Wartanusantara.id - Dalam catatan sejarah perlawanan Nusantara, banyak pahlawan yang berasal dari kalangan bangsawan, ulama, atau raja. Namun, ada satu nama yang merangkak dari strata sosial paling bawah—seorang budak belian—yang sukses membuat kongsi dagang terkaya di dunia (VOC) gemetar ketakutan.
Namanya adalah Untung Surapati. Kisah hidupnya adalah plot twist paling brutal dan epik di abad ke-17. Dari seorang tahanan yang disiksa, ia menjelma menjadi ahli gerilya kota, komandan pasukan yang ditakuti, hingga sukses membantai perwira militer paling sombong dan elite milik Belanda.
Mari kita bedah rekam jejak from zero to hero sang buronan nomor satu VOC ini.
1. Budak Belian yang Membawa "Untung"
Lahir dengan nama Surawiroaji di Bali, ia dijual sebagai budak saat masih anak-anak kepada seorang perwira VOC di Batavia bernama E. Moor. Karena sejak anak ini datang karier dan kekayaan majikannya meroket tajam, ia diberi nama panggilan "Untung".
Namun, nasib baik itu tidak bertahan lama. Untung menjalin cinta terlarang dengan putri majikannya, Suzanne. Ketika hubungan itu ketahuan, ia disiksa dan dijebloskan ke penjara Batavia dengan hukuman berat. Di dalam jeruji besi inilah, mental petarungnya lahir. Untung berhasil mengorganisir sesama tahanan, menjebol penjara, dan melarikan diri ke hutan di sekitar Batavia.
2. Menjadi Buronan Paling Dicari di Pulau Jawa
Setelah kabur, Untung Surapati tidak lari sembunyi. Ia membentuk pasukan gerilya dari kalangan pelarian dan masyarakat kelas bawah yang tertindas. Pasukannya kerap melakukan sabotase terhadap konvoi logistik VOC dan mengacaukan keamanan Batavia.
Karena kelihaiannya menghindari penangkapan dan daya tempurnya yang mematikan, VOC sampai melabelinya sebagai buronan nomor satu. Namun, Untung Surapati terlalu cerdik. Ia memindahkan basis pasukannya ke timur dan menjalin hubungan taktis dengan Kesultanan Mataram yang saat itu dipimpin oleh Sunan Amangkurat II di Kartasura.
3. Tragedi Kartasura: Tumbangnya Arogansi Kapten Tack
Puncak kelam bagi VOC terjadi pada tahun 1686 di Kartasura. VOC mengirim perwira senior dan komandan pasukan elite paling mematikan mereka, Kapten François Tack, untuk menagih utang ke Mataram sekaligus menangkap Untung Surapati. Kapten Tack adalah jenderal arogan yang sebelumnya sukses menumpas pemberontakan Trunojoyo. Ia merasa menangkap Surapati hanyalah "urusan kecil".
Namun, ia masuk ke dalam perangkap mematikan. Dengan dukungan rahasia dari pasukan Mataram, Untung Surapati melakukan penyergapan (ambush) yang sangat terencana. Pasukan elite VOC dihancurkan dari berbagai sisi. Di tengah pertempuran sengit, Untung Surapati berhadapan langsung dengan Kapten Tack. Sang perwira sombong itu tewas dengan puluhan luka tikaman, membuat seluruh petinggi VOC di Batavia terguncang hebat dan menanggung malu yang tak terhapuskan.
4. Berubah Status: Dari Budak Menjadi Adipati
Setelah insiden berdarah Kartasura, Untung Surapati semakin tidak tersentuh oleh hukum VOC. Ia kemudian memindahkan pasukannya ke wilayah Jawa Timur dan diangkat menjadi penguasa Pasuruan dengan gelar Adipati Wiranegara. Sang mantan budak itu kini memimpin wilayahnya sendiri, membangun benteng pertahanan, dan terus menjadi duri dalam daging bagi Belanda hingga akhir hayatnya di tahun 1706.
Kesimpulan
Kisah Untung Surapati bukan sekadar dongeng balas dendam, melainkan manifestasi perlawanan rakyat akar rumput yang menolak dihancurkan oleh sistem kolonial. Keberaniannya membuktikan bahwa dengan taktik, kecerdasan lapangan, dan nyali yang tak kenal takut, sebuah arogansi militer penjajah dapat diruntuhkan. Kisah hidupnya adalah materi diskusi yang sangat relevan untuk memantik semangat pantang menyerah bagi generasi masa kini.
Baca Juga Sejarah Epik Lainnya di Warta Nusantara:
👉 [Sultan Nuku: Pakar Geopolitik Maluku yang Mengadu Domba Inggris dan Belanda]
👉 [Taktik "Double Agent" Teuku Umar: Prank Militer Terbesar Abad 19]
👉 [Disrupsi Ekonomi Mansa Musa: Crazy Rich Mali Abad ke-14]
Daftar Pustaka
- Ricklefs, M.C. (2001). A History of Modern Indonesia since c.1200. Stanford: Stanford University Press. (Buku referensi standar sejarah Indonesia yang mencatat secara rinci insiden penyerangan di Kartasura dan tewasnya Kapten Tack).
- de Graaf, H.J. (1987). Pembunuhan Kapten Tack di Kartasura. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. (Literatur spesifik yang membedah intrik politik Amangkurat II, VOC, dan pergerakan gerilya Untung Surapati).
- Kumar, Ann. (1976). Surapati, Man and Legend: A Study of Three Babad Traditions. Leiden: E.J. Brill. (Buku yang membandingkan sejarah Untung Surapati dari kacamata arsip Belanda dan naskah-naskah Babad lokal).
