[WARTANUSANTARA.ID] Seringkali perdebatan mengenai masa lalu melupakan konteks awal bagaimana sebuah era dimulai. Sebuah potongan video diskusi sejarah kembali viral, mengingatkan publik pada kondisi "nol"—bahkan minus—yang dihadapi Indonesia di pertengahan tahun 1960-an, dan bagaimana Presiden Soeharto mengambil langkah drastis untuk membalikkan keadaan.
Ada dua warisan kebijakan yang disebut-sebut menjadi fondasi kebangkitan Indonesia kala itu: penyelamatan ekonomi dari inflasi gila-gilaan dan pemerataan pendidikan dasar yang masif hingga ke pelosok desa.
Menjinakkan "Monster" Inflasi 600%
Ketika Soeharto naik ke tampuk kekuasaan, ia tidak mewarisi negara yang sedang baik-baik saja. Sebaliknya, Indonesia berada di ambang kebangkrutan total. Dalam video tersebut, disoroti fakta sejarah yang mencengangkan: inflasi saat itu menyentuh angka 600%. Artinya, nilai uang nyaris tidak ada harganya, dan harga barang melonjak tak terkendali setiap harinya.
Langkah pertama yang diambil bukanlah kebijakan populis, melainkan teknokrasi yang disiplin. Soeharto merangkul para ahli ekonomi lulusan universitas ternama, yang mayoritas berasal dari Universitas Indonesia (UI). Kelompok ini, yang kerap dikenal sebagai "Mafia Berkeley", bekerja di bawah arahan begawan ekonomi Soemitro Djojohadikusumo—ayah dari Presiden terpilih saat ini, Prabowo Subianto.
Kolaborasi antara kepemimpinan militer yang tegas dan strategi ekonomi para teknokrat ini berhasil "mengerem" laju inflasi hiperbolik tersebut dan meletakkan dasar stabilitas ekonomi yang kemudian dikenal sebagai Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun).
SD Inpres: Membangun Mimpi dari Kecamatan
Selain ekonomi, jasa yang sering luput dari sorotan generasi muda adalah revolusi akses pendidikan. Sebelum era Soeharto, sekolah adalah kemewahan yang umumnya hanya ada di kota-kota besar. Anak-anak di desa, apalagi di pelosok, jarang memiliki akses ke pendidikan formal.
Video tersebut menyoroti terobosan besar lewat program SD Inpres (Sekolah Dasar Instruksi Presiden). Dengan memanfaatkan pendapatan negara yang membaik (terutama dari oil boom), pemerintah membangun puluhan ribu gedung SD secara massal di berbagai pelosok tanah air.
Dampaknya luar biasa:
Akses Merata: Sekolah yang dulunya hanya mimpi bagi warga desa, tiba-tiba hadir di setiap kecamatan.
Pendidikan Lanjutan: Tak berhenti di SD, pembangunan SMP pun mulai digalakkan di level kecamatan, membuka gerbang pendidikan yang lebih tinggi bagi anak petani dan buruh.
Program ini di kemudian hari bahkan diakui dunia internasional. Ekonom peraih Nobel, Esther Duflo, secara spesifik meneliti program SD Inpres ini dan menyimpulkan bahwa kebijakan tersebut berhasil meningkatkan pendapatan dan standar hidup masyarakat Indonesia secara signifikan dalam jangka panjang.
Kesimpulan
Terlepas dari berbagai kontroversi politik yang menyertai 32 tahun kekuasaannya, fakta sejarah mengenai penyelamatan ekonomi dari inflasi 600% dan pembangunan fondasi pendidikan dasar adalah bagian dari rekam jejak pembangunan Indonesia. Dua langkah ini mengubah wajah Indonesia dari negara yang nyaris bangkrut menjadi negara berkembang dengan akses pendidikan yang jauh lebih inklusif.
Sumber: Dirangkum dari diskusi sejarah pada kanal YouTube SAPU LIDI [
