Wartanusantara.id - 88 Tahun. Itulah lamanya Masjidil Aqsa (Baitul Maqdis) berada dalam cengkeraman Pasukan Salib. Suara azan dilarang, dan masjid diubah menjadi kandang kuda.
Hingga akhirnya, muncul seorang pemimpin zuhud bernama Yusuf bin Najmuddin Al-Ayyubi, atau yang dunia mengenalnya sebagai Shalahuddin (Saladin).
Kemenangan terbesar Shalahuddin bukanlah saat ia masuk ke Yerusalem, melainkan pada pertempuran yang terjadi sebelumnya: Perang Hittin (4 Juli 1187 M). Di sinilah tulang punggung kekuatan militer Pasukan Salib dipatahkan dengan strategi militer yang brilian.
Berikut adalah bedah strategi Shalahuddin yang mengubah peta sejarah dunia.
1. Memancing Musuh Keluar dari Benteng
Shalahuddin tahu, menyerang Pasukan Salib saat mereka bertahan di dalam benteng adalah bunuh diri. Maka, ia menyerang kota Tiberias terlebih dahulu untuk "memancing" Raja Guy de Lusignan keluar dari markas amannya di Saffuriya.
Umpan itu dimakan. Pasukan Salib yang berjumlah sekitar 20.000 orang, lengkap dengan kavaleri berbaju besi berat (Knights Templar & Hospitaller), bergerak melintasi gurun tandus menuju Tiberias.
2. Jebakan Geografis & Cuaca (General Winter vs General Summer)
Jika Rusia punya "Jenderal Musim Dingin", Shalahuddin punya "Jenderal Musim Panas".
- Waktu: Perang dipilih pada bulan Juli, puncak musim panas yang menyengat.
- Beban: Pasukan Salib mengenakan zirah besi seberat puluhan kilogram. Di bawah terik matahari gurun, zirah itu berubah menjadi "oven" yang memanggang tubuh mereka sendiri.
3. Memotong Jalur Air (The Thirst Trap)
Ini adalah kunci kemenangan (Skakmat). Shalahuddin lebih dulu menguasai Danau Tiberias, satu-satunya sumber air di wilayah itu.
Pasukan Salib yang kehausan berusaha menerobos menuju danau, namun dihadang oleh pasukan Muslim. Mereka terjebak di Bukit Hittin (Tanduk Hittin) dalam kondisi dehidrasi parah, lidah kering, dan mental runtuh sebelum pedang diayunkan.
4. Taktik Asap (Psikologis)
Tidak cukup dengan haus, Shalahuddin memerintahkan pasukannya untuk membakar padang rumput kering di sekitar bukit.
- Asap panas mengepul, membuat Pasukan Salib semakin sesak napas, mata perih, dan kehausan yang menyiksa.
- Dalam kondisi kacau balau itulah, pasukan Muslim melancarkan serangan panah dan kavaleri ringan.
5. Kemenangan yang Beradab
Pasukan Salib hancur lebur. Raja Guy de Lusignan dan Reynald de Chatillon tertangkap. Pasca kemenangan di Hittin, jalan menuju Yerusalem terbuka lebar.
Berbeda dengan saat Pasukan Salib merebut Yerusalem tahun 1099 dengan membantai 70.000 warga Muslim, Shalahuddin masuk ke Kota Suci pada 27 Rajab 583 H dengan damai. Tidak ada pembantaian, warga Kristen dibiarkan hidup atau membayar tebusan, dan gereja tidak dihancurkan.
Kesimpulan
Perang Hittin mengajarkan kita bahwa kekuatan fisik (baju besi tebal) tidak ada artinya tanpa logistik dan strategi yang tepat. Shalahuddin menang bukan karena pasukannya lebih banyak, tapi karena ia paham medan dan mampu memanfaatkan alam sebagai senjatanya.
Baca Juga: 👉 [Strategi Al-Fatih: Memindahkan Kapal Lewat Gunung (1453 M)] 👉 [Strategi Perang Badar: 313 Melawan 1.000]
Daftar Pustaka (Referensi)
- Ibn Shaddad, Bahauddin. (2002). The Rare and Excellent History of Saladin (An-Nawadir As-Sultaniyya). (Biografi yang ditulis oleh sahabat sekaligus penasihat militer Shalahuddin).
- Ash-Shallabi, Dr. Ali Muhammad. (2006). Shalahuddin Al-Ayyubi: Pahlawan Islam Pembebas Baitul Maqdis. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
- Armstrong, Karen. (1991). Holy War: The Crusades and Their Impact on Today's World. New York: Anchor Books.
- Nicolle, David. (1993). Hattin 1187: Saladin's Greatest Victory. Osprey Publishing.


