ANKARA, Wartanusantara.id – Hubungan Indonesia dan Turki memasuki babak baru yang sangat serius. Untuk pertama kalinya, kedua negara menggelar pertemuan tingkat tinggi dengan format "2+2" di Ankara, Turki.
Pertemuan strategis ini mempertemukan empat tokoh kunci: Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin dan Menteri Luar Negeri RI Sugiono, duduk satu meja dengan Menteri Pertahanan Turki Yaşar Güler serta Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan.
Hasilnya? Bukan sekadar janji manis. Menhan Sjafrie menegaskan komitmen konkret untuk membawa teknologi militer tingkat tinggi ke Tanah Air.
1. Incar Teknologi Jet Tempur
Poin paling menarik dari pertemuan ini adalah pernyataan Menhan Sjafrie mengenai fokus kerja sama masa depan. Tidak tanggung-tanggung, Indonesia membidik penguasaan teknologi dirgantara mutakhir.
"Dalam kerangka ini, kerja sama teknologi maju akan diwujudkan dan teknologi jet tempur juga akan termasuk di dalamnya. Kami ingin memulai kerja sama ini secepat mungkin," tegas Sjafrie usai pertemuan.
Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia tidak hanya puas dengan pembelian alutsista jadi, tetapi mengejar kemandirian produksi pesawat tempur melalui transfer teknologi dari Turki yang kini sukses mengembangkan jet tempur generasi ke-5, KAAN.
2. Perjanjian Pertahanan & Kelompok Kerja Bersama
Komitmen "2+2" ini tidak akan berhenti di ruang rapat. Kedua negara sepakat untuk segera memformalkan hubungan ini dalam sebuah Perjanjian Kerja Sama Pertahanan Bilateral.
Sjafrie menjelaskan bahwa proyek-proyek ini akan bersifat timbal balik (reciprocal)—artinya dikerjakan baik di Indonesia maupun di Turki. Untuk merealisasikannya, sebuah Kelompok Kerja Bersama (Joint Working Group) akan segera dibentuk dan mulai bekerja dalam waktu dekat.
3. SDM Militer & Misi Perdamaian (Gaza)
Selain alutsista, fokus kerja sama juga menyasar "otak" di balik senjata, yaitu Sumber Daya Manusia (SDM). Program pendidikan dan pelatihan militer bersama akan ditingkatkan untuk mendongkrak profesionalisme TNI.
Di panggung global, Menhan Sjafrie dan Menlu Sugiono juga satu suara dengan Turki terkait isu kemanusiaan di Gaza, Palestina. Kedua negara sepakat mendorong pembentukan dan penguatan pasukan penjaga perdamaian sebagai kontribusi nyata bagi stabilitas dunia.
Kilas Balik: Bukti Mesranya Militer RI-Turki
Ambisi Menhan Sjafrie untuk menggarap teknologi jet tempur bukan tanpa dasar. Sebelumnya, kolaborasi pertahanan RI-Turki telah melahirkan produk nyata dan penjajakan strategis yang disegani dunia:
- Medium Tank "Harimau" (Kaplan MT): Sukses diproduksi bersama oleh PT Pindad dan FNSS Turki. Tank ini didesain khusus untuk medan tropis dan kini sudah operasional memperkuat Kavaleri TNI AD.
- Drone Tempur ANKA: Indonesia telah meneken kontrak pengadaan 12 unit drone canggih dari Turkish Aerospace Industries (TAI). Pembelian ini paket lengkap, mencakup pelatihan, logistik, dan alih teknologi.
- Rudal Balistik Taktis "Bora" (Khan): Indonesia juga melirik sistem peluru kendali jarak jauh buatan Roketsan. Di Turki, rudal ini dikenal dengan nama Bora, sementara versi ekspornya bernama Khan. Sistem ini sangat strategis untuk meningkatkan kemampuan artileri medan dan daya getar (deterrence effect) pertahanan Indonesia.
Sumber:
Anadolu Agency (AA): Menhan RI Sjafrie dorong kerja sama pertahanan strategis dengan Turkiye
