JAKARTA, Wartanusantara.id – Sempat menjadi perbincangan hangat dan memicu kekhawatiran di berbagai grup WhatsApp komite sekolah, wacana penerapan kembali Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau sekolah daring pada April 2026 akhirnya resmi dibatalkan oleh pemerintah.
Melalui pengumuman terbarunya, pemerintah memastikan bahwa kegiatan belajar mengajar di seluruh jenjang pendidikan akan tetap memprioritaskan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 100 persen. Keputusan ini disambut antusias, tidak hanya oleh para siswa yang merindukan suasana kelas, tetapi juga oleh para guru dan orang tua di rumah.
1. Kelegaan bagi Orang Tua dan Pendidik
Batalnya wacana daring ini ibarat angin segar. Harus diakui, menemani anak belajar di rumah bukanlah tugas yang mudah. Bagi orang tua yang memiliki anak di bangku TK yang masih butuh bimbingan penuh, atau anak kelas 6 SD yang sedang fokus-fokusnya mempersiapkan ujian akhir, belajar daring seringkali menguras energi dan kesabaran tingkat tinggi.
Di sisi lain, bagi para pendidik, mentransfer ilmu melalui layar kaca memiliki keterbatasan yang nyata. Mengajar tidak hanya sekadar memberikan materi dan tugas lembar kerja (LKPD), tetapi juga memastikan siswa benar-benar memahami apa yang disampaikan tanpa gangguan teknis seperti sinyal putus-putus.
2. PTM Efektif untuk Pendidikan Karakter
Alasan utama pemerintah tetap memprioritaskan tatap muka adalah demi menjaga kualitas pendidikan karakter anak bangsa. Menanamkan nilai-nilai moral, adab, kedisiplinan, hingga pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari jauh lebih efektif dilakukan ketika guru dan siswa berinteraksi langsung di lingkungan sekolah.
Sekolah bukan hanya tempat mengejar nilai akademik, melainkan ruang sosial tempat anak-anak belajar berempati, bersosialisasi dengan teman sebaya, dan menghormati gurunya secara langsung. Hal-hal fundamental inilah yang tidak bisa digantikan oleh secanggih apa pun aplikasi video conference.
3. Fokus Mengejar Ketertinggalan (Learning Loss)
Selain alasan karakter, PTM diprioritaskan untuk terus menambal learning loss atau ketertinggalan pembelajaran yang sempat terjadi pada masa pandemi beberapa tahun silam. Guru kini bisa lebih leluasa memantau perkembangan masing-masing siswa, memberikan feedback langsung, dan memastikan tidak ada anak yang tertinggal dalam menyerap materi pelajaran.
Pemerintah daerah dan pihak sekolah diimbau untuk terus menjaga kebersihan dan kenyamanan lingkungan sekolah agar proses tatap muka di bulan April nanti berjalan lancar, aman, dan kondusif.
Kesimpulan
Keputusan membatalkan wacana sekolah daring di bulan April 2026 adalah langkah tepat yang pro-pendidikan. Mari kita dukung penuh proses Pembelajaran Tatap Muka ini agar anak-anak kita bisa belajar maksimal, berkarakter kuat, dan para guru bisa menjalankan tugas mulianya dengan lebih optimal!
Sumber: Diolah dari Kompas.com (25 Maret 2026)
