Kepanikan di pasar uang ini sejalan dengan rontoknya bursa saham domestik. Berdasarkan pantauan pasar yang juga dilaporkan oleh RMOL.id, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau ambruk hingga 4 persen, menandakan terjadinya pelarian modal asing (capital outflow) secara masif dari pasar keuangan Indonesia.
Namun, krisis ini bukan sekadar angka merah di layar para pialang saham. Pelemahan Rupiah yang kian brutal ini membawa ancaman langsung yang siap mencekik perekonomian rakyat kecil. Jika Rupiah terus dibiarkan ambrol, berikut adalah dampak nyata yang akan segera dirasakan masyarakat:
1. Tsunami Harga Kebutuhan Pokok (Imported Inflation)
Dampak paling cepat dan menyakitkan dari mahalnya Dolar AS adalah lonjakan harga pangan. Indonesia masih sangat bergantung pada impor untuk berbagai komoditas dasar, seperti kedelai, gandum, bawang putih, hingga daging.
Ketika Rupiah melemah, biaya tebus barang dari luar negeri otomatis membengkak. Imbasnya, harga makanan sehari-hari masyarakat bawah—seperti tahu, tempe, roti, dan mi instan—dipastikan akan ikut meroket. Lonjakan harga (imported inflation) ini akan langsung menggerus daya beli masyarakat yang pendapatannya stagnan.
2. Ancaman Meroketnya Harga BBM dan Tarif Listrik
Beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dipastikan berdarah-darah untuk menahan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Harga minyak mentah dunia ditransaksikan dalam Dolar AS. Jika kurs terus bertengger di atas Rp18.000, pemerintah dihadapkan pada dua pilihan pahit: membiarkan defisit subsidi energi meledak tak terkendali, atau menaikkan harga BBM (baik subsidi maupun nonsubsidi) dan LPG 3 kg.
Jika opsi kedua yang diambil, ongkos logistik dan transportasi umum akan melonjak, yang pada akhirnya memicu efek domino kenaikan harga barang di seluruh penjuru negeri.
3. Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)
Sektor riil dan industri manufaktur dalam negeri saat ini sedang berada di ujung tanduk. Banyak pabrik di Indonesia—mulai dari tekstil, farmasi, hingga elektronik—yang bahan bakunya 50 hingga 80 persen berasal dari impor.
Dengan kurs Rp18.158 per USD, biaya produksi pabrik akan membengkak drastis. Jika perusahaan tidak mampu lagi menaikkan harga jual produk karena daya beli masyarakat yang lesu, langkah efisiensi paling kejam akan diambil: Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal untuk menyelamatkan arus kas perusahaan.
Kesimpulan
Ambruknya IHSG sebesar 4 persen dan jebolnya Dolar AS ke atas Rp18.100 adalah sinyal bahaya hilangnya kepercayaan pasar. Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) dituntut untuk segera melakukan intervensi darurat dan menenangkan pasar. Jika tidak, krisis finansial ini akan segera bermutasi menjadi krisis sosial di mana rakyat kelas menengah dan bawah menjadi korban pertamanya.
Sumber Referensi: Diolah dari laporan pasar RMOL.id (8 Juni 2026), pantauan pergerakan spot Rupiah, dan Analisis Ekonomi Redaksi.
