Ditulis oleh Nailah Syakilatul Janah
Mahasiswa STEI SEBI Depok
WARTANUSANTARA.ID|PENDIDIKAN-- Apa itu musik klasik? Bagaimana pengaruhnya dengan kecerdasan anak? Tentunya sebagian orang ada yang belum mengetahui tentang pembahasan mengenai ini. Mari kita bahas agar pembaca lebih paham.
Musik klasik adalah komposisi musik yang lahir dari budaya Eropa sekitar tahun 1750-1825. Biasanya musik klasik digolongkan melalui periodisasi tertentu, mulai dari periode klasik, diikuti oleh barok, rokoko, dan romantik. Pada era inilah nama-nama besar seperti Bach, Mozart, atau Haydn melahirkan karya-karyanya yang berupa sonata, simfoni, konserto solo, string kuartet, hingga opera. Namun pada kenyataannya, para komposer klasik sendiri tidak pernah menggolong-golongkan jenis komposisi yang mereka gubah. Penggolongan yang kita kenal sekarang dilakukan semata-mata untuk mempermudah, terutama untuk kepentingan akademis.
Tidak hanya itu juga temen- temen, musik klasik memiliki beberapa manfaat yaitu:
-Yang pertama ialah dapat memberimu ketenangan ketika mendengarkannya. Rasanya seperti tekanan darah kamu menjadi rendah dan kamu merasa jauh lebih rileks. Hal ini juga membuat jantung bisa bekerja lebih tenang dan pastinya apabila kamu sedang merasa stres, maka stres yang kamu rasakan juga mudah hilang.
Selain itu, mendengarkan musik klasik juga membantu mengurangi rasa gelisah, hal ini terjadi karena ketika kamu sedang mendengarkan musik, kadar darah didalam tubuh menurun. Tidak hanya kadar darah, jantung juga dapat merespon frekuensi musik klasik. Jantung mengikuti ritme musik.
-Yang kedua melatih kemampuan otak manfaat musik klasik selain membuat kita merasa lebih tenang, mendengarkannya juga dapat membantu melatih kemampuan otak. Hal ini dikarenakan musik dapat merangsang perkembangan sel-sel otak yang sangat penting pada masa tumbuh kembang . Saat yang paling pesat yaitu terjadi pada awal masa kehamilan hingga bayi berumur tiga tahun.
Karena manfaatnya yang dapat membuat kerja otak lebih optimal, musik klasik menjadi siaran wajib dibanyak tempat bimbingan belajar. Mereka sengaja memperdengarkan musik klasik agar siswa siswinya bisa fokus pada bahan ajaran sekaligus lebih berkonsentrasi
-Yang ketiga memancing emosional otak ialah dapat memancing rasa emosional seseorang. Studi yang dilakukan oleh Universitas Southern Methodis mengadakan penelitian pada orang dengan cara meminta responden menulis cerita spesifik dalam kehidupannya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang mendengarkan musik klasik saat bercerita, akan lebih terbawa emosi dan terbuka. Hal ini terjadi karena pada saat menulis sambil mendengarkan musik, alunan musik memengaruhi emosi responden untuk mengingat semua peristiwa dan tanpa sadar menjadi terbuka untuk menceritakannya maupun menuliskannya.
-Yang keempat meredakan kecemasan adalah mampu meredakan tingkat kecemasan seseorang. Terhubung dengan penjelasan sebelumnya, kita mengetahui bahwa musik klasik dapat membuat seseorang merasa tenang, maka dari itu, ia juga mampu meredakan kecemasan seseorang.
Biasanya orang yang sedang mengalami kesedihan atau ketakutan akan sesuatu sehinggan membuatnya merasa cemas dan gelisah akan mendengarkan musik-musik yang bernada tenang, seperti musik klasik. Tujuannya agar ia mendapatkan sugesti ketenangan dari musik yang didengarkan.
-Yang terakhir meningkatkan produktivitas. Manfaat musik klasik yang perlu kamu tahu adalah mampu meningkatkan produktivitas. Ada orang-orang yang hanya bisa mengerjakan sesuatu jika sambil mendengarkan musik dan tentunya musik klasik adalah alternatif terbaik. Selain ritmenya yang tenang, kamu juga tetap bisa fokus mengerjakan tugasmu tanpa takut terganggu atau terdistraksi.
Biasanya metode ini digunakan oleh para karyawan atau pelajar dalam menyelesaikan tugas mereka. Agar tidak mudah bosan, mereka mendengarkan musik seperti musik klasik, instrumen, serta musik lainnya agar tetap menikmati momen pekerjaan mereka dalam waktu lama tanpa perlu merasa penat dan mengantuk.
