyak mendedikasikan hidupnya di lautan. Itulah sebabnya mengapa Muis lebih dikenal sebagai seorang anak nelayan. Sementara Ibunya, Wa Ode Hasrida binti La Ode Muh. Kasim hanyalah Ibu rumah tangga biasa yang sehari-hari sibuk mengurusi rumah beserta Muis dan keempat saudaranya. Terkadang, Ibu Muis juga ikut turun tangan menjual ikan di pasar untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.


Muis kecil sangat akrab dengan kehidupan laut. Dari ayahnya, ia belajar bagaimana cara menaklukkan gelombang dan bagaimana cara menangkap ikan dengan benar. Banyak filosofi hidup yang ia pelajari dari lautan. Laut berhasil memahat tekadnya yang kuat sehingga ia mampu menembus segala dinding penghalang demi mengharumkan keluarga dan tanah leluhurnya, Buton Utara.

 

Lalu bagaimana cerita Muis hingga ia bisa menembus AAU?


Sejak kecil Muis sudah bercita cita ingin menjadi tentara. Akhirnya peluang mewujudkan mimpi itu datang. Setelah ujian SMA, ia mendengar kabar gembira bahwa AAU membuka 'pintu' lebar-lebar bagi putera-puteri terbaik bangsa untuk mengabdikan dirinya pada negara. Dengan girang, Muis memberanikan diri ikut tes.


Awalnya, banyak yang tidak tahu Muis tes perwira TNI. Di rumahnya juga tidak terlihat jika Muis tengah latihan fisik dengan ketat. Ayahnya menyiapkan segala keperluan latihan itu di rumah.


Perjalanan Muis menuju gerbang AAU tidaklah semudah yang orang-orang pikirkan. Signal dipelosok Buton Utara yang muncul tenggelam hanyalah salah satu dari "derita" Muis saat mendaftar AAU.


Setelah dinyatakan lulus pendaftaran, Muis kemudian berlayar menuju Makassar untuk melanjutkan tahap berikutnya di LANUD HASANUDDIN. Muis tahu persis bahwa untuk menjadi seorang perwira, kedisiplinan adalah salah satu modal utamanya. Karena itu, di hari pertama pendaftaran di LANUD, ia adalah calon taruna pertama yang hadir. Muis sangat bersemangat.


Setelah di tempa di LANUD HASANUDDIN, Masih banyak tahapan yang harus Muis lalui agar bisa menyandang gelar Taruna AAU. Ia kemudian lanjut mengikuti seleksi tingkat nasional di LANUD ADISUDJIPTO, Jogyakarta. Berkat usahanya yang gigih dan dibarengi doa orang tua, Muis kemudian dinyatakan lolos untuk mengikuti pendidikan di AKMIL Magelang.


Di Magelang, Muis melalui pendidikan tahap 1 dengan gabungan 4 matra : AAU, AKMIL, AAL, dan AKPOL. Di tahap ini, Muis sudah menorehkan prestasi. Ia dinobatkan sebagai terbaik 1 taruna AAU. Pendidikan 4 Matra itu di tempuhnya selama 1 tahun sebelum menjalani pendidikan selama 3 tahun di AAU, Jogyakarta. 


Prestasi Muis makin berkibar di pendidikan tingkat 2. Di tingkat ini, Ia meraih prestasi Tanggap emas, Tanggon emas, dan Trengginas emas. Sekedar diketahui, Tanggap artinya kemampuan taruna dalam hal Intelektual dan kemampuan diri, Tanggon artinya kemampuan taruna dalam hal kepribadian, dan Trengginas artinya kemampuan taruna dalam hal jasmani. 


Menjelang berakhirnya pendidikan tingkat 2, semua taruna dalam 4 tingkat bersama-sama melewati tahap fisik yang ketat. Diantara semua taruna, ada satu siswa yang angkanya 1.000 alias sempurna. Dia adalah Muis, anak kampung dari Buton Utara. 


Atas banyak prestasi yang ia ukir selama pendidikan, Muis kemudian dinobatkan sebagai lulusan terbaik Akademi Angkatan Udara, dan diberikan penghargaan ADHIMAKAYASA. Sebuah prestasi yang layak disematkan kepada anak bangsa ini. Kegigihannya dalam melewati setiap proses kehidupan, adalah sebuah contoh yang baik bagi generasi bangsa ini ke depan. Walau lahir dari tanah pelosok dan berasal dari keluarga nelayan, Muis tak pernah malu untuk berjuang dan terus bersemangat dalam hidup. Bagi Muis, selama kakinya masih menginjak di Bumi, maka selama itu pula harapan akan selalu ada bahkan bisa mengubah hal mustahil menjadi nyata, Asal tetap berusaha dan jangan lupa berdoa.


(Ditulis oleh Rizkia Milida, Dewan Pendiri Kopi Butur)


*


Inilah Biografi singkat pemuda hebat asal Buton Utara


Nama : Laode Abdul Muis Samadin

Tempat, Tanggal Lahir : Lasora, 13 Maret 1999

No. Akademi : 2017.416


Riwayat Jabatan:

1. Anggota Lemustar Tingkat II

2. Anggota Lemustar Tingkat III

3. Komandan Wingkorps Taruna 2020-2021


Prestasi:

1. Trengginas perunggu

2. Trisakti Viratama Emas

3. Trengginas Emas

4. Tanggon Emas

5. Trisakti Viratama Perak

6. Trengginas Perak

7. Tanggon Emas

8. Trisakti Viratama Perak

9. Tanggap Perak

10. Tanggon Emas

11. Juara 1 Military Penthatlon PIKTAR 2019

12. Sebagai siswa terbaik pada latihan "Jungle and Sea Survival".

13. Adhi Makayasa AAU 2021

14. Adhi Sakti Eletronika 2021


Asal Sekolah :

SDN 15 KULISUSU (2011)

SMP NEGERI 1 KULISUSU (2014)

SMA NEGERI 1 KULISUSU (2017)


Alamat : Lasora, Kel. Lakonea Kec. Kulisusu Kab. Buton Utara, Prov. Sulawesi Tenggara


Orang tua :

Ayah : Drs. Samadin (Alm)

Ibu    : Wa Ode Hasrida 


Saudara :

Muh. Sairman Sahadia, S.H (kakak ipar)

Ivon Irianthy Samadin, S,K.M

Thytien Yuliana Samadin S,K.M

Ecko Ardian Samadin

Eiliyah Farha Sairman (Keponakan)

0/Post a Comment/Comments