Plot Twist Sejarah: "Habis Gelap Terbitlah Terang" RA Kartini Ternyata Terjemahan dari Ayat Al-Quran?

(Gemini AI)

Pendahuluan: Misteri di Balik Judul Buku Legendaris

Siapa yang tidak tahu buku "Habis Gelap Terbitlah Terang"? Kumpulan surat RA Kartini yang dibukukan oleh J.H. Abendanon (dengan judul asli bahasa Belanda: Door Duisternis tot Licht) ini selalu diajarkan di sekolah sebagai simbol emansipasi wanita Indonesia.

Tapi, tahukah kamu ada plot twist sejarah yang sangat epik di balik frasa legendaris tersebut?

Banyak sejarawan dan ulama Nusantara meyakini bahwa kalimat itu bukanlah sekadar pepatah puitis. Kalimat tersebut sebenarnya adalah intisari dari ayat suci Al-Quran, tepatnya Surat Al-Baqarah ayat 257 (Minaz Zulumati Ilan Nuur / Dari Kegelapan Menuju Cahaya).

Bagaimana seorang Kartini yang hidup di lingkungan feodal dan kolonial bisa menemukan esensi ayat tersebut? Semuanya bermula dari sebuah pertemuan bersejarah dengan ulama besar Tanah Jawa. Mari kita bedah kisahnya!

1. Kegelisahan Kartini: Membaca Tanpa Paham Maknanya

Kartini adalah sosok pemikir yang kritis. Dalam beberapa suratnya, ia sempat mencurahkan kegelisahannya tentang cara orang beragama di masa itu. Ia dipaksa membaca Al-Quran dalam bahasa Arab, namun tidak ada yang mengajarinya apa arti dan makna di balik bacaan tersebut.

Kartini pernah menulis keluh kesahnya: "Mungkinkah aku mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh mengerti apa maknanya?" Bagi Kartini, agama seharusnya menjadi cahaya yang mencerahkan akal budi, bukan sekadar hafalan buta yang membelenggu pikiran.

2. Pertemuan Menggetarkan di Demak

Jawaban atas kegelisahan Kartini akhirnya datang saat ia diajak pamannya (Bupati Demak) menghadiri sebuah pengajian. Di sana, yang memberikan ceramah adalah ulama kharismatik asal Semarang, yaitu Kyai Sholeh Darat (guru dari KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan).

Saat itu, Kyai Sholeh Darat sedang menafsirkan Surat Al-Fatihah. Mendengar penjelasan yang begitu gamblang dan masuk akal dalam bahasa Jawa, Kartini terkesima. Untuk pertama kalinya, ia memahami makna kitab sucinya sendiri.

Setelah pengajian, Kartini menemui sang Kyai dan memohon agar seluruh isi Al-Quran diterjemahkan agar bisa dipahami oleh bangsanya.

3. Tafsir Faidh ar-Rahman dan Perlawanan Huruf Pegon

Menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa lokal pada masa penjajahan Belanda adalah hal yang sangat terlarang dan berisiko tinggi. Belanda takut jika pribumi memahami Al-Quran, semangat perlawanan (jihad) akan bangkit.

Namun, Kyai Sholeh Darat mengambil langkah berani. Beliau menulis tafsir Al-Quran berbahasa Jawa, namun disandikan menggunakan Huruf Arab Pegon (huruf Arab namun dibaca dengan bahasa Jawa). Kitab tafsir ini diberi nama Faidh ar-Rahman.

Sama heroiknya dengan ulama yang menjadikan sarung sebagai simbol perlawanan (baca di sini), Kyai Sholeh Darat melawan hegemoni Belanda lewat literasi Arab Pegon.

Kyai Sholeh Darat kemudian menghadiahkan juz pertama kitab tafsir tersebut kepada Kartini sebagai kado pernikahannya.

4. Lahirnya "Minaz Zulumati Ilan Nuur"

Mempelajari tafsir dari Kyai Sholeh Darat membuat pikiran Kartini terbuka lebar. Ia sangat terkesan dengan Surat Al-Baqarah ayat 257 yang berbunyi:

"Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)." (Minaz Zulumati Ilan Nuur).

Frasa "Dari Kegelapan Menuju Cahaya" inilah yang terus-menerus diulang Kartini dalam surat-suratnya kepada sahabat-sahabat Belandanya (Door Duisternis tot Licht), yang kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Armijn Pane menjadi: Habis Gelap Terbitlah Terang.

Kesimpulan: Emansipasi Spiritual

Kisah ini menjadi bukti bahwa perjuangan Kartini bukan sekadar urusan kesetaraan gender di ranah sosial, melainkan sebuah lompatan emansipasi spiritual.

Pendidikan karakter yang diwariskan Kartini dan Kyai Sholeh Darat mengajarkan kita bahwa literasi dan pemahaman agama yang benar adalah kunci utama untuk keluar dari kegelapan kebodohan. Di bulan Ramadan yang juga merupakan bulan diturunkannya Al-Quran ini, mari kita renungkan kembali: sudahkah kita membaca kitab suci dengan memahaminya, atau masih sekadar mengeja aksaranya saja?

📚 Sumber Referensi Kredibel

  1. Faqihuddin Abdul Kodir. Perempuan (Bukan) Makhluk Kelas Dua. (Membahas narasi Kartini dan Kyai Sholeh Darat).

  2. Surat-Surat Kartini. Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang), terjemahan Armijn Pane.

0/Post a Comment/Comments