Bikin Belanda Panik! Sejarah Pemogokan Buruh Terbesar 1923 yang Dikomandoi Semaun & SI Merah


Pendahuluan: May Day dan Sejarah Perlawanan di Nusantara

Setiap tanggal 1 Mei, peringatan Hari Buruh Internasional selalu diwarnai dengan aksi turun ke jalan menyuarakan hak-hak pekerja. Namun, tahukah kamu bahwa sejarah perlawanan buruh di Nusantara sudah menyala terang sejak seabad yang lalu?

Jauh sebelum Indonesia merdeka, pemerintah kolonial Hindia Belanda pernah dibuat kalang kabut oleh sebuah aksi mogok kerja massal berskala raksasa. Aktor intelektual di baliknya adalah seorang pemuda jenius asal Surabaya, Semaun, bersama gerbong politiknya di Sarekat Islam (SI) Merah.

Mari kita putar waktu ke tahun 1923, melihat bagaimana kekuatan kelas pekerja pribumi berhasil membuat penjajah gemetar ketakutan!

1. Lahirnya SI Merah dan Mesin Pergerakan VSTP

Pada awal abad ke-20, nasib buruh pribumi di bawah penjajahan Belanda sangatlah tragis. Upah mereka sangat murah, jam kerjanya tidak manusiawi, dan rasialisme di tempat kerja adalah hal yang lumrah (gaji pekerja Eropa jauh lebih besar untuk posisi yang sama).

Melihat penindasan ini, Semaun yang memimpin Sarekat Islam (SI) cabang Semarang mengambil haluan radikal. Ia mengubah fokus organisasinya murni untuk membela kaum proletar (buruh) melawan kapitalisme kolonial. Kelompok ini kemudian dikenal sebagai SI Merah (yang kelak menjadi cikal bakal PKI).

Semaun tidak bergerak tanpa senjata. Senjata utamanya adalah VSTP (Vereniging van Spoor- en Tramwegpersoneel), yakni serikat pekerja kereta api dan trem pertama dan terbesar di Hindia Belanda. Di bawah Semaun, buruh-buruh kereta api diorganisir dengan sangat rapi dan militan.

2. Mei 1923: Aksi Mogok yang Melumpuhkan Ekonomi Kolonial

Pasca Perang Dunia I, Hindia Belanda mengalami krisis ekonomi. Untuk menyelamatkan kas negara, pemerintah kolonial dengan kejam memotong upah buruh kereta api dan menghapus tunjangan kemahalan, padahal harga kebutuhan pokok sedang meroket.

Semaun dan VSTP tidak tinggal diam. Setelah ancaman dan perundingan mereka diabaikan, pada bulan Mei 1923, Semaun meniupkan peluit perlawanan. VSTP melancarkan aksi mogok kerja massal!

Lebih dari 8.000 buruh kereta api di berbagai daerah di Jawa (terutama di Semarang dan Madiun) meletakkan peralatan mereka dan menolak bekerja. Akibatnya? Fatal! Transportasi kereta api lumpuh total. Logistik, hasil perkebunan, hingga mobilitas militer Belanda terhenti. Ekonomi kolonial mengalami kerugian luar biasa dalam hitungan hari.

3. Penangkapan dan Warisan Keberanian

Pemerintah kolonial Belanda benar-benar panik. Mereka merespons pemogokan ini dengan sangat brutal. Tentara dikerahkan untuk memaksa buruh kembali bekerja. Ratusan buruh yang mogok dipecat, diusir dari rumah dinas, hingga dipenjara.

Semaun, sang tokoh utama yang saat itu baru berusia 24 tahun, ditangkap oleh intelijen Belanda (Politieke Inlichtingen Dienst/PID). Ia dianggap sebagai ancaman keamanan negara dan akhirnya diasingkan (dibuang) ke Eropa.

Meskipun pemogokan 1923 akhirnya berhasil dipadamkan oleh militer Belanda, aksi ini sukses menanamkan kesadaran politik yang luar biasa. Semaun membuktikan bahwa buruh pribumi bukanlah mesin bernyawa yang bisa diinjak-injak, melainkan kekuatan raksasa yang bisa menumbangkan ekonomi penjajah jika bersatu.

Kesimpulan: Api yang Tak Pernah Padam

Aksi Semaun, SI Merah, dan VSTP pada tahun 1923 adalah tonggak sejarah pergerakan buruh di Indonesia. Mereka mengajarkan bahwa hak tidak pernah diberikan secara cuma-cuma oleh kaum penindas, melainkan harus direbut dengan persatuan dan keberanian. Selamat Hari Buruh Internasional!

📚 Sumber Referensi Kredibel

  1. Ingleson, John. (2014). In Search of Justice: Workers and Unions in Colonial Java, 1908-1926. (Buku babon tentang sejarah serikat buruh di era kolonial).
  2. Shiraishi, Takashi. (1990). An Age in Motion: Popular Radicalism in Java, 1912-1926. Cornell University Press. (Referensi valid mengenai pergerakan Semaun, SI Merah, dan VSTP).

0/Post a Comment/Comments