Dan apasih hubungannya dengan kecerdasan anak? Tentunya banyak sekali Kalau kita lebih banyak menikmati elemen intelektual dalam pengertian melodi, harmoni, atau aspek komposisi lainnya, maka jadilah ia musik klasik. Tapi kalau kita berpegang pada pengertian yang pertama tadi, maka jelas jenis musik ini tidak masuk dalam pengertian musik klasik. Untuk ini tersedia genre tersendiri, yaitu “new age”, atau terkadang juga digolongkan sebagai “art music”. Musik tidak cuma merupakan materi hiburan yang memanjakan telinga. Alunan suara yang berirama ini bisa dimanfaatkan untuk merangsang janin agar kelak menjadi anak cerdas dan kreatif. Bahkan musik bisa dipakai untuk memutar janin sungsang kembali ke posisi normal. Dibandingkan dengan kemampuan rata-rata anak seusianya, anak dari Ny. Ir. Catharina (30) jauh lebih baik. Ketika berusia dua bulan, anaknya sudah bisa tertawa terbahak-bahak. Di usia 3,5 bulan, sudah bisa melepas kacamata kakeknya. Bahkan, ketika umurnya menginjak empat bulan, sudah bisa bersalaman. Semua itu bukan tanpa sebab. Ketika hamil, Ny. Catharina ingat cerita orang tuanya bahwa musik klasik karya Wolfgang Amadeus Mozart bisa membuat perkembangan otak belahan kanan janin dalam kandungan menjadi lebih baik sehingga meningkatkan kemampuan afektif si anak. Dari situlah ia lalu berusaha untuk selalu mendengarkan musik klasik.( Sumber : Majalah Intisari). Selain memberi rangsangan psikologis, musik ternyata juga dapat memberi stimulasi untuk perkembangan kecerdasan anak. Musik yang sudah diperkenalkan pada anak sejak masih berada dalam kandungan akan merangsang perkembangan otak kanannya yang memang berkaitan dengan perkembangan kreatif, perasaan, gaya bahasa, irama musik, warna, sosialisasi dan perkembangan kepribadian. Hal ini pun dibuktikan melalui penelitian yang dilakukan oleh University of Texas di Austin, Texas. Hasil penelitiannya mengatakan bahwa anak yang diperdengarkan musik klasik menunjukkan tingkat emosi yang lebih stabil dibandingkan dengan anak yang diperdengarkan musik rock.
Maka musik begitu diterima oleh indera pendengaran kita maka ia merambah masuk melalui saraf pendengaran , diterima ,diartikan di otak , dan apabila musik itu bagus maka ia turut mempengaruhi suatu organ di otak yang bernama system limbic, dimana setelah perangsangan itu maka akan terlibatlah unsur emosi yang kita miliki sehingga akan mempengaruhi semua metabolisme otak kita kemudian ditemukan pula bahwa ternyata nada nada yang sangat baik bagi “makanan” otak kita adalah nada nada dengan frekuensi tinggi. Banyak orang yang berpendapat bahwa semua musik klasik adalah sama saja, entah itu Mozart, Beethoven, Bach, Chopin, atau “si raja Waltz” Strauss sekalipun dan ternyata mengapa Mozart seringkali dijadikan acuan , karena selain rentang nada yang sedemikian luas dari lagu lagu karyanya, ditambah lagi dengan tempo yang sedemikian dinamis ternyata hampir semua karya karya Mozart memiliki nada nada dengan frekuensi tinggi sehingga pada penelitian penelitian , seringkali didapatkan hasil bahwa musik dari Wolfgang Amadeus Mozart-lah yang paling optimal dalam meningkatkan fungsi otak kita ; selain itu baru hal “relative” terbaru yang didapat adalah bahwa selain musik Mozart. Ternyata musik dari lagu lagu Gregorian ( chant of Gregorian ) khususnya dari jaman rahib Dom Moquereau dan Dom Gajard sangat baik dalam mengisi “baterei otak” dan juga memiliki kualitas penyembuhan tertentu . Lagu lagu Gregorian , seperti kita ketahui tidak memiliki tempo, atau ketukan irama irama yang dibentuk ternyata terlahir dari irama irama fisiologis, seperti pernafasan dan detak jantung kidung Gregorian memberi energi dan kedamaian batin pada orang yang menyanyikan dan mendengarkannya ia juga menjaga tubuh dan pikiran manusia agar berada dalam kesadaran yang tenang ; dan dari hasil penelitian yang paling baru ternyata juga ditemukan bahwa bunyi ” Om,, suara bhiksu dan suara orang mengaji juga memiliki kualitas yang kurang lebih sama dengan chant of Gregorian.
Sumber :
https://id.scribd.com/doc/79572248/karya-ilmiah-pengaruh-musik-klasik-terhadap-kecerdasan-intelektual
https://jurnal.untan.ac.id/index.php/jpdpb/article/download/5922/6874
https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/4356/
.png)