Wartanusantara.id - Kalau kita membayangkan sebuah masjid peninggalan sejarah yang megah, hal pertama yang terlintas di kepala biasanya adalah bangunan dengan kubah melengkung yang indah. Tapi, bagaimana jika salah satu masjid tertua dan paling bersejarah di Nusantara justru tidak memiliki kubah sama sekali?
Selamat datang di Masjid Agung Demak. Berdiri kokoh sejak abad ke-15, masjid ini bukan sekadar tempat ibadah biasa. Bangunan ini adalah saksi bisu bagaimana para Wali Songo menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa dengan cara yang sangat elegan: merangkul budaya lokal, bukan menghapusnya. Mari kita napak tilas ke pusat peradaban Kesultanan Demak dan membedah pesona akulturasi budayanya yang luar biasa.
1. Mengapa Atapnya Tumpang, Bukan Kubah?
Berbeda dengan arsitektur masjid Timur Tengah, Masjid Agung Demak mengadopsi gaya Atap Tajug tumpang tiga yang kental dengan nuansa bangunan suci era Hindu-Buddha peninggalan Majapahit. Pemilihan bentuk ini bukan tanpa alasan. Para Wali Songo dengan cerdas menggunakan pendekatan kultural agar masyarakat Jawa saat itu tidak merasa asing dengan kehadiran Islam.
Di balik bentuk atap bersusun tiga tersebut, tersimpan filosofi Islam yang sangat mendalam. Tiga tingkatan atap ini melambangkan tiga pijakan utama bagi seorang muslim, yaitu Iman, Islam, dan Ihsan. Sebuah pesan edukasi yang secara visual menunjukkan bahwa Islam masuk ke Nusantara dengan penuh kedamaian dan sangat menghargai tradisi setempat.
2. Misteri Tiang Penyangga (Saka Guru) dan Pecahan Kayu Sunan Kalijaga
Masuk ke bagian dalam masjid, kita akan disambut oleh empat tiang kayu raksasa yang menopang bangunan utama, atau yang dikenal dengan sebutan Saka Guru. Konon, keempat tiang penyangga ini dibangun oleh empat wali yang berbeda: Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, dan Sunan Kalijaga.
Satu tiang yang paling ikonik adalah Saka Tatal buatan Sunan Kalijaga. Berbeda dari tiga tiang lainnya yang terbuat dari kayu utuh, tiang ini tersusun dari kepingan atau serpihan kayu (tatal) sisa yang diikat menjadi satu kesatuan yang kokoh. Saka Tatal ini sering dimaknai sebagai simbol persatuan; bahwa meskipun masyarakat Nusantara terdiri dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda dan terpecah-pecah, ketika bersatu dalam satu ikatan yang kuat, akan mampu menopang bangunan peradaban yang besar.
3. Pintu Bledeg (Pintu Petir) dan Jejak Ki Ageng Selo
Salah satu peninggalan paling menarik di Masjid Agung Demak adalah pintu utamanya yang dihiasi ukiran rumit berbentuk kepala hewan mitologi. Pintu ini dikenal dengan nama Pintu Bledeg atau Pintu Petir.
Menurut cerita rakyat yang berkembang, ukiran pada pintu tersebut dibuat oleh Ki Ageng Selo, seorang tokoh sakti yang konon berhasil "menangkap petir" yang menyambar saat ia sedang bertani. Petir yang mewujud dalam wujud naga itu kemudian diabadikan dalam bentuk ukiran kayu. Adanya motif naga ini kembali menegaskan terjadinya akulturasi budaya yang harmonis antara seni ukir Jawa pra-Islam dengan fungsi bangunan Islam.
Kesimpulan: Warisan Demak untuk Nusantara
Masjid Agung Demak lebih dari sekadar bangunan tua. Ia adalah tonggak sejarah berdirinya kerajaan Islam pertama di Jawa dan sempat menjadi pusat jaringan intelektual Islam masa lampau. Mengunjungi masjid ini ibarat membuka lembaran buku sejarah yang mengajarkan kita tentang toleransi, adaptasi, dan kekayaan budaya Nusantara yang tak ternilai harganya.
Referensi & Sumber Bacaan:
- Sunyoto, Agus. (2016). Atlas Wali Songo: Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah. Tangerang Selatan: Pustaka IIMaN.
- Tjandrasasmita, Uka. (2009). Arkeologi Islam Nusantara. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
- Ashadi. (2017). Arsitektur Masjid Wali Songo. Jakarta: Arsitektur UMJ Press.
- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Data Cagar Budaya Nasional: Masjid Agung Demak.
