(Photo : Kompas/2018)
Pendahuluan: Di Ambang Kehancuran
Wartanusantara.id - Tahun 1998 adalah masa paling gelap bagi Partai Golkar. Seiring tumbangnya kekuasaan Orde Baru dan Presiden Soeharto, kemarahan publik memuncak. Golkar yang selama 32 tahun menjadi mesin politik penguasa, tiba-tiba menjadi sasaran amuk massa. Tuntutan yang menggema di jalanan sangat jelas: Bubarkan Golkar!
Di tengah badai krisis legitimasi dan ancaman pembubaran tersebut, tampillah sosok Ir. Akbar Tanjung mengambil alih pucuk pimpinan partai. Banyak pengamat politik saat itu memprediksi riwayat Golkar akan tamat. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Mari kita bedah manuver politik brilian seorang Akbar Tanjung, yang sukses mengubah partai yang hampir mati menjadi pemenang Pemilu 2004!
1. Modal Kuat: Kaderisasi dan Jaringan HMI
Akbar Tanjung bukanlah politisi karbitan. Sebelum terjun ke pusaran kekuasaan, ia adalah aktivis tulen yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) periode 1972-1974.
Latar belakang aktivisme inilah yang menempanya menjadi negosiator ulung dengan daya tahan politik yang luar biasa. Melalui jaringan alumni HMI (KAHMI) dan kemampuannya merangkul berbagai faksi, Akbar memiliki modal sosial yang kuat untuk mengkonsolidasikan kekuatan internal Golkar yang saat itu sedang tercerai-berai dan panik.
2. Manuver "Paradigma Baru" Partai Golkar
Menghadapi tuntutan pembubaran yang disuarakan oleh mahasiswa dan berbagai elemen reformasi, Akbar Tanjung merespons dengan strategi yang sangat taktis: Paradigma Baru.
Ia secara terbuka memohon maaf kepada rakyat atas kesalahan Golkar di masa lalu. Akbar memotong jalur komando militer (ABRI) dan birokrasi (Korpri) yang selama ini menjadi mesin utama Golkar, dan mengubah Golkar menjadi partai politik yang sepenuhnya mandiri. Ia melakukan konsolidasi hingga ke akar rumput, meyakinkan publik bahwa Golkar telah berubah dan siap beradaptasi dengan iklim demokrasi yang terbuka.
3. Sang Pemenang: Ketua DPR dan Kampiun Pemilu 2004
Langkah rekonsiliasi dan konsolidasi Akbar membuahkan hasil. Pada Pemilu 1999 (pemilu demokratis pertama era Reformasi), Golkar secara mengejutkan masih mampu bertahan di posisi kedua, dan Akbar Tanjung berhasil menduduki kursi Ketua DPR RI (1999-2004). Posisi ini membuatnya menjadi penyeimbang (check and balances) yang sangat kuat di pemerintahan.
Puncaknya terjadi pada Pemilu Legislatif 2004. Dengan mesin partai yang sudah pulih dan solid di bawah kepemimpinannya, Golkar berhasil menempati peringkat pertama, mengalahkan PDIP yang sebelumnya menjadi pemenang. Ini adalah masterclass dalam ilmu politik: membawa sebuah institusi dari jurang kehancuran menuju puncak kemenangan hanya dalam waktu enam tahun!
Kesimpulan: Ketangguhan Sang Politikus Ulung
Kisah Akbar Tanjung memberikan pelajaran mahal tentang ketahanan (resiliensi) dalam dunia politik. Di tengah tekanan yang luar biasa, kecerdasan strategis, ketenangan, dan kemampuan konsolidasi adalah kunci keselamatan. Sejarah ketatanegaraan Indonesia akan selalu mencatat namanya sebagai salah satu arsitek utama transisi demokrasi yang berhasil menjaga stabilitas sistem kepartaian.
Sumber Referensi Kredibel
- Tandjung, Akbar. (2007). The Golkar Way: Survival Partai Golkar di Tengah Turbulensi Politik Era Transisi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
- Tomsa, Dirk. (2008). Party Politics and Democratization in Indonesia: Golkar in the Post-Suharto Era. London: Routledge.
- Sitompul, Agussalim. (2002). Sejarah Perjuangan Himpunan Mahasiswa Islam (1947-1975). Jakarta: CV Misaka Galiza.
