Pendahuluan: Sebuah Pesan dari Sutan Sjahrir
"Jangan mati sebelum ke Banda Neira."
Kutipan legendaris dari Sutan Sjahrir itu bukan sekadar bualan turis. Banda Neira, sebuah kepulauan kecil di Maluku Tengah, bukan cuma soal laut biru dan pasir putih.
Di tanah inilah, sejarah dunia pernah bergolak hebat. Percaya atau tidak, pulau sekecil ini dulu nilainya setara dengan Manhattan, New York. Iya, kota metropolitan Amerika Serikat yang penuh gedung pencakar langit itu!
Bagaimana bisa pulau terpencil di Nusantara punya nilai setinggi itu? Mari kita jelajahi jejak "Emas Hijau" di Banda Neira.
1. Perjanjian Breda 1667: Tukar Guling Paling Ironis dalam Sejarah
Ini adalah fakta sejarah yang paling bikin geleng-geleng kepala.
Pada abad ke-17, Pala (Nutmeg) adalah komoditas paling mahal di Eropa. Harganya melebihi emas. Orang Eropa percaya pala bisa menyembuhkan wabah pes (Black Death) dan mengawetkan makanan. Dan satu-satunya tempat di dunia yang menumbuhkan pohon pala saat itu cuma Kepulauan Banda.
Inggris dan Belanda berebut mati-matian menguasai Banda. Akhirnya, lewat Perjanjian Breda (1667), Inggris setuju menyerahkan Pulau Run (salah satu pulau di Banda) kepada Belanda.
Sebagai gantinya, Belanda menyerahkan daerah kekuasaannya di Amerika Utara, yaitu Nieuw Amsterdam, kepada Inggris. Oleh Inggris, nama Nieuw Amsterdam diubah menjadi Manhattan (New York).
- Hasilnya Sekarang: Manhattan jadi pusat ekonomi dunia. Pulau Run kembali menjadi desa nelayan sunyi yang damai. Sebuah ironi sejarah yang mahal harganya.
2. Universitas Kehidupan Bung Hatta & Sjahrir
Banda Neira bukan cuma soal rempah, tapi juga kawah candradimuka para pendiri bangsa.
Pada tahun 1936, pemerintah kolonial Belanda membuang dua tokoh besar ke sini: Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir. Belanda berharap semangat mereka patah di tempat terpencil.
Tapi Belanda salah besar. Di Banda Neira, Bung Hatta justru mendirikan "Sekolah Sore". Beliau mengajar anak-anak Banda membaca, menulis, dan berhitung.
Masih ingat kisah kesederhanaan Bung Hatta yang kita bahas sebelumnya? (Baca: [Pejabat Anti-Mainstream: Mengenang Kesederhanaan Bung Hatta]). Di Banda inilah karakter kebapakan dan integritas beliau makin teruji.
Rumah pengasingan mereka masih terawat rapi hingga kini. Mesin ketik tua, kacamata, dan meja kerja Hatta seolah masih menunggu tuannya kembali.
3. Benteng Belgica: The Pentagon of the East
Kalau ke Banda, wajib naik ke Benteng Belgica. Benteng berbentuk segi lima (pentagon) ini dibangun VOC tahun 1611. Uniknya, kalau dilihat dari udara, bentuknya persis seperti markas Pentagon di Amerika Serikat, tapi ini versinya abad ke-17!
Dari atas benteng ini, kamu bisa melihat Gunung Api Banda yang menjulang gagah dan laut biru safir yang tenang. Pemandangan yang bikin lupa semua cicilan dan beban hidup!
4. Pesona Bawah Laut yang Tak Ada Matinya
Lupakan sejarah sebentar. Bawah laut Banda Neira adalah surga bagi penyelam. Terumbu karangnya sehat, ikannya melimpah. Ada spot bernama Lava Flow, di mana terumbu karang tumbuh subur di atas aliran lava beku bekas letusan gunung api. Kontras yang indah banget!
Kesimpulan: Kepingan Surga yang Tertinggal
Banda Neira adalah bukti betapa seksinya Nusantara di mata dunia. Kita punya sejarah kelas berat dan alam kelas satu.
Jadi, mulailah menabung. Tunaikan pesan Sjahrir. Datanglah ke Banda Neira, rasakan anginnya, cium wangi palanya, dan resapi sejarahnya.
📚 Sumber Referensi Kredibel
- Milton, Giles. (1999). Nathaniel's Nutmeg (Pulau Run: Magnet Rempah-Rempah yang Ditukar dengan Manhattan). (Buku best-seller internasional tentang topik ini).
- Hatta, Mohammad. Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi. (Membahas masa pengasingan di Banda).
- Kemenparekraf RI. Destinasi Super Prioritas & Sejarah Banda Neira.
