[WARTANUSANTARA.ID] Ketika kita mendengar nama Bacharuddin Jusuf Habibie, yang terlintas pertama kali pasti adalah pesawat N-250 Gatotkaca atau teori crack. Namun, ada satu masterpiece Habibie yang sering terlupakan, padahal dampaknya kita rasakan hingga hari ini: Menyelamatkan Indonesia dari kebangkrutan total pada tahun 1998.
Saat Habibie dilantik menggantikan Soeharto pada 21 Mei 1998, Indonesia sedang dalam kondisi "koma". Inflasi meroket hingga hampir 80%, nilai tukar Rupiah hancur lebur, dan kerusuhan terjadi di mana-mana. Banyak pengamat asing memprediksi Indonesia akan bubar (balkanisasi).
Namun, hanya dalam waktu 17 bulan (512 hari) kepemimpinannya, Habibie membalikkan keadaan dengan cara yang dianggap mustahil. Bagaimana caranya? Berikut adalah jejak keberhasilan "Mr. Crack" dalam menambal keretakan ekonomi Indonesia.
1. Menjinakkan Rupiah: Dari Rp16.000 ke Rp6.500
Ini adalah prestasi paling fenomenal. Saat krisis moneter (krismon) memuncak, Dolar AS sempat menyentuh angka Rp16.800. Daya beli rakyat hancur.
Habibie tidak menggunakan cara konvensional. Ia menerapkan kebijakan moneter ketat namun terukur. Salah satu langkah kuncinya adalah memberikan independensi kepada Bank Indonesia (BI) melalui UU No. 23 Tahun 1999. BI tidak lagi boleh diintervensi pemerintah untuk mencetak uang sembarangan.
Hasilnya ajaib! Di akhir masa jabatannya, Rupiah menguat drastis ke level Rp6.500 per Dolar AS. Penguatan nilai tukar ini adalah yang tercepat dan terbesar dalam sejarah modern ekonomi dunia.
2. Menekan Inflasi Gila-gilaan
Tahun 1998, inflasi Indonesia mencapai angka mengerikan: 77,63%. Harga beras dan sembako naik setiap hari. Habibie fokus pada distribusi bahan pokok dan jaring pengaman sosial (Social Safety Net).
Dengan stabilnya Rupiah dan lancarnya distribusi, inflasi berhasil diredam secara drastis menjadi hanya 2% pada tahun 1999. Ekonomi yang tadinya minus (-) 13% mulai tumbuh positif kembali.
3. Reformasi Perbankan dan Lahirnya Bank Mandiri
Sektor perbankan saat itu kolaps. Banyak bank sakit karena kredit macet kronis. Habibie mengambil langkah tidak populer tapi perlu: menutup bank-bank yang tidak sehat dan menggabungkan (merger) empat bank pemerintah (Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Ekspor Impor Indonesia, dan Bapindo) menjadi satu bank super yang kuat: Bank Mandiri.
Ia juga membentuk Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) untuk memisahkan aset busuk dari aset sehat, sehingga kepercayaan investor perlahan kembali.
4. Demokrasi sebagai Kunci Stabilitas Ekonomi
Berbeda dengan pendahulunya yang menggunakan pendekatan keamanan (militer), Habibie percaya ekonomi akan tumbuh jika ada kebebasan. Ia membebaskan tahanan politik, membuka keran kebebasan pers, dan mengizinkan berdirinya partai politik baru.
Dunia internasional melihat Indonesia berubah menjadi negara demokratis. Kepercayaan (trust) dari IMF dan Bank Dunia pun kembali, sehingga aliran modal mulai masuk lagi ke Indonesia.
Kesimpulan: Sang Penyelamat yang Sering Dilupakan
B.J. Habibie membuktikan bahwa pendekatan rasional, teknokratis, dan demokratis mampu menyelamatkan negara dari kehancuran. Ia mewariskan pondasi ekonomi yang kuat yang kemudian diteruskan oleh presiden-presiden selanjutnya.
Habibie bukan hanya bapak teknologi, ia adalah Bapak Penyelamat Ekonomi Indonesia.
📚 Sumber Referensi Kredibel:
- Buku: Detik-Detik yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi karya B.J. Habibie (2006).
- Jurnal Ekonomi: Laporan Tahunan Bank Indonesia Tahun 1998/1999.
- Media Massa: Kompas dan CNBC Indonesia
- Data Statistik: Badan Pusat Statistik (BPS) - Data Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi 1998-1999.
