[WARTANUSANTARA.ID] Prabumulih, Sumatera Selatan — Dunia pendidikan kembali diguncang oleh keputusan kontroversial: pencopotan mendadak Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Prabumulih, Roni Ardiansyah, pada 15 September 2025. Roni, yang dikenal sebagai sosok inovatif dan berprestasi, diduga dimutasi setelah menegur seorang siswa yang membawa mobil ke sekolah—yang belakangan diketahui sebagai anak pejabat daerah.
Dampak Buruk terhadap Dunia Pendidikan:
1. Keteladanan Guru Terancam
Tindakan Roni mencerminkan keberanian moral dan komitmen terhadap disiplin. Ketika sikap seperti ini justru berujung pada pencopotan, pesan yang tersampaikan kepada guru lain adalah: “Jangan lawan kekuasaan.” Ini melemahkan semangat pendidik untuk menegakkan aturan dan membentuk karakter siswa.
2. Pendidikan Karakter Jadi Retorika
Pendidikan karakter, yang seharusnya menjadi fondasi kurikulum nasional, kehilangan makna jika guru yang menegakkan etika justru dihukum. Siswa pun bisa menyimpulkan bahwa status sosial lebih penting daripada tanggung jawab dan aturan.
3. Intervensi Politik dalam Sekolah
Dugaan bahwa pencopotan dipicu oleh teguran terhadap anak pejabatmenimbulkan kekhawatiran akan intervensi kekuasaan dalam institusi pendidikan. Sekolah seharusnya menjadi ruang netral yang bebas dari tekanan politik dan kepentingan pribadi.
4. Menurunnya Kepercayaan Publik
Video perpisahan Roni yang viral, memperlihatkan siswa menangis dan berlarian memeluknya, menunjukkan betapa besar pengaruh positif yang ia miliki. Pencopotan ini memicu kemarahan publik dan menurunkan kepercayaan terhadap sistem pendidikan yang seharusnya melindungi guru berintegritas.
Respons Pemerintah dan Klarifikasi
Kepala Dinas Pendidikan Prabumulih, A. Darmadi, membantah bahwa mutasi Roni terkait teguran terhadap anak pejabat. Ia menyebut mutasi sebagai bagian dari “penyegaran organisasi” dan juga menyinggung kasus lain di sekolah. Namun, publik tetap mempertanyakan transparansi dan akuntabilitas keputusan tersebut.
Sumber:
