Bukan Sekadar Baju Tarawih! Menguak Sejarah Sarung Sebagai Simbol Perlawanan Ulama Mengusir Penjajah


Pendahuluan: Identitas di Balik Selembar Kain

Wartanusantara.id - Setiap bulan Ramadan tiba, masjid dan musala di seluruh penjuru negeri pasti dipenuhi oleh lautan kain bermotif kotak-kotak atau batik. Ya, Sarung adalah dresscode wajib dan "seragam kebesaran" pria di Indonesia saat salat Tarawih.

Banyak yang mengira sarung hanyalah pakaian santai, baju tidur, atau sekadar penutup aurat yang praktis. Namun, tahukah kamu? Selembar kain sarung ini dulunya ditakuti oleh pemerintah kolonial Belanda.

Di masa penjajahan, memakai sarung bukan sekadar urusan fashion atau ibadah, melainkan sebuah deklarasi perang dan perlawanan budaya. Mari kita bedah sejarah heroik di balik gulungan sarung di pinggangmu!

1. Dari Yaman Menuju Nusantara

Sebelum membahas perlawanannya, kita harus tahu dulu dari mana asalnya. Kain sarung sebenarnya bukan produk asli Nusantara. Sejarah mencatat sarung berasal dari Yaman, Timur Tengah, yang di sana dikenal dengan sebutan Futah.

Kain ini dibawa oleh para pedagang Arab dan Gujarat ke Nusantara pada abad ke-14. Karena bahannya yang sejuk dan sangat pas dengan iklim tropis Indonesia, sarung dengan cepat diadaptasi oleh masyarakat pesisir dan menjadi pakaian sehari-hari yang nyaman.

2. Jas Belanda vs Sarung Santri: Perang Simbolik

Di era kolonial, pemerintah Hindia Belanda membawa budaya Barat yang sangat kental. Kaum priyayi dan bangsawan yang bekerja untuk Belanda mulai diwajibkan (atau terpengaruh) untuk memakai setelan jas, dasi, dan celana panjang (pantalon). Tujuannya jelas: menunjukkan "kelas sosial" bahwa budaya Barat lebih beradab dan modern.

Melihat fenomena ini, para ulama Nusantara mengambil sikap tegas. Mereka menolak budaya kolonial tersebut dengan cara tetap konsisten mengenakan Sarung, Baju Koko, dan Peci Hitam.

Salah satu tokoh yang paling gigih menjadikan sarung sebagai simbol perlawanan adalah KH. Abdul Wahab Hasbullah (salah satu pendiri NU). Beliau pernah dengan berani datang ke pertemuan resmi pemerintah kolonial dengan hanya mengenakan sarung, sebagai bentuk penolakan halus namun tajam terhadap hegemoni budaya penjajah.

3. Nasionalisme Jalur "Fashion"

Bagi para santri dan pejuang kemerdekaan di akar rumput, memakai celana panjang ala Belanda dianggap sebagai bentuk "menyerupai penjajah".

Sarung kemudian berevolusi. Ia bukan lagi sekadar pakaian salat, tapi berubah menjadi identitas Nasionalisme Islam Nusantara. Dengan memakai sarung, seorang pemuda secara tidak langsung mendeklarasikan: "Saya Muslim, saya orang Indonesia, dan saya menolak tunduk pada budaya kolonial!"

Sikap teguh mempertahankan identitas lokal ini adalah embrio dari rasa persatuan dan kesatuan yang nantinya meresap kuat menjadi nilai-nilai kebangsaan kita.

Sama halnya dengan Baju Koko yang merupakan warisan akulturasi (baca sejarahnya di sini), Sarung juga menjadi elemen penting pakaian Muslim Nusantara.

Kesimpulan: Banggalah Memakainya!

Sejarah sarung membuktikan bahwa perlawanan mengusir penjajah tidak melulu menggunakan bambu runcing atau senapan, tapi juga bisa melalui kebanggaan mempertahankan identitas budaya.

Jadi, nanti malam saat kamu menggulung sarung di pinggang untuk berangkat Tarawih, busungkan dadamu sedikit. Kamu sedang memakai pakaian yang pernah membuat penjajah gemetar!

📚 Sumber Referensi Kredibel

  1. Lubis, Nina H. Sejarah Kebudayaan Islam Nusantara.
  2. Ricklefs, M.C. Sejarah Indonesia Modern 1200–2004. (Membahas hegemoni budaya kolonial dan perlawanan kultural).

0/Post a Comment/Comments