Wartanusantara.id - Coba tatap layar smartphone di genggamanmu sekarang. Dari sekadar membuka media sosial, bermain game, hingga menggunakan kecerdasan buatan (AI) canggih—semuanya berjalan secara instan. Tapi tahukah kamu bahwa fondasi dari seluruh teknologi modern ini tidak lahir di Silicon Valley, melainkan di Baghdad, pada abad ke-9 Masehi?
Semuanya bermula dari seorang cendekiawan Muslim jenius dan sebuah cabang matematika yang mungkin pernah membuatmu pusing di bangku sekolah: Al-Jabar.
Tokoh di Balik Layar: Mengenal Al-Khwarizmi
Pada masa Keemasan Islam, hiduplah seorang matematikawan, astronom, dan ahli geografi bernama Abu Ja'far Muhammad bin Musa Al-Khwarizmi. Beliau bekerja di Baitul Hikmah (House of Wisdom) di Baghdad, sebuah pusat intelektual dunia pada masanya.
Sekitar tahun 820 M, Al-Khwarizmi menulis sebuah mahakarya berjudul Al-Kitab al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wal-Muqabala (Buku Ringkasan tentang Perhitungan dengan Pelengkapan dan Penyeimbangan). Dari kata "al-Jabr" (pelengkapan atau pemulihan) pada judul buku inilah, istilah "Aljabar" (Algebra) yang kita kenal sekarang berasal.
Dalam bukunya, beliau menyederhanakan penyelesaian persamaan matematika (seperti persamaan kuadrat $x^2 + 10x = 39$) bukan sekadar untuk teori akademis, melainkan untuk memecahkan masalah sehari-hari masyarakat saat itu, seperti pembagian harta warisan, pengukuran tanah, dan aktivitas perdagangan.
Dari Nama Menjadi Nyawa Teknologi: Lahirnya Algoritma
Pengaruh Al-Khwarizmi tidak berhenti pada Al-Jabar. Ketika karya-karyanya diterjemahkan ke bahasa Latin di Eropa pada abad ke-12, nama beliau dieja menjadi "Algoritmi".
Metode langkah demi langkah yang sistematis untuk memecahkan masalah perhitungan yang diperkenalkan oleh Al-Khwarizmi kemudian dikenal oleh ilmuwan Barat dengan sebutan "Algoritma".
Tanpa disadari, konsep algoritma inilah yang menjadi "nyawa" atau DNA dari seluruh ilmu komputer modern. Algoritma adalah sekumpulan instruksi logis yang memberi tahu komputer, aplikasi, atau AI tentang apa yang harus mereka lakukan.
Mengapa Tanpa Beliau, Smartphone Tidak Akan Ada?
Mari kita tarik benang merahnya dari abad ke-9 ke abad ke-21:
- Logika Pemrograman Dasar: Aplikasi di smartphone kita ditulis dengan bahasa pemrograman (seperti Python, Java, atau C++). Semua bahasa pemrograman ini berdiri tegak di atas prinsip logika Aljabar—menggunakan variabel (seperti $x$ dan $y$) untuk mewakili data yang belum diketahui.
- Kinerja Algoritma: Saat kamu mencari sesuatu di mesin pencari atau melihat video yang direkomendasikan di media sosial, ada algoritma super kompleks yang sedang bekerja menyortir jutaan data dalam hitungan milidetik. Algoritma ini mewarisi prinsip langkah-langkah logis warisan Al-Khwarizmi.
- Sistem Biner dan Komputasi: Komputer memproses data menggunakan sistem biner (angka 0 dan 1). Al-Khwarizmi juga merupakan sosok yang memperkenalkan dan menyempurnakan penggunaan angka Hindu-Arab (termasuk angka nol) ke dunia Barat, menggantikan angka Romawi yang sangat rumit untuk digunakan dalam perhitungan rumit.
Singkatnya: Tidak ada angka nol dan Al-Jabar $\rightarrow$ Tidak ada Algoritma $\rightarrow$ Tidak ada bahasa pemrograman $\rightarrow$ Tidak ada sistem operasi $\rightarrow$ Tidak ada smartphone.
Kesimpulan: Mewarisi Semangat Inovasi
Mempelajari sejarah sains Islam bukan sekadar untuk bernostalgia atau berbangga diri dengan masa lalu. Sejarah penemuan Al-Jabar mengajarkan kita bahwa umat Islam pernah berada di garis terdepan inovasi peradaban dunia karena mengutamakan logika, ilmu pengetahuan, dan dedikasi untuk memecahkan masalah umat.
Sudah saatnya kita kembali membangkitkan semangat literasi dan inovasi tersebut di era digital ini.
Daftar Pustaka :
- Rashed, Roshdi. (1994). The Development of Arabic Mathematics: Between Arithmetic and Algebra. Springer.
- O'Connor, J. J., & Robertson, E. F. (1999). "Abu Ja'far Muhammad ibn Musa Al-Khwarizmi". MacTutor History of Mathematics archive, University of St Andrews.
- Saliba, George. (2007). Islamic Science and the Making of the European Renaissance. MIT Press.
- Al-Hassani, Salim T.S. (2011). 1001 Penemuan: Warisan Peradaban Islam yang Mengubah Dunia. Jakarta: Pustaka Alvabet.
