14 Februari Bukan Cuma Valentine! Mengenang Pemberontakan PETA Blitar & Misteri Hilangnya Supriyadi


Pendahuluan: Bunga Mawar vs Bambu Runcing

Setiap tanggal 14 Februari, dunia sibuk bicara soal kasih sayang, cokelat, dan bunga mawar. Tidak ada yang salah dengan itu. Tapi bagi Bangsa Indonesia, tanggal ini punya makna yang jauh lebih sakral, "merah", dan heroik.

Tepat pada 14 Februari 1945, enam bulan sebelum Proklamasi Kemerdekaan, para pemuda Indonesia yang tergabung dalam PETA (Pembela Tanah Air) di Blitar nekat mengangkat senjata melawan fasisme Jepang.

Mereka bukan tentara dengan alutsista canggih. Mereka hanya bermodal semangat dan strategi gerilya. Di balik aksi heroik ini, ada satu nama yang melegenda namun berakhir menjadi misteri terbesar republik ini: Shodancho Supriyadi.

1. Pemicu Pemberontakan: Air Mata Rakyat Romusha

PETA sebenarnya dibentuk oleh Jepang sebagai tentara cadangan untuk membantu mereka dalam Perang Asia Timur Raya. Tapi, hati nurani para pemuda ini tidak bisa dibohongi.

Para Shodancho (Komandan Pleton) seperti Supriyadi tidak tahan melihat penderitaan rakyat Indonesia yang dipaksa menjadi Romusha (pekerja paksa). Mereka melihat sendiri saudara sebangsanya mati kelaparan, kurus kering, dan disiksa di depan mata saat membangun kubu pertahanan Jepang.

Rasa kemanusiaan mereka terkoyak. Supriyadi dan kawan-kawan memutuskan: "Lebih baik mati melawan penjajah daripada hidup enak tapi melihat rakyat tertindas." Ini adalah bukti nyata pengamalan Sila ke-2 Pancasila (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab) jauh sebelum Pancasila itu sendiri disahkan.

2. Jalannya Pertempuran: David Melawan Goliath

Pemberontakan meletus dini hari. Tembakan mortir pertama diarahkan ke Hotel Sakura, tempat para perwira Jepang menginap. Secara militer, PETA kalah telak. Senjata mereka terbatas, komunikasi terputus, dan rencana mereka sudah tercium intelijen Jepang.

Jepang dengan cepat mengepung Blitar. Karena kalah jumlah dan senjata, banyak anggota PETA yang akhirnya menyerah, ditangkap, diadili di Jakarta, dan beberapa dihukum mati (dipenggal) di Ancol.

Meski gagal secara militer, pemberontakan ini sukses besar secara mental. Ini adalah "percikan api" pertama yang membuktikan bahwa tentara Jepang yang katanya perkasa itu BISA dilawan!

3. Misteri Abadi: Di Mana Supriyadi?

Ini bagian yang paling bikin merinding dan penuh tanda tanya. Setelah pemberontakan diredam, sosok Supriyadi HILANG. Tidak ada jejaknya, tidak ada jasadnya, tidak ada makamnya.

  • Apakah dia tertangkap dan dieksekusi diam-diam?
  • Apakah dia bersembunyi di kawah Gunung Kelud?
  • Atau dia melakukan moksa (menghilang secara spiritual)?

Fakta sejarah mencatat: Saat Indonesia merdeka, Presiden Soekarno menunjuk Supriyadi sebagai Menteri Keamanan Rakyat (Menteri Pertahanan pertama) dalam kabinet pertamanya. Kursi itu disediakan, namun Supriyadi tidak pernah datang untuk dilantik. Hingga kini, nasib sang komandan muda tetap menjadi misteri. Ia hilang, tapi namanya abadi.

Kesimpulan: Wujud Kasih Sayang Tertinggi

Jika Valentine adalah simbol kasih sayang untuk pasangan, maka Pemberontakan PETA Blitar adalah wujud Kasih Sayang Tertinggi untuk Tanah Air.

Supriyadi mengajarkan kita bahwa mencintai negara butuh keberanian dan pengorbanan. Jadi, Sabtu ini, silakan nikmati cokelatmu, tapi jangan lupa kirimkan doa Al-Fatihah untuk para syuhada PETA yang darahnya tumpah di Blitar demi kita bisa merdeka hari ini.

Baca juga 👉 Bung Hatta Yang Memilih Hidup Miskin Ketimbang Korupsi

📚 Sumber Referensi Kredibel

  1. Nasution, A.H. Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia. (Buku wajib sejarah militer).
  2. Dinas Sejarah TNI AD. Sejarah PETA dan Peristiwa Blitar.
  3. Soekarno. Pidato Penunjukan Kabinet Presidensial Pertama.

0/Post a Comment/Comments