Pendahuluan: Harmoni di Bulan Suci
Bulan Ramadan adalah momen umat Islam berbondong-bondong meramaikan masjid untuk salat Tarawih. Tapi, coba bayangkan kamu datang ke sebuah masjid, namun bangunan yang menyambutmu di bagian depan adalah sebuah menara bata merah yang bentuknya persis seperti Candi Majapahit atau Bale Kulkul di Bali.
Itulah pemandangan magis yang akan kamu temui di Masjid Menara Kudus, Jawa Tengah.
Bagi sebagian orang zaman sekarang, arsitektur ini mungkin terlihat aneh. Namun, di balik tumpukan bata merah itu, tersimpan strategi dakwah paling jenius dan penuh kedamaian dari Ja'far Shadiq, atau yang lebih kita kenal sebagai Sunan Kudus.
Mari kita bedah bagaimana arsitektur bisa menjadi bahasa cinta dan toleransi di Nusantara!
1. Pendekatan Kultural: Akulturasi, Bukan Invasi
Saat Sunan Kudus mulai berdakwah di wilayah Tajug (sekarang Kudus) pada abad ke-16, mayoritas masyarakat setempat memeluk agama Hindu dan Buddha.
Baca juga 👉 Sejarah Kolak
Alih-alih merobohkan tempat ibadah lama atau memaksa masyarakat pindah agama, Sunan Kudus memilih jalan kebudayaan. Beliau membangun menara masjid dengan arsitektur corak Hindu-Jawa. Tujuannya sangat psikologis: agar masyarakat lokal tidak merasa asing atau terancam dengan kehadiran Islam. Mereka diundang untuk datang, melihat, dan akhirnya berdialog dengan nyaman.
2. Larangan Menyembelih Sapi: Empati Tingkat Tinggi
Inilah salah satu kebijakan Sunan Kudus yang sangat revolusioner. Dalam agama Hindu, sapi adalah hewan yang sangat disucikan.
Baca juga 👉Soto Nusantara (Soto Kudus)
Untuk menghormati perasaan umat Hindu di sana, Sunan Kudus mengeluarkan larangan keras bagi pengikutnya untuk menyembelih sapi, baik untuk konsumsi sehari-hari maupun saat Idul Adha (diganti dengan kerbau atau kambing). Kebiasaan memakan daging kerbau (seperti Soto Kudus yang khas itu) bahkan masih bertahan hingga hari ini!
Ini adalah bentuk sikap saling menolong dan menjaga perasaan sesama manusia, bukti nyata pengamalan Bhinneka Tunggal Ika jauh sebelum negara ini merdeka.
3. Gapura Paduraksa: Pintu Masuk Penyatuan
Jika kamu masuk ke dalam area masjid, kamu akan melewati gerbang berbentuk Gapura Paduraksa (gerbang beratap) dan Lawang Dwi Purwa (pintu kembar).
Dalam tradisi Hindu-Jawa, gapura semacam ini adalah tempat transisi dari area duniawi menuju area suci. Sunan Kudus tetap mempertahankan elemen ini untuk mengajarkan filosofi bahwa saat memasuki masjid, seseorang harus meninggalkan urusan duniawinya dan fokus menghadap Sang Pencipta.
Kesimpulan: Monumen Toleransi Abadi
Masjid Menara Kudus bukan sekadar tempat ibadah. Ia adalah monumen hidup yang mengajarkan kita bahwa Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang elegan, menghargai tradisi lokal, dan mengedepankan dialog.
Kisah ini adalah sarana pendidikan karakter yang sempurna. Perbedaan keyakinan bukanlah alasan untuk bermusuhan, melainkan kesempatan untuk saling memahami.
Jadi, kalau ada kesempatan Jelajah Nusantara ke Jawa Tengah, pastikan singgah ke sini untuk melihat langsung bukti kebesaran toleransi nenek moyang kita!
📚 Sumber Referensi Kredibel
- Agus Sunyoto. Atlas Wali Songo. (Buku referensi utama sejarah penyebaran Islam).
- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Situs Cagar Budaya: Masjid Menara Kudus.
