[WARTANUSANTARA.ID] Serangan Israel menyasar sebuah gedung perumahan di Doha yang menjadi tempat tinggal sementara para pemimpin Hamas. Mereka tengah membahas proposal gencatan senjata yang diajukan Presiden AS Donald Trump. Hamas menyebut serangan itu sebagai “kejahatan keji” dan “upaya terang-terangan menggagalkan perdamaian”.
Reaksi Keras dan Dugaan Keterlibatan Turki
Kementerian Luar Negeri Turki langsung mengeluarkan kecaman keras. Ankara menyebut serangan tersebut sebagai bukti bahwa Israel tidak menginginkan perdamaian dan justru berupaya memperpanjang konflik. Namun lebih dari sekadar kecaman diplomatik, sumber-sumber regional menyebut bahwa Turki telah memainkan peran intelijen aktif dalam melindungi delegasi Hamas.
Ada dugaan Intelijen Turki memberikan informasi ke Qatar sebelum roket pertama Israel menghantam sehingga keamanan Qatar bisa menyelamatkan sebagian pemimpin Hamas.
If the emerging accounts are accurate, what happened in Doha wasn’t a sudden, unannounced decapitation strike, it was an operation threaded through multiple intelligence channels, each deciding how far to intervene.
— Thomas Keith (@iwasnevrhere_) September 9, 2025
Salah satu pemimpin Hamas, Khalel Al Haya dikabarkan baik-baik saja pasca serangan.
Khalel Al Haya baik-baik saja. Zionis Israel berdusta (untuk ke sekian kalinya). pic.twitter.com/sNMyqxxPdm
— Azzam Mujahid Izzulhaq (@AzzamIzzulhaq) September 9, 2025
