Wartanusantara.id - Pada awal abad ke-16, bangsa Portugis adalah superpower maritim dunia. Setelah sukses menaklukkan Malaka pada tahun 1511, ambisi mereka semakin besar: menguasai seluruh jalur perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Namun, ambisi raksasa bangsa Eropa itu akhirnya terkubur di perairan utara Jawa oleh seorang panglima cerdas bernama Fatahillah.
Pertempuran Sunda Kelapa pada tahun 1527 bukan sekadar perang perebutan pelabuhan biasa. Ini adalah pertarungan geopolitik tingkat tinggi yang menentukan nasib penyebaran Islam dan kedaulatan Pulau Jawa.
Bagaimana Fatahillah mampu mempecundangi armada Portugis yang dipersenjatai meriam-meriam canggih? Berikut adalah kronologi epiknya.
1. Perjanjian Berbahaya: Sunda dan Portugis
Kisah ini bermula dari kekhawatiran Kerajaan Sunda (Pajajaran) terhadap ekspansi Kesultanan Demak dan Cirebon. Untuk membendung pengaruh Islam, Raja Sunda, Prabu Surawisesa, mengambil langkah berisiko tinggi: bersekutu dengan Portugis.
Pada tahun 1522, utusan Portugis bernama Henrique Leme menandatangani perjanjian dengan Kerajaan Sunda. Sebagai imbalan atas perlindungan militer, Portugis diizinkan membangun benteng di pelabuhan utama Sunda Kelapa dan memonopoli lada. Jika benteng ini sampai berdiri, Portugis akan memiliki pangkalan militer yang mengancam seluruh Kesultanan Islam di Jawa.
2. Manuver Cepat Koalisi Demak-Cirebon
Menyadari ancaman eksistensial tersebut, Sultan Trenggana dari Demak segera bertindak. Ia menunjuk panglima perangnya yang brilian, Fatahillah (Fadillah Khan), untuk memimpin armada gabungan Demak dan Cirebon.
Misi Fatahillah sangat jelas: Sunda Kelapa harus direbut sebelum armada utama Portugis tiba untuk membangun benteng! Dengan pergerakan yang senyap namun masif, pasukan Fatahillah lebih dulu menaklukkan Banten, lalu bergerak mengepung Sunda Kelapa dari darat dan laut. Pada awal tahun 1527, pelabuhan strategis itu berhasil dikuasai sepenuhnya oleh umat Islam.
3. Jebakan Mematikan untuk Francisco de Sá
Beberapa waktu kemudian, armada Portugis di bawah komando Francisco de Sá (dengan beberapa kapal yang dipimpin oleh Duarte Coelho) tiba di perairan Sunda Kelapa. Mereka datang dengan penuh kesombongan, membawa bahan bangunan untuk mendirikan benteng, tanpa menyadari bahwa pelabuhan itu sudah berpindah tangan.
Di sinilah letak kecerdasan intelijen dan taktik Fatahillah. Ia membiarkan kapal-kapal Portugis mendekat ke teluk. Begitu kapal Portugis mulai merapat dan menurunkan jangkarnya, pasukan Fatahillah memberikan serangan kejutan yang mematikan.
Meriam-meriam pesisir memuntahkan peluru. Pasukan infanteri menyerbu dari darat, sementara kapal-kapal Demak memblokade jalur pelarian. Badai laut yang tiba-tiba datang semakin mengacaukan formasi armada Portugis. Kapal-kapal mereka rusak parah, banyak prajurit Eropa yang tewas atau ditawan, dan sisa armada Francisco de Sá terpaksa melarikan diri dengan membawa rasa malu yang luar biasa kembali ke Malaka.
4. Lahirnya Kota Jayakarta
Kemenangan telak atas armada superpower Eropa ini adalah momen bersejarah yang sangat monumental. Untuk mengabadikan hancurnya kesombongan Portugis, tepat pada 22 Juni 1527, Fatahillah mengganti nama pelabuhan Sunda Kelapa menjadi Jayakarta, yang dalam bahasa Sanskerta maupun pengaruh Arab (Fathan Mubina) berarti "Kota Kemenangan yang Gemilang".
Tanggal bersejarah inilah yang hingga hari ini dirayakan sebagai hari ulang tahun kota Jakarta.
Kesimpulan
Pertempuran Sunda Kelapa membuktikan bahwa persenjataan modern bangsa Eropa tidak ada artinya jika dihadapkan pada kecepatan manuver, intelijen yang matang, dan semangat juang tanpa gentar. Fatahillah tidak hanya menyelamatkan Pulau Jawa dari penjajahan awal, tetapi juga membuktikan taring angkatan laut Nusantara di mata dunia.
Baca Juga Sejarah Epik Lainnya:
👉 [Aliansi Militer Aceh & Turki Utsmani Usir Portugis]
👉 [Sebuah Tulang & Garis Pedang: Keadilan Umar bin Khattab]
👉 [Masterclass Bisnis Abdurrahman bin Auf: Dari Nol Jadi Triliuner]
Daftar Pustaka
- Ricklefs, M.C. (2008). Sejarah Indonesia Modern 1200–2008. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta. (Buku wajib sejarawan yang membahas rinci ekspansi Demak dan peran Fatahillah).
- Tjandrasasmita, Uka. (2000). Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Kota Jakarta. Jakarta: Dinas Museum dan Pemugaran DKI Jakarta. (Rujukan utama untuk detail arkeologis dan sejarah penaklukan Sunda Kelapa).
- Heuken, Adolf. (1999). Sumber-Sumber Asli Sejarah Jakarta Jilid I. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka. (Membedah catatan asli dan surat-surat dari pihak Portugis mengenai kekalahan armada mereka di Sunda Kelapa).
