Budiman Sudjatmiko Pilih Prabowo, PDIP Siapkan Sanksi Tegas

(Foto : Detik)

[WARTANUSANTARA.ID] Politikus PDI Perjuangan (PDIP) Budiman Sudjatmiko menjadi sorotan publik setelah menyatakan dukungannya kepada Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sebagai bakal calon presiden (bacapres) untuk Pilpres 2024. Sikap Budiman ini dinilai bertentangan dengan arah politik partainya yang mengusung Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sebagai capres.

Budiman Sudjatmiko merupakan mantan aktivis 98 yang pernah menjadi tahanan politik Orde Baru karena dituduh sebagai dalang insiden penyerbuan kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia pada 27 Juli 1996. Dia juga merupakan pendiri Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang sempat dilarang oleh rezim Soeharto.

Setelah mendapat amnesti dari Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada tahun 1999, Budiman melanjutkan pendidikannya di Inggris dan bergabung dengan PDIP pada tahun 2004. Dia berhasil menjadi anggota DPR dari PDIP pada tahun 2009 dan 2014. Selama di parlemen, Budiman dikenal sebagai inisiator dan pimpinan Rancangan Undang-Undang (RUU) Desa.

Namun, pada Pemilu 2019, Budiman tidak lolos ke parlemen. Dia pernah mengatakan bahwa sebenarnya dia sudah tidak berniat mencalonkan lagi menjadi wakil rakyat karena sudah dua kali duduk di DPR. Di luar politik, Budiman juga aktif menulis di sejumlah media massa dan menerbitkan beberapa buku.

Kini, Budiman terancam dipecat dari PDIP setelah mendeklarasikan diri sebagai relawan Prabowo Subianto atau Prabu pada Jumat (18/8/2023). Dia mengatakan bahwa dia mendukung Prabowo karena melihat visi dan misi yang sejalan dengan aspirasi rakyat.

"Kami melihat Pak Prabowo memiliki visi dan misi yang sangat jelas untuk membangun Indonesia yang lebih adil, makmur, dan berdaulat. Kami juga melihat Pak Prabowo memiliki komitmen yang kuat untuk mewujudkan reforma agraria, reforma birokrasi, dan reforma ekonomi," kata Budiman saat deklarasi Prabu di Semarang.

Dukungan Budiman kepada Prabowo menuai reaksi keras dari kubu PDIP. Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menyebut bahwa Budiman telah melakukan pembajakan terhadap kader partainya. Hasto juga mengatakan bahwa Dewan Kehormatan PDIP akan memberikan sanksi tegas kepada Budiman.

"Sanksi akan kami umumkan besok. Kami akan memberikan sanksi yang tegas sesuai dengan mekanisme organisasi," ujar Hasto di Balikpapan pada Minggu (20/8/2023).

Hasto menilai bahwa sikap Budiman menunjukkan ketidakpercayaan diri kubu Prabowo dalam menghadapi Pilpres 2024. Dia juga mengecam upaya kubu Prabowo untuk memecah belah PDIP dengan cara membujuk rayu kader-kadernya.

"Setelah mengeroyok Ganjar Pranowo, mereka masih menggunakan bujuk rayu kekuasaan mencoba bertindak tidak etis, terapkan devide at impera," kata Hasto.

Sementara itu, Prabowo Subianto mengaku senang dengan dukungan Budiman. Dia mengatakan bahwa dia pernah diperintah untuk mengejar-ngejar Budiman saat masih menjadi anggota Kopassus di era Orde Baru. Namun, dia mengaku sudah merasakan simpati kepada Budiman sejak dulu.

"Dulu saya diperintah untuk ngejar-ngejar saudara Budiman. Tapi sejak dulu dalam hati saya, saya sudah merasakan bahwa anak muda ini, karena 30 tahun yang lalu masih muda," kata Prabowo saat bertemu dengan Budiman di Taman Ismail Marzuki, Sabtu (19/8/2023).

Prabowo juga mengapresiasi perjuangan Budiman dalam memperjuangkan demokrasi dan kesejahteraan rakyat. Dia berharap bahwa Budiman bisa menjadi mitra kerja yang baik dalam membangun Indonesia.

"Saya menghormati perjuangan saudara Budiman, saya menghormati idealisme saudara Budiman, saya menghormati keberanian saudara Budiman. Saya berharap kita bisa bekerja sama untuk Indonesia yang lebih baik," ucap Prabowo.

Dengan adanya dukungan Budiman kepada Prabowo, maka muncul pertanyaan tentang nasib politik Budiman di PDIP. Apakah dia akan tetap bertahan di partai yang telah menaunginya selama ini, ataukah dia akan pindah ke partai lain yang lebih sejalan dengan pilihannya?

NewBing

0/Post a Comment/Comments