Wartanusantara.id - Bayangkan tahun 1405. Di cakrawala laut Nusantara, muncul ratusan kapal raksasa. Kapal utamanya, The Treasure Ship (Baochuan), panjangnya mencapai 120 meter—jauh lebih besar dari kapal Santa Maria milik Christopher Columbus yang datang belakangan.
Jika itu armada Eropa, mungkin penduduk lokal sudah lari ketakutan karena takut dijajah. Tapi armada ini berbeda. Mereka tidak menembakkan meriam untuk menaklukkan, tapi membawa keramik, sutra, dan pesan perdamaian.
Pemimpinnya adalah seorang Muslim yang taat. Namanya Ma He, atau yang dunia kenal sebagai Laksamana Cheng Ho (Zheng He).
Dalam edisi Jelajah Nusantara kali ini, mari kita bongkar sejarah emas bagaimana Laksamana Cheng Ho menjadi jembatan persaudaraan antara Islam dan Tionghoa di Indonesia.
1. Siapa Sebenarnya Cheng Ho?
Cheng Ho lahir dengan nama Ma He di Yunnan, Tiongkok, dari keluarga Muslim suku Hui. Marga "Ma" di Tiongkok sering digunakan sebagai kependekan dari "Muhammad".
Ia adalah orang kepercayaan Kaisar Yongle dari Dinasti Ming. Kehebatannya bukan cuma soal strategi laut, tapi diplomasi. Selama 7 kali pelayarannya (muhibah) ke Samudera Hindia, ia singgah berkali-kali di Nusantara: Aceh, Palembang, Cirebon, Semarang, hingga Surabaya.
Misinya jelas: Diplomasi dan Dagang, bukan Kolunialisasi. Ia bahkan tercatat pernah menumpas bajak laut Tiongkok di Palembang yang meresahkan penduduk lokal.
2. Warisan Tak Terduga: Asal Usul "Baju Koko"
Pernahkah kamu bertanya, kenapa baju muslim pria di Indonesia disebut "Baju Koko"? Ternyata, ini adalah warisan akulturasi budaya Tionghoa!
Masyarakat Tionghoa zaman dulu (termasuk anak buah Cheng Ho) sering memakai baju atasan bernama "Tui-Khim". Di kalangan warga Betawi, mereka sering mendengar engkoh-engkoh (kakak laki-laki Tionghoa) memakai baju ini. Akhirnya lidah lokal menyebutnya "Baju Engkoh-Engkoh", yang lama-kelamaan menjadi "Baju Koko".
Jadi, baju yang kita pakai sholat Jumat itu adalah simbol perpaduan budaya yang indah.
3. Masjid Cheng Ho: Ketika Kubah Bertemu Pagoda
Jejak Cheng Ho yang paling fisik bisa kita lihat pada arsitektur masjid di Indonesia. Coba tengok Masjid Muhammad Cheng Ho di Surabaya, Palembang, atau Pasuruan.
Warnanya bukan hijau atau putih, tapi Merah Menyala dan Kuning Emas. Arsitekturnya unik: atapnya berbentuk limas bersusun menyerupai Pagoda, tapi fungsinya untuk mengumandangkan Adzan.
Ini adalah bukti nyata bahwa Islam di Nusantara itu inklusif. Islam bisa masuk dan berpadu dengan budaya apa saja tanpa menghilangkan esensi tauhidnya.
4. Akulturasi Kuliner yang Bikin Lapar
Tanpa kedatangan pedagang Tionghoa dan ekspedisi Cheng Ho, mungkin lidah Nusantara akan terasa sepi. Banyak istilah kuliner kita yang diserap dari dialek Hokkian:
- Kecap (Ke-chiap).
- Bakso (Bak-so: Daging giling).
- Soto (Cao-du).
Mereka datang tidak hanya membawa dagangan, tapi juga memperkaya cita rasa dapur nenek moyang kita.
Kesimpulan: Bhinneka Tunggal Ika Sejak Dulu Kala
Kisah Laksamana Cheng Ho mengajarkan kita satu hal penting untuk pelajaran Pendidikan Pancasila hari ini: Keberagaman adalah DNA bangsa Indonesia.
Jauh sebelum istilah toleransi didengungkan, nenek moyang kita sudah hidup berdampingan, saling bertukar resep, bahkan bertukar model baju dengan saudara-saudara Tionghoa. Cheng Ho membuktikan bahwa Islam datang dengan damai, merangkul budaya, dan memuliakan manusia.
Baca juga 👉Cara Dakwah Walisongo yang Profesional
📚 Sumber Referensi Kredibel
- Yuanzhi, Kong. (2000). Muslim Tionghoa Cheng Ho: Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara. (Buku rujukan utama akademisi).
- Muljana, Slamet. (1968). Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara. (Membahas peran Tionghoa Muslim di Jawa).
- Museum Sejarah Jakarta. Arsip Akulturasi Budaya Betawi-Tionghoa (Asal usul Baju Koko).
