Mencermati QS 30:41: Anies Baswedan Sebut Bencana Alam Indonesia 'Cermin Dosa Kolektif', Desak 'Tobat Ekologis' Segera

(Banjir bandang di Tapsel/foto : mimbaronline)

[WARTANUSANTARA.ID] JAKARTA - Rangkaian musibah alam yang melanda Indonesia, termasuk badai, banjir bandang, dan tanah longsor di Sumatra baru-baru ini, kembali memicu respons kritis dari tokoh publik. Anies Baswedan secara tajam menyatakan bahwa bencana ini tidak boleh hanya dilihat sebagai takdir atau musibah alam biasa, melainkan sebagai "cermin diri" atas kegagalan manusia dalam menjaga etika terhadap lingkungan.

Melalui catatan reflektifnya, Anies mengutip ayat suci Al-Qur’an: "Telah nyata kerusakan di darat dan di laut karena ulah tangan manusia. (QS 30:41)."

Musibah Bukan Alamiah, Tapi Diperparah Pelanggaran Tata Ruang

Anies menjelaskan bahwa peristiwa seperti badai, hujan lebat, atau gunung meletus sudah berlangsung jutaan tahun. Namun, yang mengubahnya menjadi bencana mematikan adalah ulah tangan manusia.

"Kita memperparah dan mengubahnya menjadi bencana ketika kita memperlakukan alam tanpa etika. Tata ruang dilanggar, hutan ditebang habis, pesisir dicemari, habitat satwa dihancurkan," tulis Anies.

Ia menegaskan bahwa kerusakan yang terjadi adalah hasil dari pilihan kolektif yang dimulai dari tingkat kebijakan:

  1. Kebijakan yang lemah: Mengabaikan analisis risiko lingkungan.
  2. Pengawasan yang longgar: Membiarkan aturan dilanggar.
  3. Kepentingan Jangka Pendek: Mendahulukan keuntungan sesaat yang hanya dinikmati segelintir orang.

Desakan 'Tobat Ekologis': Mengembalikan Batas Serakah

Menyikapi kondisi ini, Anies mengingatkan kembali pentingnya Tobat Ekologis. Konsep yang juga digaungkan oleh Paus Fransiskus ini adalah seruan untuk mengakui "dosa kolektif" pada bumi dan segera mengubah cara hidup serta cara negara mengelola kekuasaan.

Ia mengajak publik untuk jujur, bahwa saat ini Indonesia terpaksa harus hidup berdampingan dengan bencana. Kondisi iklim sudah terlanjur berubah dan bentang alam telah banyak terluka. Oleh karena itu, langkah terbaik saat ini adalah:

"Kita perlu mengakui bahwa kerusakan ini adalah hasil pilihan kolektif... [Tobat ekologis] adalah upaya yang harus kita jalankan untuk mengembalikan batas. Batas serakah, batas abai, batas melanggar aturan."

Peringatan Keras: Bumi Tidak Butuh Manusia

Dalam bagian penutup yang filosofis, Anies memberikan pandangan yang tegas dan provokatif:

"Ini mungkin unpopular opinion: bumi tidak peduli pada kita, dan bumi tidak butuh kita peduli padanya. Bumi akan terus berputar, dengan atau tanpa manusia. Yang sedang terancam punah bukanlah planetnya, tapi keberlangsungan hidup kita sendiri."

Oleh karena itu, kepedulian pada bumi harus didasari oleh kebutuhan manusia sendiri. Anies mendesak agar perbaikan dilakukan melalui tata kelola yang transparan, penegakan hukum yang tegas, dan mendidik masyarakat untuk mitigasi bencana secara serius.



0/Post a Comment/Comments