Sering Buka Puasa Pakai Kolak? Ternyata Ini "Senjata Rahasia" Wali Songo Menyebarkan Islam di Tanah Jawa!


Pendahuluan: Menu Wajib yang Menyimpan Misteri

Begitu azan Magrib berkumandang di bulan Ramadan, ada satu menu yang hampir pasti terhidang di meja makan keluarga Indonesia: Kolak.

Kuah santannya yang gurih, wangi daun pandan, manisnya gula aren, ditambah empuknya pisang dan ubi seakan jadi "obat" paling manjur setelah seharian menahan lapar dan haus.

Tapi, tahukah kamu? Semangkok kolak yang kita santap hari ini ternyata bukan sekadar resep warisan nenek moyang biasa. Pada zaman dahulu, kolak adalah "Senjata Rahasia" dan media dakwah yang sangat jenius dari para Wali (Wali Songo) untuk menyebarkan agama Islam di Nusantara, khususnya tanah Jawa.

Mari kita bedah filosofi tingkat tinggi di balik manisnya semangkok kolak!

1. Asal Usul Nama "Kolak": Panggilan Kepada Sang Pencipta

Orang zaman dulu sangat cerdas dalam melakukan akulturasi budaya. Mereka tidak menyebarkan agama dengan pedang, melainkan lewat pendekatan kebudayaan dan makanan.

Menurut catatan sejarah dan ahli budaya Jawa, kata "Kolak" diyakini berasal dari bahasa Arab, yaitu "Khaliq" yang berarti Sang Pencipta (Allah SWT). Lidah masyarakat lokal zaman dulu perlahan melafalkan kata Khaliq menjadi Khalik, lalu bergeser menjadi Kolak.

Maknanya sangat dalam: Menyantap kolak saat berbuka puasa adalah pengingat agar manusia selalu mendekatkan diri kepada Sang Khalik.

2. Filosofi Pisang Kepok: Waktunya untuk "Kapok"

Pernah bertanya kenapa kolak zaman dulu selalu menggunakan Pisang Kepok, bukan pisang ambon atau pisang susu?

Ternyata ini ada tujuannya! Kata "Kepok" dipelesetkan dari kata bahasa Jawa "Kapok" yang artinya jera atau bertobat. Lewat isian pisang ini, para ulama zaman dulu menyelipkan pesan moral: Bulan Ramadan adalah momen yang tepat untuk "kapok" dari segala dosa dan keburukan di masa lalu.

3. Ubi Jalar (Telo Pendem): Mengubur Kesalahan Masa Lalu

Selain pisang, isian wajib lainnya adalah ubi jalar atau singkong. Dalam bahasa Jawa, jenis umbi-umbian ini disebut Telo Pendem (tumbuh terpendam di dalam tanah).

Filosofinya tak kalah merinding. Pendem berarti mengubur. Saat kita menyantap ubi dalam kolak, kita sedang diingatkan untuk mengubur dalam-dalam segala sifat buruk, kesombongan, dan dosa-dosa kita. Biarkan keburukan itu mati terpendam, dan mulailah lembaran baru yang bersih.

4. Kuah Santan: Permintaan Maaf yang Tulus

Tak lengkap rasanya kolak tanpa kuah santan. Lagi-lagi, Wali Songo menggunakan pendekatan linguistik Jawa (Othak-athik mathuk).

Santan dalam bahasa Jawa disebut "Santen", yang sering disandingkan dengan frasa "Pangapunten" (permohonan maaf). Jadi, perpaduan manisnya gula aren dan gurihnya santen adalah simbol dari manusia yang harus selalu meminta pangapunten (maaf), baik kepada Sang Pencipta maupun kepada sesama manusia. (Ini nilai Sila Persatuan dan Ketuhanan banget!).

Kesimpulan: Dakwah Damai dalam Semangkok Manisan

Ternyata, semangkok kolak adalah "Buku Kurikulum" sejarah Islam yang sangat manis. Nenek moyang kita membuktikan bahwa dakwah tidak harus kaku dan keras. Lewat semangkok kolak, nilai-nilai ketauhidan, pertobatan, dan kerendahan hati berhasil disisipkan dengan cara yang sangat nikmat.

Jadi, nanti sore saat berbuka puasa dengan kolak, jangan cuma dihabiskan isinya, tapi resapi juga makna magis di baliknya. Selamat berbuka puasa!

Sama halnya dengan Baju Koko warisan Cheng Ho (baca di sini), Kolak adalah bukti suksesnya akulturasi budaya Islam di Nusantara.


📚 Sumber Referensi Kredibel

  1. Agus Sunyoto. Atlas Wali Songo. (Buku referensi sejarah akulturasi Islam Nusantara).
  2. Kajian Budaya Jawa-Islam. Mengutip filosofi bahasa Othak-athik mathuk dalam penyebaran ajaran Islam di Pulau Jawa.

0/Post a Comment/Comments