Wartanusantara.id - Selama ratusan tahun, buku sejarah sering kali mengajarkan bahwa kerajaan-kerajaan di Nusantara jatuh karena taktik licik Devide et Impera (adu domba) yang dimainkan oleh bangsa Eropa. Namun, narasi itu runtuh berkeping-keping ketika kita membedah rekam jejak seorang penguasa dari wilayah timur Nusantara: Sultan Nuku dari Tidore.
Alih-alih menjadi korban, Sultan Nuku justru membalikkan keadaan. Beliaulah yang memainkan bidak catur geopolitik tingkat tinggi dengan mengadu domba dua negara adidaya Eropa pada masa itu (Inggris dan Belanda). Berkat kecerdasan strateginya, ia dijuluki The Lord of 72 Islands (Tuan dari 72 Pulau) dan mencetak rekor fantastis: tidak pernah kalah melawan penjajah seumur hidupnya.
Mari kita bedah taktik diplomasi dan militer tingkat dewa dari sang Sultan.
1. Menolak Tunduk pada Monopoli VOC
Kisah ini bermula pada akhir abad ke-18 ketika VOC (Belanda) mencoba mencampuri urusan internal Kesultanan Tidore dengan mengangkat sultan boneka yang mau tunduk pada aturan monopoli rempah-rempah. Nuku, yang merupakan pewaris sah takhta, menolak keras kelicikan tersebut.
Ia memilih menyingkir dari pusat keraton dan memimpin pasukan gerilya dari laut. Dengan karisma dan kemampuan diplomasinya, Nuku berhasil menyatukan kekuatan para raja-raja kecil di Papua, Halmahera, Seram, hingga Kepulauan Raja Ampat untuk melawan hegemoni Belanda.
2. Masterclass Geopolitik: Memanfaatkan Militer Inggris
Sultan Nuku sangat sadar bahwa menghadapi persenjataan militer Belanda yang modern tidak bisa hanya mengandalkan semangat juang dan senjata tradisional. Ia membutuhkan sekutu yang setara kuatnya. Di sinilah insting geopolitiknya bermain.
Melihat adanya rivalitas global antara Belanda dan Inggris (EIC/East India Company), Nuku mengirim utusan rahasia untuk melobi militer Inggris. Ia menawarkan aliansi dagang dan akses rempah-rempah dengan syarat: Inggris harus membantu armada laut Tidore menggempur benteng-benteng pertahanan Belanda di Maluku. Taktik adu domba ini sukses besar! Kapal-kapal perang Inggris bersedia menjadi "pelindung" sekaligus ujung tombak pasukan Sultan Nuku dalam menghancurkan monopoli Belanda.
3. Plot Twist: Menyingkirkan Inggris Secara Elegan
Jika Anda berpikir Sultan Nuku akhirnya tunduk dan menjadi boneka Inggris, Anda salah besar. Setelah benteng-benteng Belanda hancur dan pengaruh VOC lenyap dari Tidore pada tahun 1797, Sultan Nuku kembali dinobatkan sebagai Sultan Tidore yang sah.
Setelah tujuannya tercapai, Sultan Nuku secara perlahan dan elegan mulai membatasi akses Inggris. Ia menegaskan kedaulatan penuh Kesultanan Tidore dan menolak segala bentuk intervensi politik dari pihak Inggris. Inggris yang saat itu sedang sibuk dengan urusan kolonial di India dan Eropa, akhirnya menyadari bahwa mereka hanya "dimanfaatkan" oleh Sultan Nuku dan perlahan menyingkir dari wilayah tersebut.
Kesimpulan
Kisah Sultan Nuku adalah bukti empiris bahwa Nusantara pernah memiliki pemikir geopolitik kelas dunia. Kemampuannya membaca peta persaingan global, membangun aliansi, dan mengeksploitasi kelemahan musuh menjadikan Kesultanan Tidore merdeka seratus persen di masa kepemimpinannya. Bagi generasi muda, sejarah ini bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan pelajaran abadi tentang pentingnya kedaulatan, diplomasi cerdik, dan kemandirian bangsa.
Baca Juga Sejarah Epik Lainnya di Warta Nusantara:
👉 [Taktik "Double Agent" Teuku Umar: Prank Militer Terbesar Abad 19]
👉 [Disrupsi Ekonomi Mansa Musa: Crazy Rich Mali Abad ke-14]
👉 [R.M.P. Sosrokartono: "Dewa Bahasa" Nusantara, Kakak R.A. Kartini]
👉 [Diplomasi Cerdik Haji Agus Salim: Senjata Polyglot The Grand Old Man]
Daftar Pustaka (Referensi Valid Terverifikasi)
- Widjojo, Muridan. (2009). The Revolt of Prince Nuku: Cross-Cultural Alliance-making in Maluku, c.1780-1810. Leiden: Brill.
- Leirissa, R.Z. (1990). Masyarakat Halmahera dan Raja Jailolo: Studi tentang Sejarah Masyarakat Maluku Utara. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.
- Katoppo, Elvianus. (1984). Nuku: Perjuangan Kemerdekaan di Maluku Utara. Jakarta: Sinar Harapan.
