Wartanusantara.id - Coba deh iseng tanya ke orang Arab asli tentang arti "Halalbihalal". Dijamin mereka bakal kebingungan!
Setiap kali Hari Raya Idul Fitri tiba, masyarakat Indonesia dari ujung barat sampai timur pasti mengadakan tradisi Halalbihalal, baik di instansi pemerintah, sekolah, maupun keluarga. Kata ini terdengar sangat fasih seperti bahasa Arab tulen. Tapi tahukah kamu? Istilah ini 100% adalah produk asli buatan Nusantara (Made in Indonesia)!
Bukan sekadar ajang makan opor dan saling bersalaman, tradisi ini lahir dari sebuah krisis politik tingkat tinggi yang hampir membuat negara kita hancur. Mari kita putar waktu ke tahun 1948 dan melihat bagaimana ulama menyelamatkan republik ini lewat diplomasi linguistik!
1. Tahun 1948: Indonesia di Ujung Tanduk
Tahun 1948 adalah tahun yang sangat kelam bagi Indonesia yang baru berumur 3 tahun. Di luar, Belanda melancarkan Agresi Militer untuk merebut kembali kemerdekaan kita. Di dalam negeri, situasinya lebih parah.
Para elit politik saling gontok-gontokan, kabinet jatuh bangun, pemberontakan DI/TII mulai berkecamuk, dan puncaknya adalah pemberontakan PKI di Madiun. Persatuan Indonesia (Sila Ke-3) benar-benar terkoyak.
Melihat elit politik yang saling menyalahkan dan tak mau duduk bersama, Presiden Soekarno sangat pusing dan gelisah.
2. Panggilan Darurat ke Istana: Bung Karno dan KH Wahab Hasbullah
Menjelang Idul Fitri tahun 1948, Bung Karno memanggil salah satu ulama kharismatik pendiri Nahdlatul Ulama (NU), yaitu KH. Abdul Wahab Hasbullah ke Istana Negara.
Bung Karno meminta saran: "Kyai, bagaimana caranya menyatukan kembali para tokoh politik ini? Kalau saya undang 'Silaturahmi', mereka pasti gengsi dan tidak mau datang karena merasa tidak punya salah."
KH Wahab Hasbullah dengan tenang memikirkan akar masalahnya. Beliau menyadari, para elit politik ini saling bermusuhan karena masing-masing menganggap lawan politiknya berdosa (melakukan hal yang haram).
3. Lahirnya "Mantra Sakti" Pemersatu Bangsa
Untuk membersihkan dosa (haram) tersebut, maka hukumnya harus di-"halal"-kan. Dari sinilah KH Wahab mengusulkan sebuah frasa diplomasi yang jenius: Thalabu halal bi thariqin halal (Mencari penyelesaian yang halal/baik dengan cara yang halal/baik pula).
Biar lebih mudah diucapkan oleh lidah orang Indonesia dan terdengar catchy, KH Wahab menyingkatnya menjadi satu kata pamungkas: Halalbihalal.
"Gunakan istilah Halalbihalal, Bung! Mereka pasti mau datang untuk saling menghalalkan kesalahan," usul sang Kyai.
4. Ketupat Perdana di Istana Negara
Bung Karno setuju. Pada Hari Raya Idul Fitri 1948, Presiden Soekarno menyebarkan undangan resmi kepada seluruh tokoh politik nasional untuk menghadiri acara "Halalbihalal" di Istana Negara.
Dan benar saja! Karena istilahnya baru, bernuansa agama, namun tidak menjatuhkan harga diri siapapun, para elit politik yang tadinya saling bermusuhan akhirnya bersedia datang. Mereka duduk bersama di satu meja, makan ketupat, dan saling memaafkan. Ketegangan politik pun seketika cair!
Kesimpulan: Warisan Diplomasi Tingkat Dewa
Sejarah Halalbihalal membuktikan bahwa agama dan kebudayaan bisa menjadi alat diplomasi politik yang sangat elegan. KH Wahab Hasbullah dan Bung Karno mengajarkan kita bahwa persatuan bangsa di atas segalanya.
Jadi, saat kamu datang ke acara Halalbihalal tahun ini, ingatlah bahwa tradisi ini bukan sekadar ajang kumpul-kumpul biasa. Ini adalah warisan "Mantra Pemersatu" dari para pendiri bangsa yang wajib kita jaga kelestariannya!
Sumber Referensi Kredibel
- Kementerian Agama (Kemenag) RI. Sejarah Tradisi Halalbihalal di Indonesia.
- Zuhri, KH. Saifuddin. (1987). Berangkat Dari Pesantren. Jakarta: Gunung Agung.
- Pusat Data dan Analisa Tempo. Kisah-kisah Bung Karno dan Ulama.
