Bukan Oxford atau Bologna: Mengenal Fatimah Al-Fihri, Perempuan Muslimah Pendiri Universitas Pertama di Dunia


Wartanusantara.id - 
Jika Anda bertanya, "Di manakah universitas tertua di dunia?", banyak orang mungkin akan langsung menjawab Universitas Bologna di Italia (berdiri 1088 M) atau Universitas Oxford di Inggris (berdiri 1096 M). Namun, catatan sejarah dunia—bahkan diakui oleh UNESCO dan Guinness World Records—berkata lain.

Jauh sebelum universitas-universitas di Eropa berdiri, pada tahun 859 M, sebuah institusi pendidikan tinggi telah lahir di Fes, Maroko. Menariknya, universitas ini didirikan bukan oleh penguasa atau sultan, melainkan oleh seorang muslimah yang mengabdikan seluruh harta warisannya untuk ilmu pengetahuan. Namanya adalah Fatimah Al-Fihri.

1. Warisan yang Menjadi Cahaya Ilmu

Fatimah Al-Fihri lahir dari keluarga pedagang kaya yang hijrah dari Qayrawan (Tunisia) ke Fes (Maroko). Setelah ayah dan suaminya wafat, Fatimah dan saudara perempuannya, Mariam, menerima warisan yang sangat besar.

Alih-alih menggunakan harta tersebut untuk kemewahan pribadi, Fatimah memiliki visi yang jauh melampaui zamannya. Ia melihat kebutuhan masyarakat akan tempat ibadah dan pusat pembelajaran yang memadai. Maka, ia memutuskan untuk membangun Masjid dan Universitas Al-Qarawiyyin.

2. Puasa Sepanjang Pembangunan

Ada satu detail yang sangat mengharukan dari proses pembangunannya. Fatimah Al-Fihri bernazar untuk berpuasa setiap hari selama masa pembangunan masjid dan universitas tersebut, yang memakan waktu bertahun-tahun. Ia ingin memastikan bahwa setiap jengkal tanah dan bangunan tersebut dibangun dengan ketulusan dan keberkahan yang murni.

3. Peletak Dasar Sistem Akademik Modern

Universitas Al-Qarawiyyin bukan sekadar tempat mengaji. Institusi ini merupakan tempat pertama yang menerapkan sistem pemberian gelar akademik berdasarkan tingkat kelulusan.

Beberapa disiplin ilmu yang diajarkan di sini meliputi Al-Qur'an dan Fikih, sastra, matematika, astronomi, kedokteran, hingga filsafat. Yang luar biasa, Al-Qarawiyyin menjadi magnet intelektual dunia. Banyak ilmuwan besar—baik Muslim, Kristen, maupun Yahudi—yang menimba ilmu di sini. Salah satu yang paling terkenal adalah Paus Silvester II, yang kemudian memperkenalkan angka Arab dan konsep angka nol ke Eropa setelah belajar di Al-Qarawiyyin.

4. Inspirasi Toga dan Tradisi Kelulusan

Tahukah Anda mengapa wisudawan di seluruh dunia menggunakan pakaian toga berwarna hitam? Banyak sejarawan mencatat bahwa tradisi ini merupakan bentuk penghormatan terhadap pakaian para ulama dan ilmuwan di universitas-universitas Islam awal seperti Al-Qarawiyyin. Jubah hitam panjang tersebut melambangkan kewibawaan dan kematangan ilmu pengetahuan.

Kesimpulan

Fatimah Al-Fihri adalah bukti nyata bahwa dalam sejarah Islam, perempuan memiliki posisi sentral dalam membangun peradaban lewat jalur literasi. Universitas Al-Qarawiyyin masih berdiri tegak dan beroperasi hingga hari ini, menjadi saksi bisu bahwa wakaf yang dikelola dengan cerdas dan ikhlas akan terus membuahkan hasil bagi kemanusiaan, berabad-abad setelah pendirinya tiada.

Baca Juga Analisis Sejarah Menarik Lainnya: 

👉 [Diplomasi Ja'far bin Abi Thalib: Teknik Debat Lawan Amr bin Ash] 

👉 [Tenggelamnya Armada Portugis di Sunda Kelapa: Taktik Jenius Fatahillah] 

👉 [Masterclass Bisnis Abdurrahman bin Auf: Dari Nol Jadi Konglomerat]

Daftar Pustaka (Referensi Valid)

  1. Lulat, Y. G-M. (2005). A History of African Higher Education from Antiquity to the Present. Greenwood Publishing Group. (Menjelaskan status Al-Qarawiyyin sebagai universitas tertua di dunia).
  2. Al-Jazairi, S.E. (2005). The Golden Age and Decline of Islamic Civilisation. Bayeti Publications. (Membahas peran Fatimah Al-Fihri dan sistem pendidikan di Fes).
  3. UNESCO World Heritage Centre. Medina of Fez. (Dokumen resmi yang mengakui nilai historis Universitas Al-Qarawiyyin).

0/Post a Comment/Comments