[WARTANUSANTARA.ID] Bandung, 30 September 2025 — Dunia sastra Indonesia berduka atas kepergian Pipiet Senja, novelis produktif dan pejuang literasi yang wafat pada Senin malam, 29 September 2025 pukul 21.15 WIB di Depok, Jawa Barat.
Lahir di Sumedang pada 16 Mei 1956, Pipiet Senja—nama pena dari Etty Hadiwati Arief—adalah putri sulung dari Mayor CHB SM. Arief, seorang pejuang kemerdekaan, dan Hj. Siti Hadijah. Sejak usia 9 tahun, Pipiet berjuang melawan thalasemia, penyakit kelainan darah bawaan yang mengharuskannya menjalani transfusi darah seumur hidup.
Karya-Karya yang Menginspirasi Pipiet Senja telah menulis lebih dari 185 buku, termasuk novel-novel best seller seperti:
- Jejak Cinta Sevilla
- Cinta Dalam Sujudku
- Romansa 2 Benua
- Dalam Semesta Cinta
- Para Pencari Keadilan
- Dalam Kalam-Kalam Langit (yang telah diadaptasi ke layar lebar).
Ia juga dikenal sebagai mentor kepenulisan bagi santri dan Tenaga Kerja Wanita (TKW) di berbagai negara, serta pendiri Pipiet Senja Publishing House. Kiprahnya menjangkau 25 negara, dari Timur Tengah hingga Asia Tenggara.
Korban Kekerasan dan Keteguhan Hati Di balik prestasinya, Pipiet menyimpan luka sebagai penyintas kekerasan dalam rumah tangga. Sejak bercerai, ia tinggal menumpang di rumah anaknya dan tidak memiliki rumah pribadi. Meski demikian, semangatnya tak pernah padam. Ia tetap aktif menulis, menyunting biografi tokoh, dan mengisi seminar hingga akhir hayatnya.
Tanda-Tanda Perpisahan Menjelang wafat, Pipiet sempat mengunggah tulisan tentang tanda-tanda kematian pada 16 September 2025, seolah telah bersiap menghadapi takdir. Ia jatuh sakit saat menjenguk anaknya di Depok pada 25 September, dan akhirnya berpulang lima hari kemudian.
Kepergiannya meninggalkan jejak cinta, perjuangan, dan keberanian yang tak akan terlupakan.
Sumber:
Diolah oleh AI
